News

Sudan Makin Mencekam! Militer Bubarkan Pemerintah, Massa Pro-Demokrasi Ditembaki

Al-Burhan mengatakan bahwa militer akan melanjutkan proses menuju demokrasi, tetapi membubarkan Dewan Kedaulatan.


Sudan Makin Mencekam! Militer Bubarkan Pemerintah, Massa Pro-Demokrasi Ditembaki
Jenderal Angkatan Darat Abdel Fattah al-Burhan mengumumkan keadaan darurat nasional, membubarkan otoritas yang memimpin transisi negara menuju demokrasi, dan mengatakan agenda pembentukan pemerintahan baru (Sudan TV via AFP)

AKURAT.CO  Kekisruhan politik di Sudan makin menjadi-jadi setelah militer menahan Perdana Menteri (PM) Abdalla Hamdok dan beberapa menterinya. Dalam perkembangan terbaru, Jenderal terkemuka Sudan membubarkan pemerintahan transisi dan memberlakukan keadaan darurat. 

Jenderal Abdel-Fattah al-Burhan mengumumkan pembubaran itu melalui televisi pada Senin (25/10), tidak lama setelah pasukan militer menangkap Hamdok dan pejabat lainnya. 

Dalam pengumumannya, Al-Burhan mengatakan bahwa militer akan melanjutkan proses menuju demokrasi, tetapi membubarkan Dewan Kedaulatan. Sementara diketahui, Dewan Kedaulatan yang saat ini berkuasa adalah badan gabungan militer dan sipil yang dibentuk untuk menjalankan negara sejak Presiden Omar al-Bashir digulingkan.

"Kami telah memulai jalan kami menuju negara penuh kebebasan dan perdamaian, tetapi beberapa kekuatan politik masih berusaha untuk mempertahankan segalanya di tangan mereka, tanpa memperhatikan ancaman politik, ekonomi dan sosial," katanya.

Al-Burhan menambahkan militer akan menunjuk pemerintah teknokratis untuk memimpin negara itu ke pemilihan, yang ditetapkan pada Juli 2023. Namun, dia menjelaskan bahwa militer akan tetap menjadi pihak yang 'memegang kendali'.

"Angkatan Bersenjata akan terus menyelesaikan transisi demokrasi sampai penyerahan kepemimpinan negara kepada pemerintah sipil yang terpilih," sambung Al-Burhan.

Menurut kementerian informasi Sudan, langkah itu jelas merupakan bentuk 'kudeta militer', di mana militer nekat membubarkan Dewan Berdaulat serta pemerintah yang dipimpin Hamdok.

BacaJuga: Kudeta Kembali Pecah di Sudan, PM Abdalla Hamdok dan Para Menteri Jadi Tahanan Militer

Sementara militer memegang kendali, ribuan pengunjuk rasa pro-demokrasi yang mendukung pemerintahan ramai menggelar demonstrasi. Merka membanjiri jalan-jalan ibu kota Khartoum hingga jembatan di atas Sungai. Rekaman yang dibagikan secara online menunjukkan pengunjuk rasa memblokir jalan-jalan dan membakar ban. Gumpalan asap dari ban yang terbakar memenuhi kota, dengan pengunjuk rasa terdengar meneriakkan slogannya. 

"Rakyat lebih kuat, Mundur bukanlah pilihan!" kata para pengunjuk rasa. 

Sementara massa bergerak, pasukan keamanan sibuk menembakkan gas air mata. Namun, menurut laporan Reuters, demonstrasi makin berujung ricuh setelah tentara Sudan menembaki para pengunjuk rasa pro-demokrasi dengan peluru tajam. Karena aksi pasukan militer, sejumlah demonstran akhirnya mengalami luka, kata komite dokter Sudan di halaman Facebook-nya. 

Aksi militer yang menembaki massa yang memprotes juga telah dikonfirmasi oleh kementerian  informasi. 

"Pasukan militer telah menembakkan peluru tajam ke pengunjuk rasa yang menolak kudeta militer di luar markas tentara," kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan di Facebook, seraya menambahkan bahwa 'akan ada korban'.

Selain menembaki para pengunjuk rasa, militer juga dilaporkan telah menggerebek markas televisi dan radio serta mematikan internet. Bandara ibu kota ikut dikunci, bersama dengan beberapa jalan dan jembatan kota.

"Saya telah melihat ratusan demonstran pro-militer turun ke jalan, bersenjatakan tongkat. Saya telah diberitahu bahwa militer mengendalikan jembatan utama yang menghubungkan kota (Khartoum) ke kota-kota tetangga. Mereka juga menguasai stasiun televisi dan radio nasional. Mereka akan segera mengeluarkan pernyataan.

"Saya tidak bisa bergerak ke mana pun saat ini, kami belum tahu apakah militer akan mengizinkan jurnalis untuk bekerja dengan bebas," kata koresponden FRANCE 24 Bastien Renouil di Sudan. 

Sebagaimana diwartakan Al Jazeera, kudeta yang dilakukan militer telah menjadi pukulan besar bagi demokrasi dan pemerintahan transisi Sudan yang sudah rapuh. 

Al Jazeera juga melaporkan bahwa sejauh ini, 12 orang telah terluka dalam protes untuk koalisi pro-demokrasi yang lahir dari pemberontakan yang menggulingkan kekuasaan 30 tahun  Al-Bashir.

Kudeta terbaru Sudan muncul di tengah meningkatnya ketegangan kepemimpinan sipil dan militer yang berlangsung selama beberapa minggu terakhir.  Kudeta juga terjadi tepat di waktu di mana militer seharusnya menyerahkan kepemimpinan administrasi militer ke sipil bulan depan.[]