News

Tak Kunjung Diselamatkan AS, Para Pilot Afganistan Terima Nasib Tak Tentu Bersembunyi di Tajikistan 

143 pilot dan personel militer Afganistan yang telah lari dari Taliban dan menjadi milik pemerintah di Tajikistan.


Tak Kunjung Diselamatkan AS, Para Pilot Afganistan Terima Nasib Tak Tentu Bersembunyi di Tajikistan 
Anggota Marsekal Angkatan Udara Afghanistan A-29 sedang bertugas di Bandara Internasional Hamid Karzai, Kabul, 15 Januari 2016 . (PILOT US Air Force / Technology Sgt. Nathan Lipscomb / Handout via Reuters)

AKURAT.CO, Seorang pilot Afganistan didikan Amerika Serikat (AS) berbicara kepada Reuters di ponsel selundupannya dari Tajikistan. Pilot itu mengaku ditahan di sana. 

Namun, di tengah pembicaraan, sesuatu yang aneh terjadi. Suaranya mulai berdering dan mengulangi semua yang baru saja dia katakan. Tunangannya, seorang perawat Amerika di Florida, juga berada di telepon dan mulai panik. Pilot itu meneriakkan namanya, dan terus mencoba terus berbicara. Tetapi semua sia-sia karena setiap kata yang diucapkannya hanya menggema dan berbalik kepadanya.

"Aku terkejut. Hal-hal terburuk tiba-tiba muncul di pikiranku," kata pilot Afganistan itu sambil meminta agar namanya dirahasikan untuk keselamatan. 

Gangguan telepon itu telah menambah kecemasan pasangan tersebut. Mereka memang pantas khawatir karena berada dalam situasi sulit. Pilot itu adalah satu dari 143 pilot dan personel militer Afganistan yang telah lari dari Taliban dan menjadi milik pemerintah di Tajikistan.

Mereka kabur dari negara itu pada 15 Agustus lalu dan sempat menerbangkan setidaknya 16 pesawat sebelum Taliban bergerak maju. Kemudian setelah tiba di Tajikistan, mereka ditempatkan di asrama universitas. 

Pada 1 September lalu, mereka mulai dipindahkan ke sebuah sanatorium di pedesaan pegunungan di luar ibu kota Tajik, Dushanbe. Di tempat persembuyian itu, telepon mereka dilucuti. Karenanya, hubungan dengan keluarga menjadi sangat terbatas. 

Mereka juga berada di ambang ketidakpastian tentang masa depan, meskipun tampaknya 'ditahan' dalam kondisi manusiawi. Kini, para pilot itu hanya bisa menunggu dan berharap untuk segera dievakuasi.

"Kami tidak tahu tujuan kami. Kami semua khawatir tentang itu," kata pilot tersebut.

Para pilot itu ingin bergabung dengan personel militer Afganistan lainnya yang sedang diproses untuk visa AS, misalnya, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Jerman. Namun, keinginan ini rupanya menjadi hal yang terlampau besar karena pemerintah Tajik juga tak bisa berbuat banyak.

"Setiap kali pemerintah Tajik ditanya, mereka hanya menjawab, 'Tunggu,'" kata pilot lain, yang berbicara secara terpisah tanpa nama.

Departemen Luar Negeri AS menolak mengomentari kondisi pilot Tajik. Kementerian Luar Negeri Tajik juga tidak menanggapi permintaan komentar.

Tak Kunjung Diselamatkan AS, Para Pilot Afganistan Terima Nasib Tak Tentu Bersembunyi di Tajikistan  - Foto 1
Ilustrasi pilot Afganistan yang dilatih AS-Wikimedia Commons/Angkatan Udara AS/Penerbang Senior Cierra Presentado

Seorang pilot lain mengatakan kepada Reuters bahwa di antara ratusan personel militer yang ditahan, dua di antaranya adalah wanita. Salah satunya sedang hamil delapan bulan, kata pilot itu. 

Kata David Hicks, kehamilan seperti itu akan menjadi alasan penting untuk memindahkan mereka dengan cepat. Hicks adalah pensiunan brigadir jenderal AS yang membantu memimpin Operation Sacred Promise (OSP) badan amal yang bekerja untuk mengevakuasi dan memukimkan kembali warga Afganistan.

Dushanbe juga memiliki 13 staf Afganistan yang menikmati kondisi yang jauh lebih santai. Beberapa pilot mengatakan kepada Reuters bahwa mereka terbang secara terpisah pada 15 Agustus dan tinggal di gedung pemerintah. 

Berbicara melalui panggilan video, mereka mengaku belum melakukan kontak dengan warga Afganistan di sanatorium.

Para pilot tidak bisa menjelaskan mengapa kedua kelompok itu dipisahkan.

Pilot Afganistan didikan AS di Tajik adalah kelompok besar terakhir personel angkatan udara Afganistan yang berada di luar negeri. Tetapi mereka justru masih kebingungan dengan nasib mereka sendiri. Padahal, mereka sudah menerbangkan puluhan pesawat canggih melintasi perbatasan Afganistan ke Tajik dan Uzbekistan di saat-saat terakhir perang.

Sebelumnya pada bulan September, sebuah perjanjian yang ditengahi oleh AS memungkinkan lebih banyak pilot Afghanistan dan personel militer lainnya untuk terbang keluar dari Uzbekistan. 

