Rahmah

Tak Usah Bingung! Begini Cara Pemulasaraan Jenazah Korban Musibah yang Jasadnya Tidak Utuh

Dalam ajaran Islam, mengurusi Jenazah seorang muslim hukumnya adalah fardhu kifayah.


Tak Usah Bingung! Begini Cara Pemulasaraan Jenazah Korban Musibah yang Jasadnya Tidak Utuh
Truk bermuatan tanah menabrak pembatas jalan di kawasan Cibubur, Jakarta, Selasa (31/8/2021). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO  Mengurusi Jenazah seorang muslim dalam ajaran Islam hukumnya adalah fardhu kifayah. Sehingga kewajiban tersebut menjadi gugur ketika sudah ada yang melaksanakan. Akan tetapi jika belum ada yang melaksanakan, maka satu daerah tersebut dianggap berdosa.

Dalam beberapa waktu terakhir, negara Indonesia dilanda dengan datangnya berbagagai musibah. Misalnya yang terbaru adalah tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala, musibah longsor, banjir, gempa, gunung meletus, dan lain sebagainya. 

Kemudian dalam proses evakuasi bencana, biasanya para penyelamat atau tim SAR menemukan potongan-potongan tubuh manusia atau jenazah yang sudah tidak utuh lagi. Kemudian bagaimana dengan cara mengurus jenazah tersebut? Apakah sama dengan cara pengurusannya dengan jenazah utuh atau ada ketentuan khusus terhadap jenazah yang tidak utuh?

Mengutip dari lama NU Online, bahwa dalam tasawuf, kematian syahid terbagi pada tiga kategori, yakni syahid dunia sekaligus akhirat, syahid dunia saja, syahid akhirat saja.

Syahid dunia sekaligus akhirat adalah orang yang meninggal dunia akibat peperangan melawan musuh di jalan Allah. Maka mengurusi Jenazahnya hanya dengan mengafani dan menguburkannya saja, dan haram untuk dimandikan dan disalatkan.

Kemudian syahid akhirat adalah orang yang meninggal bukan akibat perang, melainkan meninggal dalam kondisi tertentu atau sebab tertentu, misalnya melahirkan, tenggelam, tertimbun, terbakar, teraniaya, meninggal saat wabah, saat mencari ilmu dan sebagainya. Maka cara mengurusi Jenazahnya adalah sama halnya dengan orang yang bukan syahid, artinya jenazah tersebut harus dimandikan, dikafani, disalatkan, dan dikuburkan.

Kemudian beberapa mati syahid akhirat yang disebabkan bencana atau kecelakaan yang mengakibatkan jasadnya rusak atau tidak utuh, bahkan habis tidak ditemukan, selama jasad itu ditemukan walaupun tidak utuh lagi, maka harus diurusi secara lengkap sebagaimana biasanya. Hanya saja jika ketika dimandikan khawatir menambah kerusakan yang baru atau bertambah parah pada jasadnya, maka hal itu cukup diganti dengan ditayamumkan. Untuk lebih rincinya bisa merujuk pada kitab I’anah At-Thalibin karya Sayyid Bakri.

Kemudian jika hanya potongan tubuh saja yang ditemukan, maka itu tetap dimandikan dan disalatkan, dengan maksud menyalatkan jenazah utuh, lalu dikuburkan. Sedangkan untuk jenazah yang tidak ditemukan, itu cukup dengan menyalatkannya saja, namun tetap menghadap kiblat dekat posisi diperkirakannya jenazah itu.

Itulah penjelasan singkat mengenai persoalan pengurusan jenazah dalam ajaran Islam. Semoga bermanfaat bagi yang membaca. Wallahu A'lam. []

Sumber: Nu Online