News

Tak Peduli Desakan Internasional, PM Israel Bersumpah Bakal Terus Gempur Gaza Demi Berangus Hamas

Diklaim pula bagaimana dalam konflik terbaru ini, yang salah bukan Israel, tetapi kelompok militan yang telah menyerang Israel terlebih dahulu


Tak Peduli Desakan Internasional, PM Israel Bersumpah Bakal Terus Gempur Gaza Demi Berangus Hamas
PM Israel Benjamin Netanyahu saat menghadiri pertemuan Kabinet pertama pemerintahan baru di Chagall Hall di Knesset, Parlemen Israel di Yerusalem pada 24 Mei 2020. (AP )

AKURAT.CO, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu telah mengucap sumpah untuk 'terus menanggapi dengan paksa' serangan roket yang ditembakkan oleh para militan Palestina. Dengan kata lain, ucapan Netanyahu ini mencerminkan tanda bahwa Gaza tidak akan lepas dari serangan udara meski eskalasi sudah memasuki hari ketujuh pada Minggu (16/7) hari ini. 

Seperti diwartakan BBC, sumpah untuk terus melakukan serangan itu mulai digelorakan oleh Netanyahu pada Sabtu (15/5) waktu setempat. Dalam pidato yang disiarkan televisi itu, Netanyahu menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan upaya untuk membatasi korban sipil.

Namun, mengikuti langkah itu, Netanyahu juga menekankan bahwa Israel akan terus melanjutkan serangan 'selama yang diperlukan'. Diklaim pula bagaimana dalam konflik terbaru ini, yang salah bukan Israel, tetapi kelompok militan yang telah menyerang Israel terlebih dahulu.

"Pihak yang menanggung kesalahan atas konfrontasi ini bukanlah kami, melainkan mereka yang menyerang kami," kata Netanyahu.

"Kami masih di tengah-tengah operasi, ini masih belum selesai dan operasi ini akan terus berlanjut selama diperlukan," kata Netanyahu.

Saat itu, Netanyahu juga mengonfirmasi bahwa puluhan militan Hamas telah tewas dalam serangan udara dan artileri Israel. Disebutkan pula bagaimana dalam serangan ini, Israel ikut berhasil meluluhlantahkan ratusan situs Hamas, termasuk di antaranya peluncur rudal hingga jaringan terowongan yang luas. 

Komunitas internasional sendiri sebenarnya telah menyerukan diakhirinya konflik yang meningkat antara militer Israel dan kelompok militan Palestina.

Pada hari Sabtu misalnya, Presiden AS Joe Biden menelepon Netanyahu dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas untuk menyatakan keprihatinannya tentang situasi tersebut.

Pada hari itu, Biden berbicara untuk pertama kalinya dengan Abbas sejak menjabat Gedung Putih November lalu. Kepada Abbas, Biden pun mengucap komitmen untuk 'memperkuat kemitraan AS-Palestina'. Dia juga mengatakan tembakan roket Hamas ke Israel harus dihentikan.

Namun, Abbas, yang berbasis di Tepi Barat yang diduduki, diketahui hanya memiliki sedikit kekuasaan di Gaza yang dikuasai Hamas.

Sementara, dalam sambungan teleponnya, Biden tidak berbicara langsung dengan Hamas, yang selama ini dianggap sebagai organisasi teroris.

Menyusul AS, Dewan Keamanan PBB juga telah menjadwalkan pertemuan khusus untuk membahas isu Palestina-Israel pada Minggu hari ini.

Namun, berbagai upaya dan seruan dari dunia internasional ini ternyata belum mampu meredakan eskalasi Palestina-Israel.

Pada Minggu dini hari waktu setempat, perang antara kedua sisi bahkan tercatat masih berlangsung. Saat itu, serangan udara sraeli di Gaza menewaskan sedikitnya tiga warga Palestina, kata pejabat kesehatan setempat

Sementara, militan Palestina menembakkan roket ke arah Tel Aviv, menyebabkan orang-orang di sana berlarian menuju tempat perlindungan yang dirancang untuk antisipasi serangan bom. 