Beberapa pilot berbahasa Inggris takut bahwa Uzbek dapat mengirim mereka kembali ke Afghanistan yang dikuasai Taliban dan membunuh mereka.

Sebuah sumber di pemerintahan Tajik yang mengetahui situasi tersebut, sambil menyalahkan AS dan Kanada atas keterlambatan dalam mengeluarkan visa.

Tak Kunjung Diselamatkan AS, Para Pilot Afganistan Terima Nasib Tak Tentu Bersembunyi di Tajikistan  - Foto 2
 Foto memperlihatkan Helikopter Mil-Mi 8 Angkatan Udara Afghanistan-Spesialis Komunikasi Massa Wikimedia Commons/NATO/2nd Class Ernesto Hernandez Fonte Spesialis Urusan Publik

Hubungan dekat antara Tajik dan Afganistan

Penguasa baru Afganistan mengatakan mereka mengundang mantan personel militer untuk bergabung dengan pasukan keamanan negara yang telah direformasi. Kelompok itu juga berjanji tidak akan menyakiti mereka.

Namun, tawaran itu terdengar hampa bagi para pilot Afganistan yang berbicara kepada Reuters. Bahkan sebelum penaklukan Taliban oleh AS, pilot terlatih berbahasa Inggris biasa menjadi target utama. Mereka akan dilacak oleh pejuang Taliban dan dihabisi di luar pangkalan.

Para pilot itu tidak khawatir bahwa Tajik akan mengirim kelompoknya kembali ke Taliban. Mereka justru mengeluh karena setelah lebih dari sebulan, pihak berwenang tidak kunjung mengatur kepindahan.

Reuters telah mengetahui bahwa pihak berwenang AS telah mulai mengumpulkan data biometrik untuk memverifikasi identitas anggota kelompok tersebut. Ini menjadi sebuah tanda bahwa bantuan akan segera datang. Upaya serupa di Uzbekistan mendahului pemindahan pilot dari sana.

Orang-orang yang dekat dengan para pilot itu juga mengonfirmasi bahwa AS telah mengumpulkan data biometrik dari dua pertiga kelompok sejauh ini.

Sementara itu, Paul Stronski, seorang anggota senior dari Carnegie Endowment for International Peace Fund, mengaku percaya bahwa Presiden Tajik Emomali Rahmon bisa bangga dengan perannya dalam menerima para pilot Afganistan.

"Pemerintah Tajik mungkin memainkan ini untuk mencoba mendapatkan keuntungan. (Tapi) Tidak ada urgensi domestik, dan mungkin tepat bagi Rahmon untuk mengatakan, ‘Kami hidup untuk orang-orang ini'," kata Stronski. 

Tajikistan memiliki perbatasan yang keropos dengan Afganistan, dengan panjang mencapai 1.345 km. Dalam pernyatannya, tetangga Afganistan itu mengungkap keprihatinan tentang pemerintahan baru yang dikuasai Taliban.

Diyakini sekitar seperempat populasi Afganistan disusun oleh etnis Tajik. Tetapi, mereka dan etnis minoritas lainnya tidak terwakili dalam pemerintahan sementara Taliban, kata Rahmon secara terbuka.

"Melawan semua sistem politik di Kabul tanpa mempertimbangkan suara rakyat Afganistan dari kelompok etnis yang berbeda dapat menyebabkan konsekuensi negatif yang serius," kata Rahmon pekan lalu kepada kantor berita TASS Rusia.

Menurut data pemerintah, Tajik juga telah memberikan suaka kepada lebih dari 3 ribu keluarga pengungsi Afganistan. Ini menjadikan total pengungsi yang diterima menjadi 15 ribu orang dalam 15 tahun terakhir.

Tak Kunjung Diselamatkan AS, Para Pilot Afganistan Terima Nasib Tak Tentu Bersembunyi di Tajikistan  - Foto 3
Seorang pilot A-29 Afganistan bersiap untuk terbang di kokpit pesawatnya, di Lapangan Terbang Kandahar, Afganistan-Reuters

Tidak boleh ada telepon demi keselamatan

Ketika Tajik menyita telepon, pemerintah mengatakan kepada para pilot bahwa ini adalah demi keselamatan mereka. Tajik juga beralasan bahwa Taliban dapat melacak sinyal jika mereka nekat menelepon ke rumah.

"Anda tidak diperbolehkan menggunakan telepon Anda untuk keselamatan keluarga Anda," kata seorang pilot  mengutip perintah seorang pejabat Tajik.

Sebuah sumber di pemerintahan Tajik juga mengatakan bahwa ponsel para warga Afganistan telah dilucuti agar lokasi mereka tidak bisa dilacak.

Akan tetapi gangguan komunikasi seperti itu pada akhirnya ikut menyumbang masalah psikologis. Para pilot cemas dan takut kalau-kalau keluarga mereka di Afganistan akan dibalas oleh Taliban. 

Gangguan psikis inipun bisa dilihat dari sikap kebingungan warga Afganistan yang berada di Tajik. Seorang pilot misalnya, mengaku pernah melihat orang-orang berkeliaran tak tentu di luar spa pada tengah malam. 

Saat ditanya, mereka menjawab sedang memikirkan keluarga mereka.

"Setiap kali saya bertanya kepada seseorang mengapa? Mereka akan berkata, 'Saya tidak bisa santai, saya memikirkan keluarga saya,'" ungkap pilot tersebut. []