Tech

Taiwan Tuduh Cina Lakukan Serangan Siber Global

Taiwan mengatakan, telah mampu bertahan melawan serangan yang luar biasa dari Cina


Taiwan Tuduh Cina Lakukan Serangan Siber Global
Ilustrasi serangan siber di Equifax (GETTY IMAGES)

AKURAT.CO, Beberapa waktu belakangan ini, Cina dan Taiwan sedang berselisih. Perselisihan ini memicu terjadinya perang siber antara kedua negara tersebut. 

Mengutip dari CNN, Kepala Cybersecurity Taiwan mengatakan, bahwa negaranya sedang melakukan langkah-langkah dalam menjaga kerentanan teknologi. Termasuk mempekerjakan sekitar 40 orang pakar komputer untuk sengaja menyerang sistem pemerintah.

Taiwan mengatakan, telah mampu bertahan melawan serangan yang luar biasa dari Cina. Sudah lebih dari ratusan serangan yang diluncurkan, namun hanya segelintir yang disebut sebagai masalah serius. 

Tetapi jumlah yang sangat besar telah memaksa pemerintah Cina untuk menanggapi masalah ini dengan serius. 

Kepala Departemen Keamanan Cyber Taiwan, Chien Hung-Wei menjelaskan, berdasarkan tindakan dan metodologi penyerang, Taiwan memiliki tingkat kepercayaan yang agak tinggi bahwa banyak serangan berasal dari negara tetangga.

"Pengoperasian pemerintah kami sangat bergantung pada Internet. Infrastruktur kritis kita, seperti gas, air dan listrik sangat didigitalkan, sehingga kita dapat dengan mudah menjadi korban jika keamanan jaringan kita tidak cukup kuat," ujarnya. 

Cyberattacks adalah ancaman global yang tumbuh, sementara Cina jauh dari satu-satunya negara yang dituduh melakukan serangan semacam itu, Beijing minggu ini menghadapi pengawasan intens dari Barat pada masalah ini.

Pada hari Senin (19/7/2021) lalu, Amerika Serikat, Uni Eropa dan sekutu lainnya menuduh Kementerian Keamanan Negara Cina menggunakan 'peretas kontrak pidana' untuk melakukan kegiatan jahat di seluruh dunia. Termasuk kampanye melawan layanan email Exchange Microsoft pada bulan Maret.

Pengumuman yang terkoordinasi ini menarik perhatian Administrasi Biden dalam Cybersecurity, setelah beberapa masalah serius dilaporkan di sektor-sektor besar Amerika, seperti energi dan produksi pangan.

Chien mengatakan, Taiwan mencurigai bahwa peretas yang didukung negara berada di belakang setidaknya satu serangan malware besar tahun lalu. Pada Mei 2020, perusahaan CPC Corporation diretas dan dibiarkan tidak dapat memproses pembayaran elektronik dari pelanggan. Sehingga, biro Investigasi Kementerian Kehakiman menuduh seorang kelompok peretas yang terkait dengan Cina adalah pelaky serangan.

Cina telah berulang kali membantah telah meluncurkan cyberattack ke Taiwan dan negara lainnya. Selain itu, Kantor Urusan Taiwan Tiongkok juga mengkritik otoritas Taiwan karena menggunakan cyberattack untuk pengalihan isu publik. Ini diduga menggeser fokus publik dari wabah Covid-19 pulau baru-baru ini.

Cina juga menyebut barat 'menuduh tanpa alasan' karena mengklaim negri tirai bambu adalah dalang peretasan global. 

"Kami sangat mendesak Amerika Serikat dan sekutunya untuk berhenti menuangkan air kotor di Cina dengan masalah cybersecurity. Cina dengan tegas menentang cyberattacks dalam bentuk apa pun, apalagi mendorong, mendukung, atau memanjakannya," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Zhao Lijian. 

Ketegangan dengan Cina

Taiwan dan Cina daratan telah memutuskan untuk berpisah sejak akhir Perang Saudara Cina lebih dari 70 tahun yang lalu. Sementara, Partai Komunis Tiongkok tidak pernah memerintah Taiwan. Beijing menganggap pulau itu menjadi 'bagian tak terpisahkan' dari wilayahnya dan telah berulang kali mengancam akan menggunakan kekuatan jika perlu untuk merebut pulau secara formal.

Dalam beberapa tahun terakhir, Cina telah meningkatkan tekanan militernya pada Taiwan. Pada bulan Juni, negara itu mengirim lebih dari dua 20 pesawat tempur di dekat pulau itu, mendorong Taiwan untuk meningkatkan pertahanan udara.