Ekonomi

Suku Bunga Acuan Naik, Ini Asumsi dari BTN Soal KPR di Indonesia!

Suku Bunga Acuan Naik, Ini Asumsi dari BTN Soal KPR di Indonesia!
Kepala Divisi Subsidized Mortgage Lending PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Mochamad Yut Penta dalam webinar Mengatasi Backlog Perumahan di Tengah Tren Kenaikan Suku Bunga di Jakarta yang digelar Akurat.co dan didukung oleh PT Bank Tabungan Negara (BTN), PT Sarana Multigriya Finansial (SMF), dan BP Tapera, Rabu (5/10/2022). (Tangkapan Layar Webinar AkuratCo)

AKURAT.CO Kepala Divisi Subsidized Mortgage Lending PT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk, Mochamad Yut Penta mengatakan dampak kenaikan harga energi dan bahan pangan turut memicu inflasi di Tanah Air.

Tak hanya itu saja, ia juga memperkirakan pertumbuhan kredit pada 2022 berada pada kisaran 8 hingga 9 persen. Dimana pertumbuhan ini cukup penting yang beriringan dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) berada pada kisaran 7 hingga 8 persen.

Sebagaimana diketahui, Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 50bps pada september 2022 menjadi 4,25 persen, seiring kenaikan inflasi dan risiko kenaikan inflasi inti dampak kenaikan harga BBM. Atas dasar asumsi tersebut, Penta memperkirakan BI juga akan menaikan suku bungannya minimal 25 bps sehingga menjadi 4,50 persen.

baca juga:

"Suku bunga acuan BI kami perkirakan akan naik kembali minimal sebesar 25 bps menjadi 4,50 persen hingga akhir tahun 2022," jelas Penta dalam webinar Mengatasi Backlog Perumahan di Tengah Tren Kenaikan Suku Bunga di Jakarta yang digelar Akurat.co dan didukung oleh PT Bank Tabungan Negara (BTN), PT Sarana Multigriya Finansial (SMF), dan BP Tapera, Rabu (5/10/2022).

Kemudian, Penta juga mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi dalam sektor perumahan pada Produk Domestik Bruto (PDB) juga naik turun cukup dalam, namun tidak dengan sektor Real Estate, dimana sektor tersebut lebih stabil dibandingkan dengan PDB-nya.

Sehingga hal ini tak ayal menjadikan isu kepemilikan properti menjadi turut suram, ditengah sulitnya masyarakat Indonesia untuk memiliki rumah.

“Pertumbuhan kredit, cukup penting. Kita perhatikan bahwa akan dikisaran 8 hingga 9 persen finishnya, DPK 7 hingga 8 persen. Sementara pada tahun 2023 diperkirakan kredit akan tumbuh cukup tinggi di 11 hingga 12 persen dan dan pertumbuhan DPK tetap berada di kisaran 7 hingga 8 persen,” jelasnya

Lebih lanjut, untuk jumlah keseluruhan atau demand KPR, Penta mengatakan baik subsidi maupun non subsidi masih tinggi. Diperkirakan KPR dapat tumbuh sebesar 12,5 persen di 2022 untuk kemudian meningkat menjadi 13,5 persen di 2023. 

“Sementara untuk demand KPR subsidi maupun non subsidi diperkirakan masih cukup tinggi yaitu sebesar 12,5 persen di 2022 dan meningkat 13,5 persen di 2023. Sementara dari sisi supply nya yaitu untuk kredit ke sektor real estate diperkirakan tumbuh sebesar 8,0 persen di tahun 2022 dan 9,0 persen di tahun 2023," jelas Penta.