Tech

Sulawesi Jadi Pusat Lokasi Penemuan Spesies Baru Sepanjang 2021

88 spesies baru, terdiri dari 75 spesies fauna dan 13 spesies flora berhasil ditemukan di tahun 2021.


Sulawesi Jadi Pusat Lokasi Penemuan Spesies Baru Sepanjang 2021
Spesies Krustacea. (brin.go.id)

AKURAT.CO, Pada akhir tahun 2021, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil  mengungkapkan 88 spesies baru untuk data biodiversitas Indonesia.

Penemuan tersebut didominasi oleh fauna, dengan jumlah 75 spesies, sisanya flora sebanyak 13 spesies.

Dari keseluruhan penemuan tersebut, hampir sebagian besar spesies baru yang ditemukan merupakan endemik flora dan fauna dari lokasi penemuannya.

baca juga:

Hanya lima spesies berasal dari spesimen yang sampelnya diambil dari luar pulau Indonesia, yaitu Papua Nugini, sisanya mayoritas dari Pulau Sulawesi.

Selanjutnya spesimen lain berasal dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali dan beberapa pulau Indonesia lainnya.

Dari 75 spesies fauna baru yang berhasil diidentifikasikan, 68% fauna endemik berasal dari Sulawesi.

Kelompok fauna ini yaitu jenis baru kumbang, celurut, ular, cacing, udang dan ikan. Sedangnya 32% sisanya berasal dari kelompok coleoptera, cicak, kadal, katak, kecoa, burung, ikan, isopoda,dan krustasea yang ditemukan di beberapa tempat di Indonesia dan Papua Nugini.

Sementara itu dari 13 spesies flora yang ditemukan 54% dari Sulawesi. Jenis flora yang ditemukan antara lain begonia, jahe-jahean, anggrek, Cyrtandra, Bulbophyllum, Artocarpus. Sedangkan sisanya ditemukan di Pulau Sumatera, Jawa Barat dan Filipina.

Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Hayati (OR-IPH) BRIN, Iman Hidayat mengatakan, Indonesia merupakan negara dengan kekayaan biodiversitas terbesar di dunia yang meliputi kekayaan hayati darat dan laut. Namun, jumlah yang berhasil diungkap dan terekam saat ini masih minim. 

"Beberapa peneliti memperkirakan jumlah keanekaragaman hayati yang sudah ditemukan saat ini baru sekitar 10% dari total potensi keanekaragaman hayati yang ada," kata Iman Hidayat melalui keterangan tertulisnya laman BRIN.

Kepala Pusat Riset Biologi, Anang S. Achmadi menjelaskan, keberhasilan peneliti BRIN dalam mengungkap spesies baru Indonesia ibarat menemukan harta karun di bumi pertiwi. Harus melalui proses penelitian panjang. Mulai dari eksplorasi, studi koleksi museum hingga penggunaan teknologi untuk proses identifikasi. 

"Perjalanan penelitian tidak serta merta berhenti setelah menemukan spesies baru. Nantinya akan muncul banyak penelitian lanjutan yang dapat dilakukan terhadap penemuan spesies baru tersebut. Seperti kandungan zat aktif apa yang terdapat pada spesies ini, atau menjadi indikator lingkungan perubahan lingkungan,” ujar Anang.

Selain itu, upaya konservasi lain yang telah dilakukan BRIN sejak puluhan diwujudkan dalam bentuk depositori dan repositori ilmiah yang tersimpan dalam Museum Zoologicum Bogoriense, Herbarium Bogoriense, dan Indonesian Culture Collection.

Adapun penemuan 75 spesies fauna baru yang berhasil dicatatkan, terdiri dari:

Kumbang - Coleoptera

Penemuan spesies fauna kembali mendominasi di tahun ini. Jenis kumbang paling banyak ditemukan, berlokasi di Sulawesi. 

Pramesa Narakusumo, Peneliti Pusat Riset Biologi (PRB) menjelaskan terdapat 28 kumbang moncong (Insecta: Coleoptera: Curculionidae) berasal dari genus trigonopterus. Khusus untuk kumbang moncong yang tidak dapat terbang dan tinggal di lokasi-lokasi terisolir di hutan pegunungan, diyakini telah berevolusi secara cepat selama jutaan tahun, sehingga tingkat endemisitas dan biodiversitasnya sangat tinggi.