Sama seperti Israel, Hamas juga masih bersikeras akan melanjutkan serangan mereka.

AFP/MAHMUD HAMS

Pertempuran antara Israel dan Hamas mulai meletus pada Senin (10/5) lalu, dan sejak itu, ketegangan antara keduanya terus meningkat. Padahal, korban sipil mulai berjatuhan di kedua sisi, termasuk yang paling banyak berasal dari warga Palestina di Gaza.

Dalam laporan terbaru, setidaknya 148 orang telah dinyatan tewas, termasuk 41 anak, seperti disebutkan oleh pejabat Palestina.

Sementara di pihak Israel, korban yang meregang nyawa telah mencapai 10 orang, dan di antaranya ada dua anak yang jadi korban.

Hamas memulai serangan roketnya setelah berminggu-minggu ketegangan atas kasus pengadilan untuk mengusir beberapa keluarga Palestina di Yerusalem Timur. Serangan itu juga terjadi sebagai bagian dari pembalasan atas bentrokan polisi Israel dengan warga Palestina di dekat Masjid Al-Aqsa.

"Zionis mengira ... mereka bisa menghancurkan masjid Al-Aqsa. Mereka mengira bisa menggusur orang-orang kita di Syekh Jarrah," kata kepala Hamas Ismail Haniyeh kepada kerumunan pengunjuk rasa di ibu kota Qatar, Doha.

"Saya katakan kepada Netanyahu: jangan bermain-main dengan api," lanjutnya, di tengah sorak-sorai penonton. "Judul pertempuran hari ini, judul perang, dan gelar intifada, adalah Yerusalem, Yerusalem, Yerusalem," lanjut Haniyeh.

Hamas, Jihad Islam, dan kelompok militan lainnya telah menembakkan sekitar 2.300 roket dari Gaza sejak Senin, kata militer Israel pada Sabtu. Dari total itu, sekitar 1.000 roket berhasil dicegat oleh pertahanan rudal Israel, sementara 380 jatuh ke Jalur Gaza.

Israel telah melancarkan lebih dari 1.000 serangan udara dan artileri ke jalur pantai yang berpenduduk padat, yang ditujukan ke Hamas dan sasaran militan lainnya.

Awal pekan ini kepala jaksa Pengadilan Kriminal Internasional, Fatou Bensouda, mengatakan kepada Reuters bahwa pengadilan sedang 'memantau dengan sangat cermat' peningkatan konflik terbaru. Pengadilan juga dikatakan tengah gencar menyelidiki dugaan adanya kejahatan perang dalam serangan konflik sebelumnya.

Netanyahu menuduh Hamas 'melakukan kejahatan perang ganda' dengan menargetkan warga sipil, dan menggunakan warga sipil Palestina sebagai 'perisai manusia'.

Human Rights Watch dari New York juga telah menyatakan kekhawatiran bahwa serangan telah menyebabkan kerusakan yang tidak proporsional terhadap properti sipil di Gaza.

Sementara lembaga internasional sibuk mencoba meredakan eskalasi, di Israel, konflik justru telah merembet ke komunitas campuran Yahudi dan Arab. Di sini, kedua komunitas itu saling bentrok. Sinagoga diserang, toko-toko milik orang Arab dirusak, dan perkelahian jalanan terjadi. Menanggapi ini, Presiden Israel bahkan sampai memperingatkan adanya perang saudara. Tak hanya itu, peningkatan kekerasan juga terjadi di Tepi Barat yang diduduki.

Pada Sabtu malam waktu setempat misalnya, ada laporan bahwa seorang pengendara asal Palestina menabrakkan mobilnya ke sebuah pos pemeriksaan militer. Imbasnya, pengendara ini akhirnya ditembak mati oleh tentara Israel. 

Lalu pada Jumat (14/5), pasukan Israel menewaskan 11 warga Palestina yang memprotes di Tepi Barat yang diduduki terhadap pendudukan dan pemboman yang sedang berlangsung di Gaza.[]

Anugrah Harist Rachmadi

https://akurat.co