Lifestyle

Syarat Pengunaan Hydroxychloroquine Untuk Pengobatan Pasien COVID-19


Syarat Pengunaan Hydroxychloroquine Untuk Pengobatan Pasien COVID-19
Obat hydroxychloroquine terlihat ditampilkan oleh seorang apoteker di Rock Canyon Pharmacy di Provo, Utah, AS pada 27 Mei lalu (USA News)

AKURAT.CO Pada kondisi tertentu, penggunaan obat hydroxychloroquine bisa diberikan untuk pengobatan pasien COVID-19. Namun, penggunaan obat satu ini sangat dibatasi karena masuk dalam kategori obat keras.

Meski begitu, obat tersebut sudah diberikan izin oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk beredar, tetapi dengan kriteria tertentu. Mengenai hydroxychloroquine, Ketua Umum Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Dr. dr. Agus Dwi Susanto Sp.P(K) mengatakan bahwa penggunaan obat ini masih cukup aman pada populasi di Indonesia.

Hal ini dilihat dari data-data awal yang menunjukkan bahwa hydroxychloroquine hanya memberikan efek samping yang ringan dan tidak meningkatkan risiko kematian. Selain itu, data awal juga menunjukkan bahwa penggunaan hydroxychloroquine menurunkan lama waktu rawat.

“Tapi kita tentu menunggu hasil akhir dari riset yang sedang dilakukan, kalo hasil akhirnya ternyata memang tidak efektif, tentu kami akan merekomendasikan hal yang berbeda dan akan dihentikan,” jelas dr. Agus dalam dialog mengenai kelanjutan penggunaan hydroxychloroquine pada pasien COVID-19 di Gedung BNPB, Jakarta Timur Rabu (1/7).

Syarat Pengunaan Hydroxychloroquine Untuk Pengobatan Pasien COVID-19 - Foto 1
dr. Agus Dwi Susanto Sp.P(K). Tangkapan Layar Live Youtube BNPB

Di sisi lain, Direktur Registrasi Obat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), L. Rizka Andalucia menyampaikan bahwa pihaknya memberikan ijin obat hydroxycloroquine hanya untuk penggunaan kondisi darurat atau dikenal dengan emergency use authorization.

Rizka mengatakan kalau hydroxycloroquine, chloroquine, dan dexamethasone merupakan obat yang sudah lama diberikan izin edar oleh BPOM untuk indikasi non-COVID dan ketiga obat tersebut adalah obat keras.

Dokter Agus mengatakan bahwa terdapat beberapa persyaratan penggunaan hydroxychloroquine bagi pasien COVID-19, yaitu:

1. Diberikan kepada pasien dewasa dengan usia di bawah 50 tahun

2. Tidak memiliki masalah pada jantung

3. Pada anak, hanya diberikan pada kasus berat dan krisis dengan pemantauan yang ketat

4. Hanya dilakukan pada pasien rawat inap, karena ada efek samping yang harus dipantau

5. Apabila muncul efek samping, harus langsung dihentikan.

“Pasien ringan, sedang, berat bisa diberikan (hydroxychloroquine), yang tidak boleh yang tanpa gejala. Masyarakat diimbau untuk tidak menggunakan secara sembarangan. Penggunaan obat ini hanya atas rekomendasi dokter,” tutup dr. Agus.

Irma Fauzia

https://akurat.co