Sih Kahono, Peneliti PRB juga menemukan lima spesies coleoptera, yaitu tiga dari genus merklomaia, dan masing masing satu dari genus barongus, enaceratos, dan margites.

Untuk Enacerators inexpectus dan Barongus sugiartoi ditemukan di Kalimantan Selatan.

Sedangkan dari genus merklomaia yaitu Merklomaia viridipennis ditemukan di Sulawesi Utara, Merklomaia palopoensis dari Sulawesi Selatan dan Merklomaia ottoi dari Sumatera bagian utara.

Penemuan spesies baru untuk kelompok genus margites, yaitu Margites uenoi, juga ditemukan Sih Kahono di Kalimantan Timur.

Coleoptera jenis ini memiliki tubuh kecil dibanding ukuran kumbang pada genus yang sama. Secara fisik spesies ini bewarna hitam, coklat kehitaman di antena dan kaki, coklat di perut, serta tubuh diselimuti rambut kuning keputihan.

Mamalia - Celurut

Untuk 14 celurut jenis baru yang termasuk genus crocidura, juga diyakini fauna endemik Sulawesi. 

Anang S. Achmadi, Peneliti sekaligu Plt. Kepala Pusat Riset Biologi bersama dengan Jake Esselstyn, ahli mamalia dari Lousiana State University (LSU), Amerika Serikat dan Kevin C.

Rowe, ahli mamalia dari Museum Victoria Australia menyatakan jika penemuan ini menjadi penemuan terbesar dari kelompok mamalia yang terpublikasikan sejak tahun 1931.

Sejauh ini terdapat 461 spesies celurut yang telah teridentifikasi. Fauna ini memiliki distribusi yang sangat luas dan mendunia.

Hewan pemakan serangga ini adalah kerabat dekat dari landak dan moles daripada jenis mamalia lainnya

Reptil - Cecak

Beberapa reptil jenis baru juga ditemukan Awal Riyanto, Peneliti Zoologi dari Pusat Penelitian Biologi, yaitu cecak jenis baru yang diberi nama Cyrtodactylus hamidy (Cecak Jarilengkung) dari Kalimantan dan ular jenis baru dengan nama Oligodon tolaki dari Sulawesi dan kadal bernama ilmiah Gonocephalus megalepis dari Sumatera

Amphibi

Beberapa katak jenis baru juga ditemukan. Diantaranya dari genus megophrys, chirixalus, dan occidozyga.

Amir Hamidiy menjelaskan chirixalus pantaiselatan berasal dari Hutan Dataran Rendah Jawa, dua Katak Tanduk (Megophrys) ditemukan di Sumatera Selatan (Megophrys selatanensis) dan Aceh (Megophrys acehensis), serta Occidozyga berbeza dari Borneo Malaysia.

Menurut Amir Chirixalus termasuk kelompok katak rhacophorid kecil dengan panjang tubuh jantan = 25,3–28,9 mm. Secara morfologi jenis ini paling mirip dengan Chirixalus nongkhorensis dari Chonburi, Thailand.

Pola warna punggungnya serta secara genetik paling dekat dengan Chirixalus trilaksonoi yang juga berasal dari Jawa Barat.

Saat ini, status konservasi Chirixalus pantaiselatan kemungkinan terancam kritis. Berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN) kriteria Daftar Merah Spesies Terancam tingkat kemunculannya <100 km2, luas huniannya <10 km2, dan hanya ditemukan di satu lokasi, yang kualitas habitatnya menurun.

Berbeda dengan chirixalus, Megophrys memiliki karakekter unik. Di mana ujung moncong dan kelopak matanya termodifikasi menjadi tonjolan lancip (menyerupai tanduk).

Berudu dari marga megophrys juga memiliki karakter unik dimana mulutnya termodifikasi menjadi bentuk corong yang melebar.

Saat ini, 13 spesies Megophrys diketahui terdapat di Asia Tenggara, antara lain Thailand, Semenanjung Malaysia, Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Filipina. Kalimantan memegang rekor tertinggi karena enam spesies diantaranya ditemukan di pulau ini.

Tak hanya itu, katak dari genus Megophrys juga memiliki keragaman morfologi yang samar. Saat melakukan survei herpetofauna di seluruh jajaran Pegunungan Bukit Barisan Sumatera ditemukan populasi Megophrys Sumatera bagian selatan dengan kulit punggung halus yang secara morfologis mirip dengan M. montana dari Jawa dan populasi yang menyerupai kulit punggung M. parallela dari Sumatera bagian utara. 

