Rahmah

Surah Al-Isra Ayat 32; Arab, Latin dan Kandungan Maknanya

Surah Al-Isra ayat 32 penting sebagai pedoman menjauhi dosa besar.

Surah Al-Isra Ayat 32; Arab, Latin dan Kandungan Maknanya
Ilustrasi Ayat Al-Qur'an (AKURAT.CO/Candra Nawa)

AKURAT.CO Surah Al-Isra merupakan surah ke-17 dalam Al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Surah ini dinamai dengan Al-Isra yang berarti "memperjalankan di malam hari".

Berikut bacaan dari surah Al-Isra ayat ke 32 dengan Arab, latin, dan artinya:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

baca juga:

Walataqrabu az-zina innahu kaana fahisyatan wa sa'an sabiilan

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk“.

Adapun terkait dengan kandungan Surah Al-Isra ayat 32 di atas, para ulama tafsir memberikan banyak komentar. Terutama terkait bahaya dari perbuatan zina bagi umat manusia.

Ibn Katsir dalam Tafsir Ibn Katsir, mengutip pandangan Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Jarir, telah menceritakan kepada kami Salim ibnu Amir, dari Abu Umamah, bahwa pernah ada seorang pemuda datang kepada Nabi SAW, lalu pemuda itu bertanya, "Wahai Rasulullah, izinkanlah aku berbuat zina."

Maka kaum yang hadir memusatkan pandangan mereka ke arah pemuda itu dan menghardiknya seraya berkata, "Diam kamu, diam kamu!"

Rasulullah SAW bersabda, "Dekatkanlah dia kepadaku."

Maka pemuda itu mendekati Rasulullah SAW dalam jaraknya yang cukup dekat, lalu Rasulullah SAW bersabda, "Duduklah!" Pemuda itu duduk, dan Nabi SAW bertanya kepadanya, "Apakah kamu suka perbuatan zina dilakukan terhadap ibumu?"

Pemuda itu menjawab, "Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikan diriku sebagai tebusanmu."

Rasulullah SAW bersabda, "Orang lain pun tentu tidak suka hal tersebut di lakukan terhadap ibu-ibu mereka."

Rasulullah SAW bertanya kembali, "Apakah kamu suka bila perbuatan zina dilakukan terhadap anak perempuanmu?"

Pemuda itu menjawab, 'Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah, semoga diriku menjadi tebusanmu."

Rasulullah SAW bersabda menguatkan, "Orang-orang pun tidak akan suka bila hal itu dilakukan terhadap anak-anak perempuan mereka."

Rasulullah SAW bertanya kembali, "Apakah kamu suka bila perbuatan zina dilakukan terhadap saudara perempuanmu?"

Pemuda itu menjawab, "Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikan diriku sebagai tebusanmu."

Rasulullah SAW bersabda menguatkan, "Orang lain pun tidak akan suka bila hal tersebut dilakukan terhadap saudara perempuan mereka."

Rasulullah SAW bertanya, "Apakah kamu suka bila perbuatan zina dilakukan terhadap bibi (dari pihak ayah)mu?"

Pemuda itu menjawab, "Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikan diriku sebagai tebusanmu."

Rasulullah SAW bersabda, "Orang lain pun tidak akan suka bila perbuatan itu dilakukan terhadap bibi (dari pihak ayah) mereka."

Rasulullah SAW bertanya kembali, "Apakah kamu suka bila perbuatan zina dilakukan terhadap bibi (dari pihak ibu)mu?

Pemuda itu menjawab, "Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikan diriku sebagai tebusanmu."

Rasulullah SAW bersabda, "Orang lain pun tidak akan suka bila hal itu dilakukan terhadap bibi (dari pihak ibu) mereka."

Kemudian Rasulullah SAW meletakkan tangannya ke dada pemuda itu seraya berdoa: Ya Allah, ampunilah dosanya dan bersihkanlah hatinya serta peliharalah farjinya.

Maka sejak saat itu pemuda tersebut tidak lagi menoleh kepada perbuatan zina barang sedikit pun.

Riwayat di atas ingin menegaskan bahwa perbuatan zina adalah perbuatan yang keji, yang semua orang pada dasarnya tidak mau menanggung malu atas perbuatannya. Oleh karena itu, Rasulullah melarang keras pemuda dalam kisah di atas untuk tidak sekali-kali melakukan zina.

