News

Surat Edaran Pengeras Suara Bagus untuk Dipedomani

Surat Edaran Pengeras Suara Bagus untuk Dipedomani
Ketua MUI Pusat Cholil Nafis ( TWITTER/@cholilnafis )

AKURAT.CO, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Cholil Nafis, memberikan tanggapan terkait polemik soal azan dan gonggongan anjing. Menurutnya, Surat Edaran Menteri Agama No SE 05 tahun 2022 yang mengatur penggunaan pengeras suara di masjid dan musala bagus untuk dijadikan pedoman.

"Masalah adzan dan anjing sudah menggelinding dan rasa keberagamaan terasa terganggu. Padahal isi SE-nya bagus untuk dipedomani hanya soal komunikasi," kata Kiai Cholil seperti dilihat redaksi di akun Twitter @cholilnafis.

Dia mengatakan klarifikasi Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas atas ucapannya yang membandingkan suara azan dengan gonggongan anjing untuk menjelaskan aturan dalam surat edaran tidak akan mengakhiri polemik. Lebih dari itu, menurut hemat dia, Menag Yaqut perlu menyampaikan permohonan maaf.

baca juga:

"Klarifikasi tak menyelesaikan masalah karena rasa tak nyaman disamakan dengan gonggongan. Baiknya sudahi polemiknya dengan meminta maaf kepada umat," cuitnya.

"Kadang malas berkomentar soal membandingkan sesuatu yang suci dan baik dengan suara hewan najis mughallazhah. Karena itu bukan soal kinerja tapi soal kepantasan di ruang publik oleh pejabat publik," cuitnya lagi.

Menag Yaqut Cholil Qoumas membandingkan penggunaan toa atau pengeras suara masjid dengan gonggongan anjing untuk menjelaskan alasan volume suara toa masjid dan musala perlu diatur maksimal 100 desibel. 

Hal itu disampaikan Yaqut saat diwawancara media di Pekanbaru Riau untuk menjelaskan pedoman penggunaan pengeras suara di masjid dan musala yang diatur dalam Surat Edaran Menteri Agama No SE 05 tahun 2022.

Selain penggunaan maksimal 100 desibel, surat edaran itu mengatur waktu penggunaan pengeras suara di masjid dan musala disesuaikan di setiap waktu sebelum azan.

"Kita bayangkan, saya muslim saya hidup di lingkungan nonmuslim, kemudian rumah ibadah mereka membunyikan toa sehari lima kali dengan keras secara bersamaan, itu rasanya bagaimana?" kata Yaqut.

"Yang paling sederhana lagi, kalau kita hidup dalam satu kompleks, misalnya. Kiri, kanan, depan belakang pelihara anjing semua. Misalnya menggonggong dalam waktu bersamaan, kita ini terganggu nggak? Artinya apa? Suara-suara ini, apa pun suara itu, harus kita atur supaya tidak jadi gangguan. Speaker di musala-masjid silakan dipakai, tetapi tolong diatur agar tidak ada terganggu," ucapnya.[]