Ekonomi

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga, Sri Lanka yang Bangkrut Inflasinya Sentuh 128 persen

Inflasi di negara Sri Lanka telah mencapai rekor ke sembilan secara berturut-turut pada Juni kemarin, yang mana naik menjadi 54,6 persen.


Sudah Jatuh Tertimpa Tangga, Sri Lanka yang Bangkrut Inflasinya Sentuh 128 persen
Sri Lanka mengalami penurunan ekonomi terburuk dalam sejarahnya ( AFP/File/Ishara S.KODIKARA)

AKURAT.CO, Sudah jatuh tertimpa tangga pula, itulah yang dapat bisa dikatakan kepada Sri Lanka. Setelah dinyatakan bahwa mereka telah 'bangkrut', negara tersebut kini menghadapi masalah inflasi yang meroket tinggi.

Inflasi di negara tersebut telah mencapai rekor ke sembilan secara berturut-turut pada Juni kemarin, yang mana naik menjadi 54,6 persen sehari setelah International Monetary Fund (IMF) meminta Sri Lanka untuk mengendalikan harga yang naik serta memberantas korupsi.

Menurut Departemen Sensus dan Statistik Sri Lanka, ini merupakan kali pertama negara mereka telah melewati batas Indeks Harga Konsumen Kolombo (CCPI) yang merupakan penting secara psikologis perekonomian.

baca juga:

CCPI telah menetapkan tertinggi bulanan baru sejak Oktober, ketika inflasi tahun-ke-tahun hanya mencapai 7,6 persen. Sedangkan pada Mei lalu telah mencapai 39,1 persen. Akibatnya, Rupee Sri Lanka mulai kehilangan nilainya bila diperdagangkan terhadap dolar AS.

Parahnya lagi, angka tersebut justru muncul ketika IMF mendesak Sri Lanka untuk menahan inflasi yang meningkat, serta memberantas korupsi sebagai bagian dari upaya menyelamatkan perekonomian mereka yang kini sedang bermasalah, serta telah dirusak oleh krisis valuta asing.

Ekonom swasta mengatakan harga konsumen naik lebih cepat daripada yang ditunjukkan dalam statistik resmi. Seperti seorang ekonom di Universitas Johns Hopkins, Steve Hanke, yang melacak kenaikan harga di titik-titik masalah dunia, menurutnya saat ini inflasi Sri Lanka adalah 128 persen, kedua setelah Zimbabwe 365 persen.

Seperti yang diketahui bersama, Sri Lanka pergi ke IMF pada bulan April setelah negara itu gagal membayar utang luar negerinya sebesar USD 51 miliar.

Kemudian, IMF mengakhiri 10 hari diskusi yang panjang dengan berbagai pejabat Sri Lanka di Kolombo menyusul permintaan bantuan negara tersebut agar tidak terkena bailout. 

Dihadapkan dengan kekurangan energi yang akut, Sri Lanka mengamati penutupan lembaga-lembaga negara yang tidak penting selama dua minggu, bersama dengan penutupan sekolah untuk mengurangi perjalanan.

Setidaknya 22 juta orang di negara itu telah mengalami kekurangan kebutuhan pokok yang akut - termasuk makanan, bahan bakar dan obat-obatan - selama berbulan-bulan.[]

Sumber: Channel News Asia