Olahraga

Suka Duka Jadi Voulenteer Asian Games? Ini Curhatan Mereka


Suka Duka Jadi Voulenteer Asian Games? Ini Curhatan Mereka
Panitia pelaksana di venue Boling bersama para relawan (Voulenteer) Asian Games 2018 (AKURAT.CO/ Anang Fajar Irawan)

AKURAT.CO, Perhelatan Asian Games Jakarta-Palembang 2018 memang sudah berakhir. Tapi tidak demikian dengan kisah dan cerita-cerita dari mereka yang terlibat di pesta olahraga terbesar se-Asia tersebut.

Sebelum meninggalkan kota Palembang usai Asian Games, akhir pekan lalu, tim AKURAT.CO sempat mewawancarai beberapa relawan atau Voulenteer di Media Press Center (MPC) di kota Palembang yang terletak di Gedung Sriwijaya Promotion Center, Jakabaring.

Tri Ayu Apriani, salah satu relawan yang bertugas di desk Media and Public Relation ini memang bertugas di Palembang. Tapi sebenarnya dia berdomisili di Bekasi, Jawa Barat.

Ada juga Desi Nurvita Sari, Voulenteer yang rela datang jauh-jauh dari Kulon Progo, Yogyakarta, menuju Palembang hanya untuk merasakan pengalaman menjadi relawan di Asian Games.

Suka Duka Jadi Voulenteer Asian Games Ini Curhatan Mereka - Foto 1
Tri Ayu Apriani (kiri atas) dan Desi Nurvita Sari (tengah bawah berkacamata), dua orang relawan (Voulenteer) di Asian Games 2018 berasa dari luar Palembang, saat bertugas di venue Boling. AKURAT.CO/ Anang Fajar Irawan

Kisah keduanya amat jelas menunjukkan jika event Asian Games sebagai magnet besar yang membuat siapa pun ingin menjadi bagian untuk menyukseskan.

"Ini moment langka di mana Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games. Saya tidak mau melewatkan kesempatan ini untuk terlibat langsung. Makanya saya mendaftar secara online menjadi relawan," kata Desi kepada AKURAT.CO.

"Kenapa saya pilih Palembang karena belum pernah ke sini. Kalau ke Jakarta kan jaraknya lebih dekat dari Yogyakarta, Jadi saya pilih yang jauh sekalian untuk merasakan pengalaman lebih dan belum tentu dapat izin dari orang tua kalau bukan karena Asian Games. Jadi Voulenteer ini bukti nyata kami ikut menyukseskan Asian Games dan berkontribusi untuk Indonesia," terusnya.

Menjalani tugas utama untuk menangani media yang notabene tak hanya dari Indonesia, Ayu dan Desi menuturkan pengalamannya selama di kota Bumi Sriwijaya.

"Kita di sini tugas utamanya melayani para awak media. Beragam karakter kita temui, mulai dari yang kita dimarah-marahi atau dijutekin karena beberapa miss komunikasi, sampai akhirnya disenyumin. Ada juga media asing yang baik banget sampai kita tukar mata uang masing-masing negara, seru!," kisahnya.

Saat ditanya pengalaman yang terlupakan saat meng-handle media, Ayu mengisahkan, "Selain di MPC, kita juga bertugas di venue Boling. Masalah media rules sering kita alami, seperti titik-titik mana saja yang boleh ditempati wartawan foto, lalu saat kita tegur mereka malah bilang 'Kita kan tuan rumah, kok dipersulit aksesnya', semacam itu lah".

"Tapi saya coba menjelaskan sebaik mungkin supaya mereka mengerti. Media asing yang paling disiplin itu dari Jepang, selain mereka tepat waktu, mereka juga mudah diberi arahan. Cukup satu kali kita jelaskan, mereka bisa mematuhi," imbuh Ayu.

Bisa dikatakan, keduanya beruntung bisa merasakan pengalaman di Asian Games 2018. Sebab, pesta olahraga ini adalah yang terbesar di Asia, dan tidak ada yang tahu kapan lagi Indonesia bakal menjadi tuan rumah. Sebelum 2018, Indonesia pernah menjadi tuan rumah di tahun 1962.