News

Taliban Ganti Kementerian Urusan Wanita Menjadi Lembaga 'Khotbah'

Taliban ganti Kementerian Urusan Wanita menjadi Lembaga 'Bimbingan dan Kebajikan'.


Taliban Ganti Kementerian Urusan Wanita Menjadi Lembaga 'Khotbah'
Dalam foto ini, seorang pejuang Taliban berjaga-jaga di samping para wanita Afganistan yang meneriakkan slogan-slogan protesnya di Kabul (Hoshang Hashimi/AFP)

AKURAT.CO  Rezim Taliban yang kini menguasi Afganistan dilaporkan telah menutup Kementerian Urusan Wanita Afganistan. Sebagai gantinya, mereka membuka lembaga 'bimbingan dan kebajikan'.

Sebagaimana diwartakan Al Jazeera, Taliban pada Sabtu (18/9) resmi membentuk 'Kementerian Khotbah dan Bimbingan, Penyebaran Kebajikan serta Pencegahan Kejahatan'. Pembukaan kementerian baru ini dibuka tepat di gedung yang dulunya pernah menjadi Kementerian Urusan Wanita (WOMA) di Kabul. 

Itu adalah tanda meresahkan terbaru dari Taliban yang membatasi hak-hak perempuan yang mencoba berkiprah di lembaga pemerintahan.

Dalam periode pertama pemerintahan mereka pada 1990-an, Taliban menolak hak wanita dan anak perempuan untuk pendidikan dan melarang mereka dari kehidupan publik.

Taliban Ganti Kementerian Urusan Wanita Menjadi Lembaga Bimbingan dan Kebajikan - Foto 1
 AP Photo/Bernat Armangue

Gadis-gadis Afganistan akan terlupakan

Di Kabul, sebuah papan baru dipasang di luar WOMA. Papan itu bertuliskan pengumuman bahwa sekarang bangunan itu adalah milik 'Kementerian Khotbah dan Bimbingan, Penyebaran Kebajikan serta Pencegahan Kejahatan'.

Didirikan pada akhir tahun 2001, WOWA sempat menjadi lembaga utama untuk mempromosikan hak-hak perempuan dan kemajuan di Afganistan. Dalam perjalananya, MOWA diisi oleh Staf Proyek Pemberdayaan Ekonomi Perempuan dan Pembangunan Pedesaan dengan sumbangan dana Bank Dunia senilai USD 100 juta (Rp1,4 triliun).

Namun, pada Sabtu itu, WOMA tidak lagi berdiri. Para stafnya dikawal dari lapangan, kata anggota Proyek Pemberdayaan, Sharif Akhtar. Akhtar adalah salah satu dari para pekerja yang dikeluarkan oleh Taliban.

Video situasi para pekerja WOMA yang dikeluarkan ini juga telah beredar di media sosial. Dalam rekaman itu, para pekerja perempuan berkumpul di luar gedung kementerian. Mereka memprotes Taliban yang mencopot pekerjaan mereka. 

Sampai saat ini, belum ada satu pun pejabat dari Taliban yang menanggapinya.

Taliban Ganti Kementerian Urusan Wanita Menjadi Lembaga Bimbingan dan Kebajikan - Foto 2
 Reuters via Al Jazeera

Sementara itu, Mabouba Suraj, yang mengepalai Jaringan Wanita Afganistan, mengaku sangat terkejut. Ia syok karena baru sebulan berkuasa, Taliban sudah meluncurkan banyak perintah yang membatasi wanita dan anak perempuan. 

Diketahui, pada Sabtu itu, Kementerian Pendidikan yang dikelola Taliban kembalinya sekolah untuk pelajar kelas 7 sampai 12. Namun, dalam perintah itu, Taliban hanya menyebut siswa laki-laki dan guru laki-laki. Mereka tidak menyebut adanya anak perempuan yang harus kembali ke sekolah. 

Baca Juga: Sekolah Menengah di Afganistan Kembali Dibuka, Tapi Tanpa Siswi Perempuan

Sementara sebelumnya, Taliban sudah berjanji akan memberi akses pendidikan yang sama terhadap para perempuan Afganistan. Meski dalam hal ini, mereka mengatakan pendidikan harus tetap dalam kerangka ajaran Islam, termasuk pengaturan kelas yang dipisah menurut gender.

"Ini menjadi sangat, sangat merepotkan ... Apakah ini tahap di mana para gadis  akan dilupakan?" 

"Saya tahu mereka tidak bakal memberi penjelasan, tetapi penjelasan di sini sangat penting," ujar Suraj.

Suraj juga berspekulasi bahwa pernyataan kontradiktif dari janji awal mungkin mencerminkan perpecahan di dalam tubuh Taliban yang tengah mengkonsolidasikan kekuatan. Dalam analisisnya, Suraj berpendapat bahwa setidaknya untuk saat ini, Taliban yang lebih pragmatis telah kalah dari kubu garis keras.

Mengingat, pernyataan dari kepemimpinan Taliban sering kali mencerminkan kesediaan untuk terlibat dengan dunia. Mereka juga terlihat ingin membuka ruang publik untuk wanita dan anak perempuan hingga niatan untuk melindungi minoritas Afganistan. 

Namun, perintah itu bertentangan saat berada di lapangan. Sebaliknya, pembatasan, terutama pada perempuan, telah diterapkan.

PBB bahkan mengaku 'sangat khawatir' dengan masa depan sekolah para perempuan di Afganistan.

"Sangat penting bahwa semua anak perempuan, termasuk anak perempuan yang lebih tua, dapat melanjutkan pendidikan mereka tanpa penundaan lebih lanjut. Untuk itu, kami membutuhkan guru perempuan untuk melanjutkan mengajar," kata badan anak-anak PBB, UNICEF.

Mencari jalan tengah

Suraj adalah seorang warga Amerika keturunan Afganistan. Pada tahun 2003, ia memutuskan untuk kembali ke Afganistan demi mempromosikan hak-hak perempuan dan pendidikan di sana. 

Perjuangan Suraj demi para wanita Afganistan yang berlangsung hampir dua dekade itu tampaknya terganjal setelah Taliban kembali berkuasa. Suraj membeberkan bahwa banyak rekan aktivisnya telah meninggalkan negara itu.

Sementara, Suraj mengaku ingin tetap tinggal di Afganistan dan memilih untuk meneruskan perjuangannya. Dia ingin terlibat dengan Taliban dan menemukan jalan tengah.

Meski dalam hal ini, Suraj masih belum bisa mempertemukan para pemimpin Taliban dengan para aktivis yang tetap tinggal di Afganistan. 

"Kita harus bicara. Kita harus mencari jalan tengah," kata Suraj yang berharap bisa membuat Taliban dan para aktivis duduk bersama untuk mendiskusikan nasib para perempuan  Afganistan di masa depan.

Jika dibanding kaum pria, para perempuan Afganistan memang masih terpinggirkan. Kendati demikian, dalam 20 tahun terakhir, mereka memperoleh kesempatan untuk berjuang hingga memperoleh hak-hak dasar mereka sebagai seorang manusia. Banyak yang kemudian  menjadi anggota parlemen, hakim, polisi, dan bahkan pilot.

Namun, Taliban telah menunjukkan sedikit kecenderungan untuk menghormati hak-hak itu. Ini terbukti dari tidak adanya perempuan di pemerintahan baru Taliban, dan banyak dari mereka dilarang untuk kembali bekerja.[]