News

Tamasya di Danau, Para Pejuang Taliban Naik Perahu Angsa Sambil Bawa Senjata hingga Granat 

Dalam foto-foto yang beredar, para anggota Taliban tampak asyik mengendarai perahu angsa berwarna-warni.


Tamasya di Danau, Para Pejuang Taliban Naik Perahu Angsa Sambil Bawa Senjata hingga Granat 
Pasukan Taliban menaiki perahu pedal berbentuk angsa warna-warni di Taman Nasional Band-e Amir di di Provinsi Bamyan (TWITTER/@Jake_Hanrahan)

AKURAT.CO  Aksi para pejuang Taliban yang berekreasi di danau ramai jadi perbincangan. Dalam foto-foto yang beredar, para anggota Taliban tampak asyik mengendarai perahu angsa berwarna-warni. Namun, tidak seperti warga pada umumnya, mereka mengayuh perahu pedal sembari menenteng senjata, bahkan granat.

Tamasya di Danau, Para Pejuang Taliban Naik Perahu Angsa Sambil Bawa Senjata hingga Granat  - Foto 1
Twitter/Jake_Hanrahan via NYPost

Seperti dalam salah satu foto viral yang dibagikan ke Twitter oleh reporter Inggris, Jake Hanrahan. Di foto itu, seorang pejuang Taliban terlihat berdiri di atas kapal sambil mengarahkan granat bertenaga roket. Oleh Daily Star, senjata itu tampaknya adalah peluncur granat RPG-9 buatan Rusia. Sementara foto-foto lain menunjukan sejumlah pejuang Taliban yang duduk di perahu sambil memegang sepucuk senjata serbu.

Menurut NYPost, para pejuang Taliban pada Sabtu (18/9) berada di Taman Nasional Band-e Amir di provinsi Bamiyan timur Afganistan. Taman Nasional Band-e Amir sendiri  merupakan serangkaian enam danau biru tua yang dipisahkan oleh bendungan alami yang terbuat dari travertine atau deposit mineral. Danau-danau tersebut terletak di pegunungan Hindu Kush di ketinggian sekitar 3.000 meter, di sebelah barat Buddha Bamiyan yang terkenal.

Danau itu disebutkan menjadi tempat yang relatif aman sebelum pengambilalihan Taliban pada bulan lalu. Di danau itu jugalah, lebih dari dua lusin pejuang Taliban bertamasya sembari menenteng senjata roket hingga senapan laras panjang. 

"Taman itu berfungsi sebagai ikon identitas orang-orang Afganistan dan pada dasarnya menjadi 'mercusuar stabilitas' selama tiga dekade kekacauan yang mereka alami," ungkap Alex Dehgan kepada CNN pada 2019 lalu. Dehgan dulunya adalah pendiri sekaligus direktur Program Masyarakat Konservasi Margasatwa Afganistan dan membantu menciptakan taman nasional pertama di negara tersebut.

Hal yang sama juga sempat diungkap James Willcox, pendiri perusahaan tur yang berbasis di Inggris, Untamed Borders. Kepada CNN, Willcox mengatakan bahwa dulu, membawa rombongan pengunjung ke Band-e Amir adalah tindakan yang cukup aman dilakukan.

"Setiap kali kami membawa orang (ke Band-e-Amir), mereka mengalami hari yang menyenangkan.

"Kesan kebanyakan orang tentang Afganistan adalah bahwa negara itu adalah gurun yang kering, penuh dengan perang, teror, kesengsaraan dan fundamentalisme. Semua hal itu memang ada, tetapi banyak hal lain juga ada… (seperti) Jenis kehidupan normal yang tidak dimuat di berita, tetapi terjadi di sekitar kita," kata Willcox kepada CNN saat itu.

Penguasa baru Afganistan telah melihat konflik yang berkembang dengan ISIS-K yang lebih ekstrem, yang memiliki benteng di provinsi Nangarhar timur. Ledakan setidaknya terjadi pada Sabtu di kota Jalalabad. Insiden itu menewaskan tiga orang, dan beberapa di antaranya adalah anggota Taliban.

Protes juga terjadi di seluruh negeri sebagai tanggapan atas larangan baru Taliban yang masih melarang anak perempuan kembali ke sekolah.[]