Ekonomi

Tahun Depan, BEI Luncurkan Dua Indeks Syariah untuk Lingkungan


Tahun Depan, BEI Luncurkan Dua Indeks Syariah untuk Lingkungan
Pengunjung saat berada di sekitar layar elektronik pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (23/10/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada akhir perdagangan Rabu (23/10/2019) menguat 0,08% atau 11 poin ke Rp14.029. Menurut analis Jasa Utama Capital Sekuritas Chris Apriliony menilai penguatan rupiah dipengaruhi oleh pelantikan menteri dalam Kabinet Indonesia Maju. (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menambah dua indeks saham syariah berkategori ramah lingkungan berkelanjutan (green investment) pada semester pertama tahun depan. 

Sebenarnya, hingga saat ini, BEI baru memiliki dua indeks saham syariah yaitu Jakarta Islamic Index (JII) dan Indonesia Sharia Stock Index (ISSI). Indeks JII berisi 30 saham syariah dari indeks 45 saham terliquid (LQ45). Indeks ISSI adalah seluruh saham syariah yang terdaftar di BEI. 

"Indeks syariah akan kita tambah. Kita juga melihat ada permintaan dari by side, penerbit reksa dana, dan yang beraviliasi dengan foreign investor untuk memulai investasi yang sifatnya green investement. Makanya BEI sedang melakukan pengkajian, rencananya tahun depan kita akan terbitkan indeks syariah yang berbasis green investment," kata kata direktur pengembangan BEI, Hasan Fawzi, di Jakarta, Kamis (21/11/2019).

Secara rinciannya, indeks pertama yaitu Indeks Leader Syariah Green Investment. Indeks ini akan berisi saham-saham yang memiliki likuiditas tinggi dengan market yang besar serta memenuhi kriteria green investmen. Sedangkan kategori kedua yaitu Composite Green Syariah Investement yang demografinya cukup luas.

"Jadi yang 413 saham syariah itu akan kita seleksi lagi, selain yang syariah tapi juga memenuhi green investment. Sektornya nyampur," kata Hasan.

Di BEI sebenarnya baru memiliki satu indeks green investment, yaitu Sri Kehati. Padahal, dalam empat tahun terakhir, indeks berbasis green investment ini mengalami pertumbuhan sampai empat kali lipat.

Indeks-indeks yang selama ini di pasar modal secara umum diisi dari konvensional. "Peluang untuk pengembangan indeks syariah sebenarnya terbuka luas."

"Ini bukti ada permintaan terhadap green investment. Untuk itu, suplai alternatif green investment ini harus ditambah supaya memenuhi kebutuhan pasar," tutup Hasan.

Indeks saham syariah secara umum, menurut Hasan, mencatatkan kinerja yang positif. Dibandingkan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Kinerja ISSI bahkan jauh lebih baik, termasuk juga kinerja secara global.

Dari sisi transaksi, nilai transaksi saham syariah rata-rata per hari mencapai Rp5,12 triliun dari sekitar Rp9 triliun rata-rata nilai transaksi harian di BEI. Bahkan, dari sisi frekuensi transaksi di BEI, sebanyak 68 persen diantaranya bersumber dari transaksi untuk saham-saham syariah.[]