Lifestyle

Suku Osing, Uniknya Perpaduan Jawa dan Bali

Suku Osing adalah keturunan yang tersisa dari Kerajaan Blambangan yang menjadi cikal bakal Banyuwangi


Suku Osing, Uniknya Perpaduan Jawa dan Bali
Tradisi Angklung Paglak Suku Osing (WIKIPEDIA)

AKURAT.CO, Provinsi Jawa Timur identik dengan Suku Jawa dan Madura. Namun, provinsi yang satu ini ternyata masih mempunyai beragam suku lainnya. Salah satunya adalah Suku Osing, atau yang sering disebut  dengan Laros atau Lare Osing dan Wong Blambangan. 

Kata Osing sendiri atau Using artinya 'tidak' atau dalam bahasa Jawa ‘Orak’. Menurut catatan, Suku Osing adalah keturunan yang tersisa dari Kerajaan Blambangan yang menjadi cikal bakal Banyuwangi. Setelah Majapahit runtuh oleh Kesultanan Demak, Blambangan menjadi Kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa.

Kerajaan Blambangan menjadi alasan Kesultanan Mataram Islam tak bisa menyebarkan agama Islam dan pengaruhnya ke Pulau Bali yang beragama Hindu. Posisi Kerajaan Blambangan yang berada di antara Jawa dan Bali membuatnya mendapat pengaruh dari keduanya. Apalagi Blambangan sempat berada di bawah kekuasaan raja-raja Buleleng dan Mengwi.

Suku Osing, Uniknya Perpaduan Jawa dan Bali - Foto 1
Suku Osing PHINEMO

Meskipun menjadi sub-kultur dari Jawa, tetapi bahasa, budaya, dan adat kebiasaan dari Suku Osing sangat berbeda, dikutip AKURAT.CO pada Jumat, (26/11/2021).

Suku Osing juga mempunyai bahasa sendiri dalam kehidupan sehari-hari, yaitu Jawa kuno, dengan sedikit pengaruh dari bahasa Bali. Ada dua jenis sistem bahasa yang digunakan dalam Bahasa Osing yaitu Bahasa Osing (bahasa sehari-hari) dan goko-krama.

Untuk pakaian adat, wanita menggunakan kebaya berwarna hitam sedangkan pria memakai udeng khas Banyuwangi. Jika dilihat sekilas, udeng ini mirip dengan Udeng Bali tetapi posisi lipatannya berbeda. Udeng khas Banyuwangi memiliki lipatan di sisi kanan dan kirinya. Sedangkan lipatan udeng Bali ada di bagian depan.

Suku Osing, Uniknya Perpaduan Jawa dan Bali - Foto 2
Suku Osing WIKIPEDIA

Adapun beragam tradisi dan adat istiadat Suku Osing diantaranya: 

  • Memainkan Angklung Paglak saat musim panen tiba.
  • Karnaval Barong Ider Bumi yang diseleggarakan setiap tanggal dua bulan Syawal.
  • Tradisi Tumpeng Sewu merupakan tradisi makan besar, dipercaya bisa menjauhkan malapetaka.
  • Tradisi Mepe Kasur (jemur kasur) yang rutin dilakukan pada bulan Dzulhijah bersamaan dengan acara selamatan desa.

Suku Osing masih menjaga, melestarikan dan melaksanakan kebudayaannya maupun adat dan tradisi. Mak atak heran bila Desa Wisata Osing menjadi salah satu dari 16 Desa Wisata penerima piagam penghargaan Sertifikasi Desa Wisata berkelanjutan tahun 2020, oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno.[]