Nematoda - Cacing

Untuk kategori nematoda, Peneliti Zoologi menemukan dua jenis baru yaitu Vegeloides morowaliensis dan Spinicauda ciremaiensis.

Endang Purwaningsih, Peneliti Zoologi menjelaskan karakteristik fisik cacing parasit jantan Vegeloides morowaliensis yang ditemukan memiliki panjang 12,38mm. Spesimen cacing yang ditemukan di Sulawesi dan Maluku ini memiliki anterior tip 6 bibir yang tebal, dua amfid dan empat buah papila kepala. 

Sementara itu, untuk jenis baru Spinicauda ciremaiensis dari Gunung Ciremai, Jawa Barat, Peneliti Zoologi Kartika Dewi menyebutkan cacing berukuran kecil tersebut memiliki kepala seperti terpisah dari badan.

Spinicauda ciremaiensis merupakan satu-satunya jenis dari marga Spinicauda yang mempunyai aksesoris gubernakulum yang menebal.

Karakterisitik fisik jenis baru tersebut memiliki mulut dengan tiga buah bibir. Masing-masing tepi bibir mempunyai tiga bukit. Esofagus mempunyai bulbus esofagus. Panjang cacing jantan 3.84 (3.31–4.41) mm.

Terdapat organ penghisap pada sebelum kloaka dan terdpat 14 pasang papila pada bagian posterior jantan. Ekor melengkung ke arah ventral dengan panjang 195 (160–250) µm. 

Spinicauda ciremaiensis merupakan satu-satunya jenis dari marga Spinicauda yang mempunyai aksesoris gubernakulum yang menebal.

Krustacea

Menurut Conni Margaretha Sidabalok, penemuan isopoda yang diberi nama Dolichiscus selatan menjadi jenis keempat dari genus dolichiscus yang ditemukan di wilayah Indo-Pasifik.

Spesies yang ditemukan di di Samudra Hinda sisi selatan Jawa dan di Selat Sunda pada kedalaman 312-1068m merupakan hewan endemik di lokasi tersebut.

Sementara itu penemuan lima (5) krustasea lainnya yang ditemukan oleh Daisy Wowor dari Danau Poso Sulawesi yaitu Caridina fusca, Caridina lilianae, Caridina marlinae, Caridina mayamareenae, Caridina poso merupakan udang endemik Sulawesi.

Caridina fusca memiliki rostrum (tanduk pada kepala) lurus atau agak melengkung, panjangnya sedang, terdapat 5-7 gigi di belakang mata dan 12-17 gigi tersebar sepanjang tepi atas tanduk, serta 7-9 gigi di sepanjang tepi bawah tanduk.

Badannya berwarna merah tua atau kecoklatan dengan bintik-bintik kecil berwarna biru, dan biasanya terdapat 4 pita putih melintang yang jelas pada bagian segmen perut.

Sementara, Caridina lilianae memiliki rostrum (tanduk pada kepala) panjang dan langsing, melengkung ke atas, terdapat 3-6 gigi di belakang mata dan 10-20 gigi tersebar hampir di sepanjang setengah belakang tepi atas tanduk, serta 6-18 gigi di sepanjang tepi bawah tanduk. Badannya berwarna merah cerah dengan bintik-bintik besar berwarna putih.

Caridina marlenae memiliki rostrum (tanduk pada kepala) panjang dan langsing, melengkung ke atas, terdapat 3-6 gigi di belakang mata dan 10-20 gigi tersebar hampir di sepanjang setengah belakang tepi atas tanduk, serta 6-18 gigi di sepanjang tepi bawah tanduk. Badannya berwarna merah cerah dengan bintik-bintik besar berwarna putih.

Berbeda dengan jenis lainnya, Caridina mayamareenae memiliki rostrum (tanduk pada kepala) sangat tinggi, tepi atas lurus atau sedikit cembung, bagian depan tepi bawah cembung. Ada 4-7 gigi di belakang mata dan 10-19 gigi di sepanjang tepi atas rostrum, dan 4-12 gigi tersebar di bagian depan tepi bawah rostrum. Badan betina berwarna agak putih dengan beberapa pita lebar dan bercak-bercak berwarna merah cerah, sedangkan jantan umumnya transparan dengan beberapa bercak berwarna putih.

