News

Begini Syarat dan Cara Mengajukan Gugatan Cerai ke Pengadilan Agama

Untuk pasangan yang beragama Islam, gugatan dapat dilayangkan ke Pengadilan Agama.


Begini Syarat dan Cara Mengajukan Gugatan Cerai ke Pengadilan Agama
Ilustrasi perceraian (Pexels/cottonbro)

AKURAT.CO, Setiap rumah tangga pasti menginginkan adanya pernikahan yang bahagia dan harmonis.

Namun, dalam perjalanan hidup tidak semua akan baik-baik saja. Masalah akan selalu menyertai perjalanan hidup orang, terlebih jika  sepasang suami istri sudah tidak bisa menemukan jalan keluar untuk meneruskan hubungan mereka.

Biasanya permasalahan yang sering terjadi dalam rumah tangga itu beragam, mulai dari kekerasan rumah tangga, masalah ekonomi, perselingkuhan dan masih banyak lainnya, sehingga harus menempuh jalur perceraian.

Untuk pasangan yang beragama Islam, gugatan dapat dilayangkan ke Pengadilan Agama. Gugatan perceraian harus diajukan di tempat tinggal mereka yang mengajukan perceraian.

Berikut rangkuman cara mendaftarkan gugatan perceraian sebagaimana dikutip AKURAT.CO dari laman Pengadilan Agama Jakarta Selatan:

Persyaratan pengajuan gugat cerai

1. Surat Gugatan / Surat Permohonan yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan Agama Jakarta Barat, dapat dibuat sendiri (softcopy harus disimpan di Flasdisk/CD) ataupun dengan bantuan POSBAKUM, Tidak dipungut biaya / GRATIS (8 rangkap)

2. Fotocopy Buku Nikah (Halaman Pertama / Yang ada Foto sampai dengan halaman terakhir) diberi materai dan dicap leges di Kantor Pos di kertas A4 (tidak dipotong)

3. Fotocopy KTP dan Kartu Keluarga diberi materai di kertas A4 (tidak dipotong)

4. Buku Nikah Asli / Duplikat

5. Surat Keterangan Ghoib dari kelurahan setempat apabila salah satu pihak ada yang tidak diketahui alamatnya

6. Surat ijin dari Atasan apabila Bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil, TNI, POLRI;

7. Biaya Panjar Perkara akan di hitung saat sudah membuat surat Gugatan atau Permohonan.

Gugatan tersebut memuat antara lain:

1. Nama, umur, pekerjaan, agama, dan tempat kediaman Penggugat dan Tergugat.

2. Posita (fakta kejadian dan fakta hukum).

3. Petitum (hal-hal yang dituntut berdasarkan posita).

4. Penggugat mengajukan gugatan secara tertulis atau lisan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah.

5. Penggugat dianjurkan untuk meminta petunjuk kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah tentang tata cara membuat surat gugatan.

Langkah yang harus dilakukan Penggugat 

1. Mengajukan gugatan secara tertulis atau lisan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah.

2. Penggugat dianjurkan untuk meminta petunjuk kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah tentang tata cara membuat surat gugatan.

3. Surat gugatan dapat dirubah sepanjang tidak mengubah posita dan petitum. Jika Tergugat telah menjawab surat gugatan tersebut harus atas persetujuan Tergugat.

Gugatan tersebut diajukan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah:

1. Yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Penggugat.

2. Bila Penggugat meninggalkan tempat kediaman yang telah disepakati bersama tanpa izin Tergugat, maka gugatan harus diajukan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Tergugat.

3. Bila Penggugat berkediaman di luar negeri, maka gugatan diajukan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Tergugat.

4. Bila Penggugat dan Tergugat bertempat kediaman di luar negeri, maka gugatan diajukan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah yang daerah hukumnya meliputi tempat dilangsungkan pernikahan atau kepada Pengadilan Agama Jakarta Timur.

- Gugatan soal penguasaan anak, nafkah anak, nafkah istri dan harta bersama, dapat diajukan bersama-sama dengan gugatan atau sesudah putusan perceraian memperoleh kekuatan hukum tetap.

- Membayar biaya perkara. Bagi yang tidak mampu, dapat berperkara secara cuma-cuma/prodeo.

- Penggugat dan Tergugat atau kuasanya menghadiri persidangan berdasarkan panggilan Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah.[]