News

Tanggapi Bahaya Perubahan Iklim, Kim Jong-un Desak Bawahannya Segera Bertindak

Persediaan pangan Korea Utara porak-poranda akibat topan dan kekeringan yang diikuti hujan monsun tahun ini.


Tanggapi Bahaya Perubahan Iklim, Kim Jong-un Desak Bawahannya Segera Bertindak
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. (Foto: REUTERS) ()

AKURAT.CO, Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un meminta para pejabatnya untuk menangani masalah pasokan pangan. Ia juga menyoroti bahaya perubahan iklim.

Dilansir dari BBC, topan tahun lalu berdampak buruk pada tanaman pangan penting, sedangkan kekeringan selama berminggu-minggu diikuti oleh hujan monsun yang lebat juga telah merusaknya tahun ini. Kim pun mengatakan perlunya tindakan untuk mengatasi iklim yang tidak normal. Ia juga meminta para pejabatnya untuk mengatasi kekeringan dan banjir.

Pernyataannya ini diungkapkan dalam pidatonya pada Kamis (2/9) di Politbiro partai yang berkuasa.

Menurut Kim, bahaya perubahan iklim semakin tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Untuk itu, perlu dilaksanakan tindakan segera.

Orang nomor 1 di Korea Utara itu juga menyerukan perbaikan infrastruktur pengelolaan banjir di negara tersebut.

Baca juga: Citra Satelit Ungkap Tentara Korut Bersiap untuk Parade Militer, Pamer Rudal Lagi?

"Pemulihan sungai, penghijauan untuk pengendalian erosi, pemeliharaan tanggul, dan proyek tanggul pasang harus diprioritaskan," perintahnya.

Terlepas dari kerusakan akibat bencana alam, ekonomi Korea Utara telah dihantam sanksi internasional serta penutupan perbatasan dan lockdown ketat untuk mencegah penyebaran Covid-19. Meski belum melaporkan kasus Covid-19, negara itu telah menutup perbatasannya dan memberlakukan lockdown. Penutupan perbatasan pun memengaruhi impor pentingnya dari China.

"Memperketat pencegahan epidemi merupakan tugas terpenting yang tak boleh dilonggarkan, bahkan dalam situasi saat ini," kata Kim, menurut media pemerintah.

Awal pekan ini, PBB mengatakan Korea Utara telah menolak tawaran hampir 3 juta dosis vaksin Covid-19. Menurut seorang juru bicara, negara tersebut meminta vaksin dialihkan ke negara-negara yang terdampak lebih parah, mengingat terbatasnya persediaan vaksin dunia.[]