Sedangkan Caridina poso memiliki rostrum (tanduk pada kepala) sangat panjang dan langsing, melengkung ke atas, terdapat 3-5 gigi di belakang mata dan 8-14 gigi tersebar hampir di sepanjang 0.2-0.5 belakang tepi atas tanduk, serta 19-37 gigi di sepanjang tepi bawah tanduk. Badan dan kaki berbelang kemerahan dengan bintik-bintik berwarna putih yang terjajar beberapa baris, pada ujung ekornya terdapat 1 bercak hitam dan putih yang besar, kumisnya berwarna merah tua, kaki berwarna putih dengan jari-jari berwarna merah.

Selain itu Mulyadi, Peneliti Zoologi juga menemukan spesies baru dari kelompok krustasea yaitu dari genus labidocera dan pontella. Diantaranya Labidocera baliensis dari Bali, Labidocera gagensis dari Pulau Gag Papua, Pontella nishidai dari Jawa Timur dan Pontella gilimanukensis dari Bali. Sementara itu di Selat Sunda, Dharma Arif Nugroho juga menemukan kepiting jenis baru yang diberi nama Oreotlos octavus-kepiting.

Ikan

Ikan jenis baru yang diberi nama Eleotris douniasi hanya ditemukan di Kalimantan. Menurut Hadi Dahruddin, ikan jenis baru ini hidup di hilir sungai, air berlumpur hingga jernih.

Untuk karakteristik warna hampir sama pada jantan dan betina. Seluruh tubuh hampir semua berwarna coklat tua. Selain itu, pipi dan operkulum agak coklat dengan titik kekuningan dari moncong ke operkulum, begitupun dengan bibir. Bagian lateral tubuh dengan beberapa sisik kekuningan. Daerah perut dan gular keabu-abuan dengan bintik-bintik gelap/pucat kecil yang tersebar.

Selain spesies baru di atas terdapat tiga spesies baru ikan lainnya yang berhasil diidentifikasikan yaitu Eleotris woworae, Eleotris sumatraensis dan Schismatogobius limmoni dari Sulawesi

Tidak hanya itu, untuk kelompok serangga juga ditemukan kecoa jenis baru yaitu Nocticola baumi dari Papua Nugini dan burung jenis baru bernama ilmiah Melanocharis berrypecker juga dari Papua Nugini

Sementara itu, untuk penemuan 13 Spesies Flora Baru terdiri dari:

Tumbuhan berbunga (gesneriaceae) menjadi temuan terbanyak di bidang botani. Terdapat empat spesies cyrtandra baru yang ditemukan oleh A.Kartonegoro,seorang ahli Botani dari Pusat Riset Biologidi Sulawesi yaitu Cyrtandra balgooyi, Cyrtandra flavomaculata, Cyrtandra longistamina, dan Cyrtandra parvicalyx.

Untuk genus begonia ditemukan dua jenis baru, yaitu Begonia robii dari Sumatera Barat dan Begonia willemii dari Sulawesi Tengah.

Menurut Deden Girmansyah Peneliti Botani dari Pusat Riset Biologi kedua jenis baru tersebut merupakan jenis endemik Sumatera dan Sulawesi.

Begonia willemii merupakan seksi dari petermannia. Untuk Begonia robii memiliki karakteristik batang yang menjalar, daun bercorak totol totol, dan memiliki bunga bewarna putih.

Sementara Wita Wardani, Peneliti Botani Pusat Riset Biologi beserta tim juga berhasil mengidentifikasikan tumbuhan pteridofita jenis baru, yaitu Deparia stellata.

Berdasarkan spesimen tipe yang dikoleksi oleh W.R. Barker dalam Ekspedisi Pegunungan Bintang tahun 1975. Ekspedisi tersebut merupakan perjalanan eksplorasi botani kolaboratif antara Rijksherbarium Belanda dengan herbarium nasional Papua Nugini.

Selain itu, beberapa spesies lain juga ditemukan, diantaranya jahe-jahean (zingiberaceae), yaitu Etlingera comosa dari Sumatera dan Zingiber ultralimitale subsp. Matarombeoense dari Sulawesi. Sedangkan dari jenis jamur ditemukan Marasmius jasingensis dari Jawa Barat.

Jenis lainnya yang ditemukan, yaitu Bulbophyllum mamasaense dari Sulawesi, Artocarpus bergii dari Maluku dan Impatiens dairiensis Sumatera. Sedangkan dari luar Indonesia ditemukan jenis baru, yaitu Freycinetia quezonensis dari Filipina.[]