News

Taliban Janji Akan Kembalikan Anak Perempuan ke Sekolah Sesegera Mungkin

Taliban tidak merinci kapan. Mereka hanya mengatakan bahwa hal itu akan terjadi  'sesegera mungkin'.


Taliban Janji Akan Kembalikan Anak Perempuan ke Sekolah Sesegera Mungkin
Anak-anak perempuan Afganistan ini sedang menunggu untuk pergi ke kelas di sebuah sekolah di Kabul pada 15 September 2021 ( NYTIMES)

AKURAT.CO, Taliban telah mengumumkan bahwa anak-anak perempuan Afganistan akan kembali diizinkan ke sekolah. Namun, Taliban tidak merinci kapan. Mereka hanya mengatakan bahwa hal itu akan terjadi  'sesegera mungkin'.

Pengumuman soal izin sekolah bagi anak perempuan itu dirilis pada Selasa (21/9), menyusul gelombang protes atas kebijakan Taliban yang masih mengucilkan wanita dan anak perempuan Afganistan dari kehidupan publik.

Seperti dikutip dari Straits Times, Taliban sempat menguasai Afganistan pada tahun 1996-2001. Akan tetapi, pada masa itu, mereka terkenal dengan pemerintahannya yang brutal dan penuh penindasan terhadap hak-hak perempuan.

Di era itu, Taliban melarang para perempuan bekerja dan menuntut pendidikan di sekolah-sekolah. Kaum perempuan juga sangat dibatasi pergerakannya dengan larangan meninggalkan rumah kecuali ditemani kerabat laki-laki.

Saat Amerika Serikat dan sekutu menarik pasukannya, Taliban pun dengan cepat bergerak untuk menduduki ibukota-ibukota provinsi di Afganistan. Dengan serangan kilatnya, mereka  berhasil menundukkan Kabul pada 15 Agustus lalu. 

Di tengah kekhawatiran dunia internasional, Taliban yang kembali berkuasa berjanji untuk menciptakan pemerintahan yang inklusif dan lebih demokrat. 

Pada awal September, mereka mengumumkan kepemimpinan baru mereka. Namun, mereka hanya mengisi posisi pemerintahan hanya untuk jajaran loyalis Taliban yang mana mereka semua laki-laki. Tidak ada menteri perempuan yang diberi wewenang.

Beberapa hari setelahnya, mereka membredel kantor Kementerian Urusan Wanita dan menggantinya dengan Kementerian Khotbah dan Bimbingan, Penyebaran Kebajikan serta Pencegahan Kejahatan. Di waktu yang bersamaan, Taliban mengumumkan dibukanya sekolah-sekolah menengah, tetapi hanya untuk guru dan pelajar siswa. Mereka tidak menyebutkan soal siswa perempuan maupun pengajar wanita.

Baru dalam konferensi pers di Kabul minggu ini, juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mulai membahas tentang kembalinya anak perempuan ke sekolah.

"Kami sedang menyelesaikan banyak hal ... itu akan terjadi sesegera mungkin," kata Mujahid seraya menambahkan bahwa 'lingkungan belajar yang aman' perlu dibentuk sebelumnya.

-Ekonomi Taliban kian terpukul, perempuan tak bisa bebas bekerja 

Afganistan sangat bergantung pada bantuan asing sejak kelompok Islamis tersebut merebut kekuasaan dan pendanaan dari luar dibekukan. Banyak pegawai pemerintah belum dibayar selama berbulan-bulan, dengan harga pangan yang kian melonjak.

Taliban pun mesti bisa menghadapi tugas besar untuk memerintah Afganistan yang ekonominya semakin jatuh ke dalam. 

"Kami punya dana tapi butuh waktu agar prosesnya bisa berjalan," kata Mujahid.

Taliban juga telah memangkas akses perempuan untuk bekerja. Para pejabat mengumumkan bahwa para wanita harus tinggal di rumah demi keamanan mereka. Tidak diketahui sampai kapan para wanita Afganistan bisa keluar untuk bekerja. Taliban hanya mengatakan hal itu akan terjadi jika pemisahan di bawah Syariah mereka interpretasikan, bisa diterapkan. 

Sementara penguasa baru belum mengeluarkan kebijakan formal yang langsung melarang perempuan bekerja, arahan oleh pejabat individu sama dengan pengecualian mereka dari tempat kerja.

Penjabat wali kota Kabul mengatakan setiap pekerjaan kota yang saat ini dipegang oleh perempuan akan diisi oleh laki-laki.

Meski masih termarginalkan, perempuan Afganistan telah memperjuangkan dan memperoleh hak-hak dasar mereka dalam 20 tahun terakhir. Berkat perjuangannya itu, banyak yang kemudian berhasil menjadi anggota parlemen, hakim, polisi dan bahkan pilot. Meski hal itu cenderung banyak terjadi di kota-kota besar.

Kini pemerintah yang didukung AS telah digulingkan Taliban, dan ratusan ribu wanita sebelumnya telah masuk dunia kerja. Banyak dari mereka yang merupakan tulang punggung keluarga karena menjadi janda atau ketika suami mereka cacat selama konflik.

Dengan kebijakan Taliban yang belum menentu terhadap kaum perempuan, para ibu itu akhirnya tidak tahu kapan bisa mencari nafkah untuk anak-anak mereka. Sementara kelaparan terus memukul kaum miskin di negeri yang pincang ekonominya itu. []