Meski demikian, bagi orang yang terlanjur pernah berbuat zina, Islam tetap memberikan tuntunan terbaik. Ini membuktikan bahwa Islam merupakan agama yang rahmah bagi semua manusia.

Syekh Ibrahim Al-Baijuri menyebut orang yang pernah melakukan zina tersebut harus menutup aibnya. Beliau menyebutkan:

يُسَنُّ لِلزَّانِي وَلكُلِّ مَنْ ارْتَكَبَ مَعْصِيَةً أَنْ يَسْتُرَ عَلَى نَفْسِهِ: مَنْ أَتَى مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْأً فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ تَعَالَى، فَإِنَّ مَنْ أَبْدَى لَنَا صَفْحَتَهُ أَقَمْنَا عَلَيْهِ الْحَدَّ رواه الْحَاكِمُ وَالْبَيْهَقِيُّ بِإِسْنَادٍ جَيِّدٍ. ويَتُوبَ بَيْنَه وبَيْنَ اللهِ تعالى فإِنَّ اللهَ يُقْبِلُ تَوْبَتَه إِذَا أَخْلَصَ نِيَّتَه 

Artinya: “Pelaku zina dan orang yang melakukan maksiat lainnya disunahkan menutupi aib dirinya. Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang melakukan perbuatan keji, hendaklah menutupi (aib) dirinya dengan tutupan Allah SWT. Sedangkan orang yang menampakkan ‘muka’-nya di hadapan kami, niscaya kami akan menegakkan hudud baginya,’ HR Al-Hakim dan Al-Baihaqi dengan sanad yang baik. Ia juga disunahkan untuk bertobat atas dosanya kepada Allah. Allah akan menerima pertobatannya bila mengikhlaskan niatnya,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, 1999 M/1420 H, cetakan kedua, juz II, halaman 430).

Selain itu, bahkan orang yang menyebarkan berita perilaku zina harus dikenakan hudud. M Al-Khatib bin Syarbini mengatakan berikut ini:

 فإظهارها ليحد أو يعزر خلاف المستحب ، وأما التحدث بها تفكها فحرام قطعا للأخبار الصحيحة فيه  

Artinya, “Upaya pengakuan maksiat (zina) agar dikenakan sanksi hudud atau takzir menyalahi anjuran agama. Sedangkan bicara (mengakui) maksiat tersebut dengan bergurau jelas haram berdasarkan hadits tersebut,” (Lihat M Khatib bin Syarbini, Mughnil Muhtaj, Beirut, Darul Makrifah, 1997 M/1418 H, cetakan pertama, juz IV, halaman 195).

Selain itu, Muhammad bin Yusuf bin Abil Qasim Al-Abdari menambahkan:

 قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ أَصَابَ مِنْ مِثْلِ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ  قَالَ فِي التَّمْهِيدِ : فِي هَذَا الْحَدِيثِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ السِّتْرَ وَاجِبٌ عَلَى الْمُسْلِمِ فِي خَاصَّةِ نَفْسِهِ إذَا أَتَى فَاحِشَةً ، وَوَاجِبُ ذَلِكَ أَيْضًا فِي غَيْرِهِ 

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa yang melakukan sesuatu dari yang semisal perbuatan yang keji, maka hendaknya ia merahasiakannya dengan tutupan Allah.’ Dalam Kitab At-Tamhid, Ibnu Abdil Barr berkata bahwa hadits ini menunjukkan bahwa ketika seorang Muslim melakukan perbuatan yang keji wajib baginya menutupinya, dan begitu juga menutupi orang lain,” (Lihat Muhammad bin Yusuf bin Abil Qasim Al-Abdari, At-Taj wal Iklil li Mukhtashar Khalil, Beirut, Darul Fikr, 1398 H, juz VI halaman 166).

Demikian bacaan surah Al-Isra ayat 32 dalam bahasa Arab, latin, artinya serta kandungan makna di dalamnya. Secara umum, ayat di atas merupakan larangan berzina, agar umat Islam tidak melakukan perbuatan keji tersebut.[]