News

Tampil di TV Rusia, Pensiunan Kolonel Patahkan Propaganda Kremlin Soal Perang Ukraina

Mikhail Khodarenok mengungkap situasi yang memburuk bagi Rusia, berbeda dengan Kremlin yang mengeklaim perang berjalan sesuai rencana.


Tampil di TV Rusia, Pensiunan Kolonel Patahkan Propaganda Kremlin Soal Perang Ukraina
Saat tampil di acara TV pemerintah Rusia, Mikhail Khodarenok memperingatkan kalau situasi perang di Ukraina akan menjadi lebih buruk bagi Rusia. (BBC)

AKURAT.CO, Media arus utama Rusia selama ini menayangkan pemandangan perang Ukraina yang sama sekali berbeda dengan yang ditayangkan media luar negeri. Mereka bahkan tak menyebutnya sebagai perang.

Namun, sebuah acara di TV pemerintah Rusia tiba-tiba menyiarkan tayangan langka. Ini menjadi sesuatu yang luar biasa dalam dunia pertelevisian.

Dilansir dari BBC, program tersebut bertajuk '60 Menit', acara bincang-bincang unggulan di TV pemerintah Rusia yang tayang 2 kali sehari. Diskusi di studio tersebut biasanya mempromosikan segala sesuatu yang sesuai garis Kremlin, termasuk tentang 'operasi militer khusus' Presiden Putin di Ukraina.

baca juga:

Kremlin pun masih mempertahankan klaim bahwa serangan Rusia berjalan sesuai rencana. Namun, pada Senin (16/5), tamu bernama Mikhail Khodarenok, seorang analis militer dan purnawirawan kolonel, melukiskan gambaran yang berbeda.

Ia memperingatkan kalau situasi jelas akan menjadi lebih buruk bagi Rusia. Pasalnya, Ukraina menerima bantuan militer tambahan dari Barat dan tentara Ukraina dapat mempersenjatai 1 juta orang.

"Keinginan untuk mempertahankan tanah air mereka [tentara Ukraina] sangat besar. Kemenangan akhir di medan perang ditentukan oleh semangat juang yang tinggi pasukan yang menumpahkan darah untuk ide-ide yang siap mereka perjuangkan.

"Masalah terbesar bagi situasi militer dan politik [Ukraina] adalah kita berada dalam isolasi politik total dan seluruh dunia menentang kita. Mau tak mau, kita harus mengakuinya. Kita harus menyelesaikan situasi ini.

"Situasinya tak bisa dianggap normal ketika ada koalisi 42 negara melawan kita, sementara sumber daya, militer-politik, dan militer teknis kita terbatas," ungkapnya.

Tamu-tamu lain di studi sontak terdiam. Bahkan, pembawa acara Olga Skabeyeva yang biasanya garang dan vokal dalam membela Kremlin justru tak angkat bicara.

Khodarenok sebenarnya telah mengutarakan hal ini. Ia menulis Tinjauan Militer Independen Rusia sebelum Moskow menyerang Ukraina. Dalam tulisannya, analis pertahanan itu mengkritik 'elang yang antusias dan burung kangkok yang tergesa-gesa' karena mengeklaim bahwa Rusia akan dengan mudah memenangkan perang melawan Ukraina.

Kesimpulannya saat itu: konflik bersenjata dengan Ukraina bukanlah kepentingan nasional Rusia.

Ditonton jutaan penonton, kritik melalui TV sama sekali berbeda dengan media cetak. Kremlin telah berusaha keras mengontrol lanskap informasi di sini. Mereka menutup sumber berita independen Rusia dan memastikan televisi, alat utama Rusia untuk membentuk opini publik, sesuai pesannya.

Sangat jarang mendengar analisis realistis tentang peristiwa di TV Rusia.

Itu langka, tetapi tak unik. Dalam beberapa pekan terakhir, pandangan kritis bermunculan di televisi Negeri Beruang Merah. Pada bulan Maret, di acara bincang-bincang TV populer lainnya, seorang pembuat film Rusia mengatakan kepada pembawa acara, "Perang di Ukraina melukiskan gambaran yang menakutkan. Dampaknya sangat menindas masyarakat kita."

Jadi, apa yang terjadi pada acara '60 Menit'? Apakah ini panggilan untuk bangkit yang spontan, tanpa settingan, tak terduga yang lolos dari jaring? Atau inikah ledakan realitas yang telah direncanakan sebelumnya untuk mempersiapkan mental publik Rusia pada berita negatif tentang kemunduran 'operasi militer khusus'?

Sulit untuk menjawabnya. Namun, seperti yang mereka katakan di televisi, "Pantau terus TV Rusia untuk sinyal lebih lanjut." []