News

Taliban Janji Semua Anak Perempuan Afganistan Akan Kembali ke Sekolah pada Maret

Sejak pengambilalihan Taliban, anak perempuan di sebagian besar Afganistan tidak diizinkan kembali ke sekolah setelah kelas 7.


Taliban Janji Semua Anak Perempuan Afganistan Akan Kembali ke Sekolah pada Maret
Selama pemerintahan Taliban sebelumnya Para perempuan di Afganistan dijauhkan dari pendidikan, pekerjaan dan kehidupan publik (Petros Giannakouris/AP)

AKURAT.CO  Sekolah perempuan di seluruh Afganistan diharapkan akan dibuka kembali pada akhir Maret mendatang. Hal ini diungkap oleh juru bicara Taliban dan wakil menteri kebudayaan dan informasi, Zabihullah Mujahid kepada Associated Press. 

Berbicara kepada wartawan pada hari Sabtu (15/1), Mujahid mengonfirmasi bahwa departemen pendidikan Taliban akan membuka ruang kelas untuk semua anak perempuan dan wanita pada Tahun Baru Afganistan, yang dimulai pada 21 Maret.

Pernyataan Mujahid itu sekaligus menjadi jadwal pertama untuk dimulainya kembali sekolah menengah untuk anak perempuan sejak Taliban merebut kembali kekuasaan pada pertengahan Agustus lalu.

baca juga:

Diketahui, meski Taliban belum secara resmi melarang pendidikan anak perempuan, tetapi para pejuangnya telah menutup sekolah menengah anak perempuan. Mereka juga melarang perempuan masuk ke universitas-universitas negeri di beberapa bagian negara itu.

Sejak pengambilalihan Taliban, anak perempuan di sebagian besar Afganistan tidak diizinkan kembali ke sekolah setelah kelas 7. Dilaporkan oleh Al Jazeera bahwa anak perempuan yang lebih tua dari kelas 7 diizinkan kembali ke ruang kelas di hanya sekitar selusin provinsi. Sementara diketahui, Afganistan total memiliki 34 provinsi di negara itu.

Karenanya, upaya untuk 'membalikkan' keputusan itu terus menjadi isu penting dan terus menjadi salah satu tuntutan utama aktivis hak-hak perempuan dan komunitas internasional selama berbulan-bulan.

Menghadapi tuntutan itu, Taliban mengklaim bahwa masalahnya ada pada 'kapasitas', dan mereka berjanji akan menyelesaikannya.

"Pendidikan untuk wanita dan anak perempuan adalah masalah kapasitas. Kami berusaha menyelesaikan masalah ini pada tahun berikutnya sehingga sekolah dan universitas dapat dibuka," kata Mujahid dalam wawancaranya. 

Kekhawatiran telah diutarakan oleh komunitas internasional, yang enggan untuk secara resmi mengakui pemerintahan yang dijalankan Taliban. Mereka khawatir kelompok itu nantinya akan memberlakukan tindakan keras yang serupa dengan aturan sebelumnya, saat mereka  berkuasa 20 tahun lalu. Pada saat itu, perempuan dilarang dari pendidikan, pekerjaan dan kehidupan publik.