Rahmah

Tafsir Surah Al-Ma'idah Ayat 48: Perbedaan Paham dan Agama Tidak Boleh Jadi Permusuhan

Kita sering menemukan adanya perbedaan agama atau keyakinan di tengah masyarakat, namun menimbulkan gejolak


Tafsir Surah Al-Ma'idah Ayat 48: Perbedaan Paham dan Agama Tidak Boleh Jadi Permusuhan
Ilustrasi Toleransi (SALEMNET)

AKURAT.CO Kita sering menemukan adanya perbedaan agama atau keyakinan di tengah masyarakat, namun menimbulkan gejolak; saling merendahkan, saling mengolok, bahkan perang secara fisik.

Kondisi demikian tentu saja meresahkan, sebab, agama sendiri tidak pernah mengajarkan umatnya untuk saling berseteru ketika terjadi beda paham keagamaan. Islam, khususnya, mengajarkan untuk saling menjaga dan menghargai.

Dalam salah satu ayat Al-Qur'an QS. Al-Maidah Ayat 48, Allah SWT berfirman:

وَاَنۡزَلۡنَاۤ اِلَيۡكَ الۡكِتٰبَ بِالۡحَـقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ مِنَ الۡكِتٰبِ وَمُهَيۡمِنًا عَلَيۡهِ‌ فَاحۡكُمۡ بَيۡنَهُمۡ بِمَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعۡ اَهۡوَآءَهُمۡ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ الۡحَـقِّ‌ؕ لِكُلٍّ جَعَلۡنَا مِنۡكُمۡ شِرۡعَةً وَّمِنۡهَاجًا ‌ؕ وَلَوۡ شَآءَ اللّٰهُ لَجَـعَلَـكُمۡ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلٰـكِنۡ لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِىۡ مَاۤ اٰتٰٮكُمۡ فَاسۡتَبِقُوا الۡخَـيۡـرٰتِ‌ؕ اِلَى اللّٰهِ مَرۡجِعُكُمۡ جَمِيۡعًا فَيُنَبِّئُكُمۡ بِمَا كُنۡتُمۡ فِيۡهِ تَخۡتَلِفُوۡنَۙ

Artinya: "Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan."

Para ulama tafsir, seperti Imam Ibn Katsir dan Al-Qurthubi, menyebutkan, bahwa setiap umat oleh Allah telah ditentukan syariat dan ajarannya. Allah tidak berkehendak untuk menjadikan semua syariat manusia semuanya sama. Tujuannya agar menguji mereka untuk saling berlomba dalam kebaikan.

Nabi Muhammad Saw bahkan sudah memberi peringatan, agar kita tidak agresif kepada kelompok lain, selama tidak memerangi secara fisik dan melarang kita untuk melakukan ibadah.

Orang yang masih memusuhi orang lain yang berbeda keyakinan, maka tidak akan pernah mencium bau surga,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عمر رضي الله عنهما، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَد مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا. أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ.  

Artinya, “Dari sahabat Abdullah ibn Umar radliyallahu ‘anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: Barangsiapa membunuh seorang mu’ahad (taat kepada kesepakatan bersama meskipun non-Muslim), maka dia tidak akan mencium bau surga. Sesungguhnya bau surga bisa tercium sedari perjalanan 40 tahun” (HR Bukhari).

Begitu juga ditegaskan di dalam ayat yang lain, Allah SWT berfirman: