News

Taliban Larang Warga Afganistan Cukur Jenggot hingga Main Musik

Menurut Taliban, mencukur  jenggot dan memainkan musik adalah hal yang bertentangan atau tidak sejalan dengan syariah.


Taliban Larang Warga Afganistan Cukur Jenggot hingga Main Musik
Dalam aturannya, Taliban mengklaim dekrit mereka sejalan dengan hukum Islam. (Global Village Space)

AKURAT.CO  Tukang cukur di ibu kota Lashkar Gah, Provinsi Helmand sekarang dilarang mencukur jenggot pria dan memainkan musik di toko mereka. Ini karena menurut Taliban, mencukur  jenggot dan memainkan musik adalah hal yang bertentangan atau tidak sejalan dengan hukum syariah Islam.

Aturan itu dikeluarkan pada Minggu (26/9) oleh departemen kebajikan dan wakil yang dipimpin Taliban di Provinsi Helmand. Dalam pernyataannya itu, otoritas tegas menyatakan larangan soal cukur jenggot dan musik. Mereka juga menyebut adanya 'hukuman' bagi para pelanggar aturan. Belum jelas hukuman apa yang bisa dihadapi para tukang cukur jika mereka melanggar. Sementara Taliban hanya  menyebut 'akan ditangani secara syariah'.

"Segera diberitahukan bahwa mulai hari ini, kalian dilarang keras mencukur jenggot dan bermain musik di tempat pangkas rambut dan pemandian umum.

"Jika ada tempat pangkas rambut atau pemandian umum yang ditemukan mencukur jenggot atau memutar musik, mereka akan ditangani sesuai dengan prinsip syariah dan mereka tidak akan memiliki hak untuk mengeluh," kata otoritas setempat dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari CNN.

Baca juga: Jadi Target Taliban, 'Influencer' Afganistan Ramai-ramai Hapus Akun Media Sosial

Aturan cukur jenggot ini juga telah dikonfirmasi oleh warga setempat. Seorang warga Lashkar Gah bernama Bilal Ahmad kemudian mengaku kecewa dengan kebijakan ketat Taliban.

"Sejak saya mendengar (tentang larangan mencukur jenggot) saya patah hati. Ini adalah kota dan semua orang mengikuti cara hidup masing-masing, jadi mereka harusnya dibiarkan sendirian melakukan apa saja mereka inginkan," kata Bilal Ahmad, seorang warga Lashkar Gah, mengutip dari NPR. 

Pemilik pangkas rambut Jalaluddin, yang seperti banyak orang Afganistan hanya menggunakan satu nama, juga mengatakan hal tidak jauh berbeda. Dia berharap Taliban akan mempertimbangkan kembali tuntutan mereka.

"Saya meminta saudara-saudara Taliban kami untuk memberikan kebebasan kepada orang-orang untuk hidup seperti yang mereka inginkan, jika mereka ingin memangkas jenggot atau rambut mereka.

"Sekarang kami memiliki beberapa klien yang datang kepada kami, mereka takut, mereka tidak ingin memotong rambut atau jenggot mereka, jadi saya meminta mereka membiarkan orang bebas, jadi kami bisa menjalankan bisnis kami dan orang-orang dapat dengan bebas datang kepada kami," ujar Jalaluddin.

Pemilik pangkas rambut lainnya, Sher Afzal, juga mengatakan bahwa keputusan Taliban itu telah merugikan pendapatan.

"Jika seseorang datang untuk potong rambut, mereka hanya akan kembali kepada kami setelah 40 hingga 45 hari, jadi seperti bisnis-bisnis lainnya, bisnis kami juga akan terpengaruh," katanya.

Dalam era pemerintahan sebelumnya, Taliban juga menuntut pria untuk menumbuhkan jenggot. Barulah, setelah Taliban digulingkan dari kekuasaan setelah invasi pimpinan AS tahun 2001, warga Afganistan mulai mempraktikkan cukur atau merapikan jenggot, dan ini kemudian menjadi tren di negara tersebut.

Kini, Taliban yang kembali menguasai Afganistan terlihat mulai kembali menerapkan interpretasi Islam mereka yang ketat. Sementara diketahui, dalam janji-janjinya saat mulai menduduki Kabul, kelompok itu berkomitmen untuk membentuk pemerintahan yang  inklusif dan lebih modern. 

Ada banyak laporan muncul soal tindakan keras Taliban lainnya. Di antaranya termasuk penahanan dan penyerangan terhadap wartawan; penggunaan cambuk terhadap perempuan yang mengambil bagian dalam protes; hingga yang terbaru pelaksanaan eksekusi gantung pada empat tersangka penculikan di alun-alun kota barat Herat.

Selain itu, Taliban juga belum kunjung mengizinkan wanita dan anak perempuan untuk melanjutkan pendidikan menengah. Dalam pengumumannya, mereka hanya menyebut 'secepatnya' tanpa memberi tahu kepastian kapan anak-anak perempuan bisa kembali ke kelas. Sementara, anak laki-laki Afganistan sudah lebih dulu dipanggil untuk kembali ke bangku sekolah.