News

Taliban Letuskan Tembakan ke Udara untuk Bubarkan Demonstran Wanita

Taliban Letuskan Tembakan ke Udara untuk Bubarkan Demonstran Wanita
Puluhan wanita berunjuk rasa 2 hari menjelang peringatan 1 tahun Taliban merebut kekuasaan di Afganistan (NPR)

AKURAT.CO Pasukan keamanan Taliban meletuskan tembakan ke atas kepala para wanita yang menggelar aksi protes langka di Kabul, Afganistan, pada Sabtu (13/8). Namun, belum ada laporan yang diumumkan tentang korban.

Dilansir dari NPR, puluhan wanita berunjuk rasa 2 hari menjelang peringatan 1 tahun Taliban merebut kekuasaan di Afganistan. Dimulainya kembali kekuasaan Taliban pun mereka jadikan sebagai hari solidaritas perempuan Afganistan.

Para demonstran wanita berbaris di jalan utama Kabul sambil meneriakkan 'roti, pekerjaan, kebebasan', 'kami ingin partisipasi politik', dan 'tolak perbudakan'. Mereka juga menuntut masyarakat internasional untuk membantu mereka.

baca juga:

"Itu penting karena ini hampir ulang tahun pertama pemerintah Taliban dan kami ingin mengatakan bahwa kami tak menyetujui pemerintah ini. Setelah 1 tahun pemerintahan ini, tak ada perubahan situasi. Kami menunjukkan bahwa kami tak akan tinggal diam. Penting untuk menunjukkan kepada dunia bahwa warga Afganistan tak menerima ini. Kami akan menentang ketidakadilan," ucap seorang wanita muda yang enggan disebutkan namanya.

Saat para wanita berdemonstrasi, pasukan keamanan Taliban mulai merebut ponsel dan kamera para jurnalis Afganistan dan koresponden internasional pria. Mereka juga menyambar ponsel seorang anak lelaki bersepeda yang mencoba mengambil foto.

Setelah itu, dalam tindakan yang tampak sebagai langkah terkoordinasi, mereka meletuskan tembakan ke udara di atas para demonstran. Unjuk rasa itu pun langsung bubar. Sementara itu, selongsong peluru berserakan di seberang jalan.

Beberapa jurnalis ditahan dan sedikitnya 3 orang masih ditahan. Pasukan keamanan Taliban berusaha menemukan pemilik kamera yang mereka sita dengan mengirimkan foto barang tersebut ke grup WhatsApp.

Kembalinya Taliban ke tampuk kekuasaan mengakhiri 4 dekade konflik. Meski sebagian besar telah membuat negara itu aman, mereka juga secara drastis mengekang hak-hak perempuan. Sebagian besar anak perempuan di sekolah menengah dicegah untuk sekolah serta wanita dilarang bepergian sendiri dan dipersulit untuk bekerja.

Mereka juga menindak orang-orang yang mengkritik aturan mereka, yang sebagian besar adalah perempuan yang menuntut persamaan hak mereka.

Sementara itu, sanksi telah melumpuhkan ekonomi dan menjerumuskan negara itu ke dalam krisis kemanusiaan. Banyak warga Afganistan kelaparan. Kelompok bantuan utama dan organisasi HAM telah memohon kepada masyarakat internasional agar tak melupakan penderitaan rakyat biasa di Afganistan dan agar memungkinkan perdagangan berlanjut.[]