News

Tak Khawatir dengan Omicron, Singapura dan Malaysia Tetap Buka Jalur Darat dan Udara untuk Para Pelancong

Tak Khawatir dengan Omicron, Singapura dan Malaysia Tetap Buka Jalur Darat dan Udara untuk Para Pelancong
Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong (kanan) dan rekannya dari Malaysia, Ismail Sabri Yaakob berbicara di Istana, Senin (29/11) (CNA)

AKURAT.CO, Di tengah kekhawatiran dunia terhadap varian Omicron, Singapura dan Malaysia justru tetap membuka jalur perjalanan darat dan udara di kedua negara. Sebagaimana diwartakan Nikkei Asia, pembukaan kembali perjalanan dimulai kedua negara pada Senin (29/11), dengan syarat pelancong harus sudah divaksinasi.

Untuk menandai kesempatan itu, Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri Yaakob melakukan kunjungan resmi pertamanya ke Singapura, dengan rekannya Perdana Menteri Lee Hsien Loong menyambutnya. 

Momen pertemuan keduanya itu juga tercermin dalam unggahan di halaman Facebook Lee. Dalam sebuah gambar, keduanya terlihat berpose di depan bus dengan wajah ditutupi masker. 

baca juga:

Sebelumnya, pada hari Minggu (28/11), Singapura mengumumkan bahwa semua pelancong harus mengambil tes cepat antigen pada saat kedatangan dengan biaya sendiri. Aturan ini pun tampaknya menunjukkan bahwa para pelancong yang datang harus mampu menunjukkan hasil tes negatif dari 48 jam terakhir. 

"Pengujian tambahan ini diperintahkan mengingat laporan baru-baru ini tentang varian virus Covid-19 yang berpotensi lebih menular," kata pihak berwenang, dengan mengatakan bahwa syarat tes akan memungkinkan perluasan program perjalanan dengan cara yang aman dan terkalibrasi.

Sistem jalur perjalanan yang divaksinasi (VTL) mencakup penerbangan antara Singapura dan Kuala Lumpur, memungkinkan orang-orang dengan bukti vaksinasi penuh untuk terbang tanpa dikarantina. Sementara, pembukaan perbatasan darat di bawah inisiatif yang sama telah diantisipasi secara khusus. Sebelum pandemi, ribuan orang telah melakukan perjalanan setiap hari melintasi jembatan dan jalan lintas yang menghubungkan negara-negara.

"Malaysia adalah tetangga terdekat kami dan kami memiliki hubungan darat yang penting, yang benar-benar, Anda tahu, sebelum Covid-19, itu adalah salah satu jalur paling sibuk di seluruh dunia," kata Menteri Transportasi Singapura S. Iswaran pada Jumat (26/11), sambil mencatat tingginya 'minat dan keinginan' warga kedua negara untuk menyeberang. 

Pada pertemuan Senin, kedua pemimpin negara juga mengaku menginginkan 'perbatasan yang lebih terbuka', bahkan jika varian Omicron akan mengganggu rencana untuk memperluas jalur VTL antara kedua negara.

"Tentu saja, semua ini atas aturan perizinan Covid-19. Kita semua cemas menunggu untuk melihat varian Omicron (dari) Covid-19, dan melihat bagaimana perilakunya.

"Tetapi bahkan jika Omicron mengganggu jalur-jalur ini, tujuan kami tetap adalah memiliki perbatasan yang lebih terbuka antara Singapura dan Malaysia. Dan saya cukup yakin bahwa setelah beberapa waktu, kami akan dapat membuat kemajuan lebih lanjut," ungkap Lee.

 Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong (kanan) dan rekannya dari Malaysia, Ismail Sabri Yaakob berbicara di Istana, Senin (29/11)-CNA

Seperti dikutip dari CNA, pidato itu disampaikan Lee bersama rekannya Yaakob di Istana Kepresidenan Singapura pada hari pertama pembukaan VTL darat dan udara antara Singapura dan Malaysia. 

Dalam pidatonya itu, Lee mengonfirmasi bahwa tujuan Singapura adalah untuk memperluas VTL darat dan memasukkan wisatawan umum dari pertengahan Desember. Namun, ini tetap dengan melihat pertimbangan terhadap situasi kesehatan masyarakat.

Baik Malaysia dan Singapura, memiliki tingkat vaksinasi yang tinggi. Singapura, hampir 90 persen penduduknya sudah divaksin. Sementara, di Malaysia, warga yang sudah diinokulasi telah mencapai 80 persen dari populasi. 

Kedua pemerintah itupun sekarang hanya bisa bersikap lebih hati-hati karena sebelum munculnya Omicron, kondisi khusus untuk VTL sudah ditetapkan. Di antara syarat adalah para pelancong harus warga negara, penduduk tetap, atau pemegang izin jangka panjang dari negara yang mereka masuki. Ini untuk memberikan prioritas bagi mereka yang telah bekerja di kedua sisi dan ingin mengunjungi keluarga mereka.

Sementara itu, para pelancong yang menyeberang dengan cara lain, seperti transportasi pribadi atau berjalan kaki, akan dikenakan tindakan pengawasan perbatasan yang berlaku, termasuk karantina.

Pada Senin, Yaakob juga mengungkap soal perluasan VTL darat untuk memasukkan layanan bus di Tuas Second Link, kereta api yang dioperasikan oleh Keretapi Tanah Melayu, dan kendaraan pribadi seperti mobil dan sepeda motor.

Para pemimpin juga membahas peluncuran VTL laut, kemungkinan antara terminal feri Tanah Merah di Singapura dan Desaru di Johor, dan memperluas VTL udara untuk mencakup tujuan seperti Penang, Langkawi, Kuching dan Kota Kinabalu.

Langkah Singapura dan Malaysia untuk membuka jalur darat dan udara antara kedua negara memang berbanding terbalik dengan sejumlah negara yang menutup perjalanan karena Omicron.

Namun, saat berbicara di Istana, Lee menjelaskan bahwa VTL akan membantu orang yang bekerja di kedua negara bersatu kembali dengan orang yang mereka cintai di rumah. Dengan pembukaan VTL ini juga, hubungan ekonomi dan bisnis di kedua negara akan makin kuat.

"Kami akan memulai VTL dengan jumlah sederhana dan kami akan membutuhkan waktu sebelum kami dapat mendekati tingkat perjalanan pra-COVID," tambahnya.

"Tapi kami akan maju selangkah demi selangkah dan membuatnya bekerja terlebih dahulu. Ketika situasinya meningkat, kami akan meningkatkan volume perjalanan," katanya.

Senada dengan Lee, Yaakob juga mengatakan soal pentingnya pembukaan kembali perbatasan antara Singapura dan Malaysia. Ini terutama untuk kegiatan ekonomi dan sosial yang menguntungkan warga di kedua negara.

Lee pun berharap untuk terus memperkuat hubungan bilateral dan kerja sama dengan Malaysia, dan membangun hubungan yang kuat dengan Yaakob.

"Singapura dan Malaysia adalah tetangga dekat dengan sejarah yang sama. Ekonomi kami saling terkait secara luas. Masyarakat kami berbagi ikatan kekerabatan, persahabatan, dan kenangan yang kuat.

"Jadi, penutupan perbatasan sangat sulit di dilakukan di kedua sisi," tambahnya. []