News

Syahganda Nainggolan Nilai Sosok Irjen Napoleon Bonaparte Bak Emas yang Terpendam

Syahganda menilai sosok Napoleon sebagai pemikir yang cerdas.


Syahganda Nainggolan Nilai Sosok Irjen Napoleon Bonaparte Bak Emas yang Terpendam
Irjen Napoleon Bonaparte (Instagram/napoleonbonaparte_88)

AKURAT.CO, Selama 10 bulan berinteraksi dengan Irjen Napoleon, aktivis demokrasi  Syahganda Nainggolan menilai sosok jenderal bintang dua itu ibarat emas yang terpendam. Penilaiannya didasarkan pada pemikiran Napoleon yang maju, bijak, dan demokratis.

"Napoleon ini memang hampir tidak dikenal publik dalam negeri. Kami yang aktivis saja enggak kenal. Saya banyak berinteraksi dengan polisi, tapi Napoleon saya nggak kenal. Ternyata dia emas yang terpendam selama ini, " ucap Syahganda dalam wawancara dengan Rahma Sarita  yang ditayangkan channel Youtube Realita TV, Selasa lalu.

Dalam tayangan itu, Rahma juga mewawancari pengacara Irjen Napoleon Bonaparta, Ahmad Yani.

Sebagai akademisi, Syahganda mengaku melakukan observasi terhadap Irjen Napoleon.  Dia menemukan sosok Napoleon sebagai pemikir yang cerdas. Dia memahami masalah politik internasional, global politik dan politik lokal.

"Ini luar biasa, secara karakter luar biasa. Rendah hati, dan ketika kami berdiskusi bertiga dengan aktivis Jumhur Hidayat, dia bisa mengimbangi kita. Dia juga melakukan hal yang sama dengan Habib Rizieq. Dia mengundang Habib RIzieq ke kamarnya untuk berdiskusi," kata Syahganda.

Ihwal pemukulan terhadap M Kece, Syahganda menilai hal itu sebagai kejadian yang biasa di penjara. Dia mencontohkan kasus pelaku penghina Natalius Pigai yang dibilang gorilla, juga hampir mati di dalam (penjara). Karena ada orang Nigeria kulit hitam yang merasa ikut terhina. Jadi, kata dia, dalam kasus M Kece yang menghina Rasulullah, orang Islam di penjara pasti marah sekali. Termasuk orang Islam yang terlibat dalam kriminalitas sekalipun.

Akhirnya, dia mengaku heran dengan kasus pemukulan M Kece ini. Banyak kasus tahanan Bareskim, mulai perkelahian, pemukulan, minuman. Namun tidak pernah menjadi laporan seperti kasus Napoleon dan M Kece ini. Namun, melihat karakter Napoleon yang kuat, dia mau bertanggungjawab.

Pada bagian lain, Ahmad Yani menilai, sebagai mantan Densus Napoleon pasti memiliki data-data lengkap dengan pertimbangan dan proyeksi masa depan dalam membuat surat terbuka. Karena orang seperti M Kece memang bisa membahayakan persatuan dan kesatuan serta perpecahan umat beragama.[]