News

Tak Kapok Dihantam Gelombang Kedua COVID-19, Mal dan Stasiun di India Kembali Penuh Sesak

Lonjakan COVID-19 kembali mengintai India usai pencabutan lockdown, sementara tingkat vaksinasi baru 5 persen dari 950 juta orang dewasa yang layak suntik.


Tak Kapok Dihantam Gelombang Kedua COVID-19, Mal dan Stasiun di India Kembali Penuh Sesak
Warga India tak ragu memadati pasar di Gurgaon pada Minggu (13/6). (Foto: AFP)

AKURAT.CO Baru saja mengatasi gelombang kedua infeksi virus corona, India kembali dicekam kekhawatiran pada Selasa (15/6) atas risiko lonjakan lagi COVID-19. Pasalnya, banyak orang memadati stasiun kereta api dan pusat perbelanjaan sehari setelah kota-kota besar melonggarkan pembatasan pergerakan.

Dilansir dari Arab News, ibu kota New Delhi dan pusat teknologi Bengaluru menjadi dua di antara perkotaan yang mulai mencabut lockdown ketat setelah penghitungan infeksi baru nasional turun ke level terendah dalam 2 bulan lebih. Usai lockdown ketat selama 5 pekan, otoritas Delhi membuka kembali toko dan mal sepenuhnya. Restoran pun diizinkan melayani pelanggan makan di tempat dengan kapasitas 50 persen tempat duduk. Jaringan kereta api tepi kota juga beroperasi dengan kapasitas 50 persen dan sebagian kantor telah dibuka kembali.

"Mal paling top Delhi dipadati 19 ribu orang akhir pekan lalu, tak lama setelah dibuka kembali. Apa kita sudah benar-benar gila? Tunggu COVID-19 meledak lagi dan salahkan pemerintah, rumah sakit, dan negara," twit Ambrish Mithal, seorang dokter di rumah sakit Max HealthCare, New Delhi.

Sebelumnya para ahli telah memperingatkan bahwa pembukaan kembali bisnis seperti biasanya akan membahayakan upaya vaksinasi. Pasalnya, baru sekitar 5 persen dari 950 juta orang dewasa yang memenuhi syarat telah divaksin COVID-19.

Di sisi lain, otoritas kota berdalih mereka akan memberlakukan kembali pembatasan ketat jika diperlukan.

Baca Juga: Cegah Varian COVID-19 dari India, Anggota Komisi IX Minta Masyarakat Ekstra Disiplin Prokes

Varian Delta yang pertama kali diidentifikasi di India menyebar infeksi dengan lebih cepat. Pada puncak gelombang kedua pada bulan April dan Mei, sebanyak 170 ribu orang meninggal. Yang lebih mengkhawatirkan, virus corona ini telah menyebar ke pedalaman India, yang dihuni dua pertiga populasi dan vaksinasinya bahkan lebih lambat.

Ketika pembatasan dicabut di kota-kota besar, pekerja migran mulai kembali dari pedesaan. Di Karnataka, negara bagian Bengaluru, media melaporkan kerumunan besar pekerja di stasiun kereta api.

"Sayangnya, warga menganggap pembukaan kembali oleh pemerintah ini sebagai kemenangan," keluh Dr. Vishal Rao, anggota komite ahli di gugus tugas COVID-19 Karnataka.

Secara nasional, India melaporkan 60.471 infeksi baru selama 24 jam terakhir, terendah sejak 31 Maret, berdasarkan data kementerian kesehatan. Selain itu, 2.726 orang meninggal akibat virus corona, sehingga totalnya menjadi 377.031 orang.

Baik jumlah kematian maupun beban kasus infeksi sebanyak 29,57 juta sama-sama menjadi yang tertinggi kedua setelah Amerika Serikat. Namun, para ahli memperkirakan angka resminya terlalu rendah. Hanya warga yang dites positif yang dihitung. Padahal, tes di India sangat tidak memadai.

Dari laporan Times of India pada Selasa (15/6), 100 ribu orang mendapat hasil tes 'negatif palsu' untuk infeksi COVID-19 di kota Haridwar. Mereka termasuk orang-orang yang memadati tepi sungai Gangga untuk Kumbh Mela bersama puluhan ribu umat Hindu lainnya pada bulan April.

"Satu dari setiap 4 tes Kumbh Mela ditemukan negatif palsu. Itu baru dari 1 lembaga pengumpul sampel. Masih ada 8 lainnya yang belum diperiksa. Pada dasarnya, ini hanya puncak gunung es," ungkap Rijo M John, seorang profesor di Rajagiri College of Social Sciences di kota Kochi.[]