Lifestyle

Tak Hanya Rokok, Ini Faktor Resiko Kanker Paru-paru

Selain merokok, indoor pollution juga sebabkan kanker paru


Tak Hanya Rokok, Ini Faktor Resiko Kanker Paru-paru
Ilustrasi perokok yang bibirnya menghitam. (Unsplash/Dev Asangbam)

AKURAT.CO, Data GLOBOCAN 2020 menyatakan bahwa angka kematian akibat kanker paru di Indonesia meningkat sebesar 18% menjadi 30.843 orang dengan kasus baru mencapai 34.783 kasus. 

Angka tersebut membuat kematian akibat kanker paru baik di Indonesia maupun di dunia menempati urutan pertama, diantara semua jenis kanker.  

Anggota Pokja Onkologi Toraks Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Sita Laksmi Andarini mengatakan, orang berisiko tinggi terkena kanker paru diantaranya laki-laki di atas 45 tahun, perokok maupun yang sudah berhenti merokok kurang dari 10 tahun, perokok pasif, memiliki riwayat genetik serta riwayat fibrosis paru. 

Selain itu, para pekerja di pertambangan, pabrik semen, pabrik kaca, atau jenis pekerjaan lain yang menghirup paparan silika, juga berpotensi mengalami kanker paru-paru.

Tak hanya itu, masak pakai tungku yang bisa menghasilkan makanan yang lebih nikmat. Namun, kebiasaan ini ternyata bisa mengakibatkan hal buruk untuk kesehatan, salah satunya risiko terkena kanker paru.

Sita menyampaikan bahwa kebiasaan memasak dengan tungku yang menghasilkan indoor pollution atau polusi udara yang terjadi di dalam ruangan, yang bisa memicu kanker paru. Selain merokok, indoor pollution juga sebabkan kanker paru. 

"Di Cina banyak sekali kasus kanker paru pada perempuan tidak merokok, ternyata mereka memasak dengan tungku di dalam rumah," ujar Sita di acara konferensi pers secara virtual, dikutip pada Rabu (24/11).

"Di Indonesia juga banyak ditemui perumahan tradisional yang dapurnya menggunakan kayu bakar di dalam rumah dan hasilkan asap atau indoor pollution, sebagai pencetus kanker paru," imbuhnya.

Oleh karena itu, Sita menyarankan bagi orang-orang yang mengalami faktor resiko kanker paru-paru seperti merokok atau memasak dengan tungku agar segera melakukan skrining atau deteksi dini kanker paru-paru. 

“Kalau belum ada gejala maka skrining atau periksakan diri. Kalau ada gejala seperti batuk, batuk darah, nyeri dada, sesak napas yang belum membaik dalam dua minggu, segera rujuk untuk CT scan toraks untuk deteksi dini kanker paru,” katanyanya.

Dia juga mengimbau, agar orang-orang tetap waspada apabila hasil pemeriksaan menunjukkan negatif tuberkulosis sebab kemungkinan kanker paru masih tetap ada.

“Deteksi dini kanker paru juga harus bersamaan dengan deteksi tuberkulosis supaya dapat ditemukan lebih awal dan wajib dirujuk untuk dilakukan CT scan,” katanya.

"Skrining dan deteksi dini dapat dilakukan melalui CT scan toraks dosis radiasi rendah (Low-dose CT thorax),” tutup Sita.[]