Rahmah

Tanah Wakaf Apakah Boleh Dijual? Ini Jawaban MUI

Istilah wakaf dalam ajaran Islam dapat didefinisikan sebagai praktik sedekah harta secara permanen untuk hal-hal yang diperbolehkan dalam syariat agama.


Tanah Wakaf Apakah Boleh Dijual? Ini Jawaban MUI
Ilustrasi Hukum Islam (AKURAT.CO/Candra Nawa)

AKURAT.CO Istilah wakaf dalam ajaran Islam dapat didefinisikan sebagai praktik sedekah harta secara permanen untuk hal-hal yang diperbolehkan dalam syariat agama. Seperti mewakafkan tanah untuk yayasan tertentu yang bertujuan untuk memberikan kemaslahatan kepada umat. 

Akan tetapi, bagaimana hukumnya jika status wakaf ini dijualbelikan atau dihibahkan?

Menanggapi hal tersebut, seperti dikutip laman resmi MUI, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel Bidang Infokom Dr HM Ishaq Shamad MA mengatakan, tanah wakaf tidak boleh diperjualbelikan. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim (muttafaqun a’alaih) bahwa secara prinsip tanah wakaf itu tidak boleh dijualbelikan, tidak boleh dihibahkan, dan juga tidak boleh diwariskan.

baca juga:

Sebab di dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, dalam hal ini terutama UU RI No 41 Tahun 2004 tentang wakaf yang menyatakan, Pasal 3: wakaf yang sudah diikrarkan tidak dapat dibatalkan.

Kemudian disebutkan dalam Pasal 40: harta wakaf yang sudah diwakafkan dilarang: a. dijadikan jaminan; b. disita; c. dihibahkan; d. dijual; e. diwariskan; f. ditukar; atau g. dialihkan dalam bentuk pengalihan hak lainnya.

"Berdasarkan hadis dan teks undang-undang maka tanah wakaf yang Anda tanyakan di atas tidak boleh dijualbelikan, termasuk oleh wakifnya sendiri, baik untuk bertindak sebagai pembeli sekalipun, apalagi sebagai penjual, tidaklah dibenarkan (dilarang)," jelasnya.

Begitu juga perihal keprihatinan yang bersangkutan (wakif/pewakaf) atas “penelantaran” tanah wakaf yang telah dia serahkan kepada nazhir (penerima wakaf) yang bersangkutan bisa dicarikan solusinya. Antara lain dengan mengingatkan pihak nazhir supaya mengelola tanah itu dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya sebagaimana diamanatkan oleh syariat Islam dan undang-undang perwakafan. 

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Imran ayat 92 yang berbunyi:

لَنۡ تَنَالُوا الۡبِرَّ حَتّٰى تُنۡفِقُوۡا مِمَّا تُحِبُّوۡنَ ؕ وَمَا تُنۡفِقُوۡا مِنۡ شَىۡءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيۡمٌ

Lan tanaalul birra hattaa tunfiquu mimmaa tuhibbuun; wa maa tunfiquu min shai'in fa innal laaha bihii 'Aliim

Artinya: "Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui,". Wallahu A'lam Bishawab. []