News

Supermaket di Selandia Baru Diteror Kasus Penusukan, 5 Terluka, 3 Orang Kritis

Supermaket di Selandia Baru Diteror Kasus Penusukan, 5 Terluka, 3 Orang Kritis


Supermaket di Selandia Baru Diteror Kasus Penusukan, 5 Terluka, 3 Orang Kritis
Dalam foto ini, polisi Selandia Baru tampak berjaga-jaga di area supermarket yang jadi tempat teror penikaman (Arthur Taylor/Facebook)

AKURAT.CO, Sedikitnya lima orang mengalami luka, dan tiga di antaranya kritis setelah teror penikaman melanda sebuah supermarket di kota Dunedin, Selandia Baru.

Dalam insiden ini, polisi mengonfirmasi penangkapan seorang tersangka. Namun, belum diketahui secara pasti identitas tersangka dan apa motif yang melatarbelakanginya. 

Ketidakjelasan motif juga telah diamini oleh Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern. Kendati demikian, ardern turut membeberkan bahwa dalam kasus ini, tidak ada indikasi adanya teror domestik.

"Serangan semacam ini sangat memprihatinkan, dan saya benar-benar ingin menghargai laporan awal dari para saksi yang telah mengambil tindakan berani untuk melindungi orang-orang di sekitar mereka. Pikiran kita tertuju pada semua yang terpengaruh oleh serangan ini," kata Ardern. 

Seperti diwartakan BBC hingga The Guardian, kasus penikaman ini tepatnya terjadi di Supermaket Countdown pada Senin (10/5) sore waktu setempat. 

Saat itu, saksi mata awalnya mendengar kekacauan hingga jeritan di dalam supermarket. Dijelaskan pula bagaimana di tengah-tengah kekacauan itu, terlihat seorang dengan tangan berlumuran darah. 

Setelahnya, orang-orang mulai berhamburan keluar supermarket.  

"Kami baru saja mendengar jeritan dan mengira seseorang pasti jatuh, tetapi suara itu semakin keras dan semakin banyak orang yang berteriak. 

"Saya melihat satu tangan berwarna merah di antara orang-orang; tangan itu berdarah, dan semua orang mulai berlari menuju pintu keluar," kata seorang wanita yang tidak disebutkan namanya kepada Otago Daily Times.

Sementara itu, Komandan Polisi Distrik Selatan Inspektur Paul Basham, menggambarkan insiden pada waktu itu sebagai 'serangan acak'.

Basham juga menjelaskan bahwa pada saat insiden terjadi, para pembeli mampu menghentikan aksi penyerangan yang dilakukan pelaku. 

Karena itulah, hampir sama seperti Ardern, Basham juga akhirnya memuji aksi berani warga hingga menyebut mereka telah melakukan tindakan 'heroik'. Mengingat, kalau bukan karena mereka, jumlah korban yang berjatuhan mungkin akan bertambah.

"Ini adalah peristiwa yang berlangsung dengan sangat cepat dan sangat traumatis bagi setiap orang di supermarket itu (termasuk) para korban yang terluka, mereka yang mencoba turun tangan dan mereka yang harus melarikan diri ke tempat yang aman. 

"Meskipun kami yakin bahwa kami menahan seseorang yang dinilai bertanggung jawab, kami sedang dalam tahap paling awal dari penyelidikan kami atas situasi tersebut."

"Ini termasuk memahami motivasi serangan ini yang akan menjadi komponen kunci dari investigasi. Namun, dari apa yang kami ketahui saat ini, kami yakin ini adalah serangan acak," ungkap Basham dalam sebuah pernyataan.

Polisi dan Badan Kesehatan kabupaten setempat mengatakan lima orang telah dibawa ke rumah sakit setelah serangan itu. Dari kelima orang itu, salah satunya dikonfirmasi adalah pelaku yang menderita luka ringan. 

Sementara, empat lainnya disebutkan adalah warga sipil, dan mereka terluka parah. Kemudian, tiga diantara mereka kini dalam perawatan intensif. 

Sama seperti tersangka, keempat warga sipil yang terluka itu sampai sekarang juga masih belum terungkap identitasnya.

Kendati demikian, media lokal membeberkan bahwa dari empat warga sipil yang terluka berasal dari para karyawan dan pelanggan supermarket Countdown. 

Countdown mengatakan dalam pernyataan media bahwa pihaknya 'terkejut dan hancur oleh kejadian yang menimpa supermarket Senin sore ini. Mereka juga menambahkan bahwa supermarket akan ditutup untuk setidaknya sampai Selasa (11/5) besok.

"Setelah peristiwa traumatis ini, prioritas kami saat ini adalah anggota tim kami yang cedera, dan mengurus tim lainnya.

"Kami (juga) sangat sedih karena pelanggan yang mencoba membantu anggota tim kami juga terluka," terang pihak Countdown dalam sebuah pernyataan.

Insiden kekerasan massal sebenarnya jarang terjadi di Selandia Baru. Namun, pada 2019 lalu, negara ini sempat mengalami teror hebat di mana lebih dari 50 orang tewas karena ditembak oleh seorang supremasi kulit putih Australia. Teror itu melanda dua masjid di Christchurch dan terjadi tepat ketika warga muslim tengah melaksanakan ibadah salat Jumat.[]

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu