Tech

Survei Terbaru Google Ungkapkan 2 dari 3 Respon Orang Indonesia Pernah Mengalami Pelanggaran Data Pribadi

92% responden survei tidak menjaga keamanan sandi.


Survei Terbaru Google Ungkapkan 2 dari 3 Respon Orang Indonesia Pernah Mengalami Pelanggaran Data Pribadi
Ilustrasi keamanan siber. (pixabay.com/vishnu)

AKURAT.CO Atas permintaan Google, agensi riset pasar YouGov pada bulan September melakukan penelitian tanggung jawab digital. Survey ini dilakukan oleh lebih dari 13.000 responden di 11 pasar Asia. Guna mempelajari kebiasaan digital yang kurang aman. 

Di Indonesia sendiri hampir 2 dari 3 pengguna internet pernah mengalami pelanggaran data pribadi atau mengenal orang yang pernah mengalaminya. Meskipun begitu, lebih dari 92% responden yang disurvei mengaku memiliki kebiasaan online yang kurang aman.

Menurut hasil penelitian tersebut, mereka membagikan sandi kepada orang lain, menggunakan sandi yang sama untuk berbagai layanan, dan membuat sandi yang mudah ditebak.

baca juga:

Penelitian ini juga membantu meningkatkan perhatian agar lebih berhati-hati terutama menjelang hari belanja tahunan terbesar, 11.11. Pada periode ini, diprediksi aktivitas berbelanja online dapat meningkat hingga 20%, sehingga lebih banyak orang akan rentan terkena penipuan. Adapun kebiasaan yang masih banyak dilakukan dan berisiko terhadap keamanan sandi, yaitu: 

  • Penggunaan ulang sandi

Selama pandemi, aktivitas belanja online melalui e-commerce meningkat pesat dan rata-rata pengguna internet saat ini memiliki 25% lebih banyak sandi dari pada sebelum pandemi. Rata-rata sekarang orang memiliki sekitar 80 sandi. Yang mana jumlah ini sangat banyak untuk diingat.

Di tengah keadaan ini, penelitian Google menjelaskan bahwa 79% responden di Indonesia bmenggunakan sandi yang sama untuk beberapa situs, dengan 2 dari 5 orang mengaku melakukannya untuk hingga 10 situs yang berbeda. Di antara kelompok ini, 40% mengatakan bbahwa mereka bertindak demikian karena khawatir tidak bisa mengingat sandi, sedangkan 30% beralasan demi kemudahan.

Lebih mengkhawatirkan lagi, separuh dari responden lokal juga mengaku memakai sandi yang mudah ditebak dengan memadukan hal-hal yang paling gampang diretas. Mulai dari tanggal penting, nama pasangan, nama hewan peliharaan, hingga kode pos. Bahkan hampir 1 dari 4 orang mengaku menyimpan sandi dalam aplikasi Catatan di ponsel, yang umumnya tidak dienkripsi secara default. 

Hal ini tentunya akan memunculkan masalah lain, yaitu para pengguna ulang sandi akan dua kali lebih rentan menjadi menjadi korban pencurian data keuangan online.

  • Berbagi sandi

Dalam penelitian ini menemukan bahwa 3 dari 5 responden membagikan sandi kepada teman atau keluarga. Khususnya untuk akun platform streaming, layanan pesan-antar makanan, dan situs e-commerce.