Olahraga

Tak seperti WTA, Sikap ATP Soal Peng Shuai Dikritik

IOC mengklaim bahwa mereka sudah melakukan komunikasi video kedua dengan Peng Shuai.


Tak seperti WTA, Sikap ATP Soal Peng Shuai Dikritik
Peng Shuai melanjutkan catatan positif di Jiangxi Terbuka 2019 usai mengalahkan Kristyna Pliskova. (REUTERS/Jerry Lai-USA TODAY Sports)

AKURAT.CO, Kasus dugaan pelecehan seksual yang dialami petenis terkemuka asal China, Peng Shuai, belum menunjukkan tanda-tanda bakal mendingin. Setelah Asosiasi Petenis Profesional Putri Internasional (WTA) menyatakan akan memboikot turnamen mereka di China, kini organisasi petenis putra menjadi sasaran kritik.

Pasalnya, Asosiasi Petenis Profesional Putra (ATP) dianggap tidak memiliki solidaritas dengan WTA. Legenda tenis putri Amerika Serikat, Martina Navratilova, melihat hal ini dalam urusan gender.

“Apakah kita bisa memahami bahwa ATP bakal mengeluarkan pernyataan yang sama jika pemain (yang tersangkut kasus seperti Peng Shuai) adalah laki-laki? Entah mengapa saya rasa tidak,” cuit Navratilova sebagaimana dipetik dari BBC.

baca juga:

Yang dimaksud oleh Navratilova adalah pernyataan Ketua ATP, Andrea Gaudenzi, yang mengatakan bahwa mereka baru menyatakan kekhawatiran saja terhadap kondisi Peng Shuai. ATP belum menunjukkan reaksi bahwa mereka akan menghentikan semua turnamen di China sebagaimana yang dilakukan WTA.

“Situasi yang melibatkan Peng Shuai terus meningkatkan kekhawatiran serius di dalam dan di luar olahraga. Respons terhadap kekhawatiran tersebut sejauh ini gagal,” kata Gaudenzi.

“Kami akan terus berkonsultasi dengan para anggota kami dan memantau setiap perkembangan sejalan dengan bangkitnya isu ini.”

Awal November lalu, Peng Shuai mengumumkan pengalaman serangan seksual yang dialaminya oleh mantan Wakil Presiden China, Zhang Gaoli. Beberapa hari setelah pengakuan yang dimuatnya di akun media sosial China, Weibo, itu, Peng Shuai sempat menghilang.

Karena desakan komunitas internasional untuk memastikan keselamatan mantan petenis ganda putri ranking satu dunia tersebut, Peng Shuai akhirnya muncul dalam komunikasi video dengan Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC), Thomas Bach, pada 21 November lalu.

Namun, situasi itu tidak memuaskan WTA karena menganggap Peng Shuai berada di dalam tekanan. IOC kemudian mengklaim sudah melakukan komunikasi video kedua bersama Peng Shuai namun tidak mempublikasikannya karena keselamatan sang petenis.

China sendiri menanggapi boikot WTA dengan mengatakan bahwa lembaga tersebut berusaha mempolitisasi olahraga. Salah satu editor media milik negara China, Global Times, Hu Xijin, mengatakan bahwa WTA menggunakan Peng Shuai untuk mendukung Barat menyerang sistem China.[]