Ekonomi

Tak Efektif, Kenaikan Cukai Justru Tingkatkan Peredaran Rokok Ilegal!

Pemerintah akan menaikkan tarif cukai rokok pada tahun depan untuk mengendalikan konsumsi rokok, termasuk menurunkan angka prevalensi perokok


Tak Efektif, Kenaikan Cukai Justru Tingkatkan Peredaran Rokok Ilegal!
Ketua Pansus RUU Pertembakauan, Firman Soebagyo (ISTIMEWA)

AKURAT.CO Pemerintah akan menaikkan tarif cukai rokok pada tahun depan untuk mengendalikan konsumsi rokok, termasuk menurunkan angka prevalensi perokok.

Otoritas fiskal telah memasang target penerimaan cukai hasil tembakau pada 2022 yang kenaikannya mencapai Rp20 triliun dari sebelumnya Rp173 triliun menjadi Rp193 triliun di tahun 2022.

Dengan target kenaikan penerimaan cukai rokok tersebut, maka tarif cukai rokok berpotensi naik dari tahun ini. 

Anggota Komisi IV DPR RI Firman Subagyo menegaskan kenaikan cukai tidak efektif untuk menurunkan angka prevalensi perokok. Kenaikan cukai rokok justru dinilai memunculkan banyak dampak, salah satunya yakni meningkatkan peredaran rokok ilegal.

“Kenaikan harga rokok akan menyebabkan perokok mencari alternatif rokok dengan harga yang lebih murah terjangkau. Oleh karena itu salah satunya alternatif adalah rokok ilegal. Akibat kebijakan ini bisa menimbulkan salah satu alternatif semakin besarnya peluang rokok ilegal,” katanya dalam acara Rilis Survei Rokok Ilegal di Indonesia secara virtual, Minggu (24/10/2021).

Lebih lanjut, kenaikan peredaran rokok ilegal baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek berdampak pada keberlangsungan industri hasil tembakau (IHT).

Selain itu, Firman Subagyo mengatakan harga bukan merupakan faktor penyebab seseorang tetap merokok dan harga jual bukan menjadi faktor penyebab seseorang berhenti merokok.

Bahkan, kenaikan tarif cukai dan harga rokok dalam jangka panjang dapat berdampak negatif terhadap keberlangsungan industri hasil tembakau (IHT).

“Kenaikan tarif cukai dan harga rokok dalam jangka panjang dapat berdampak negatif terhadap keberlangsungan ini yang sudah kami kunjungi di berbagai daerah seperti Jawa Timur, Jawa tengah dan seterusnya. Itu sudah mulai terjadinya kolaps industri rokok kelas menengah kebawah,” lanjutnya.

Firman Subagyo menambahkan kenaikan harga rokok yang dilakukan secara terus menerus akan berdampak terhadap kenaikan rokok ilegal dan keberlangsungan IHT yang selanjutnya juga dapat berpotensi menurunkan penerimaan negara.

“Artinya ini akan teori yang berbalik efek dari kenaikan cukai itu bukan berdampak pada kenaikan tetapi akan berdampak pada penurunan penerimaan karena hasil industri tembakau akan terdegradasi dan banyak yang menutup industrinya,” tambahnya.[]