News

Sudah 3 Bulan Izin Pelabuhan KCN Dicabut, 2.000 Pekerja Terdampak

Sudah 3 Bulan Izin Pelabuhan KCN Dicabut, 2.000 Pekerja Terdampak
Kawasan PT Karya Citra Nusantara (KCN). (Dok. Istimewa/KCN)

AKURAT.CO Pencabutan izin usaha terminal pelabuhan PT Karya Citra Nusantara (KCN) yang telah berlangsung selama lebih dari berdampak panjang terhadap dunia usaha.

Koordinator Pengguna Jasa Pelabuhan (Penjaspel) Fudiyanpo Kamin mengatakan, pemilik barang sangat dirugikan karena jalur distribusi logistik ke wilayah Jakarta, Jawa Barat, dan Banten jadi terhambat.

“Biaya kegiatan naik 3 hingga 4 kali lipat, dikarenakan kurangnya area kerja yang mendukung, sehingga kegiatan bongkar muat menjadi lebih lama,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (5/10/2022).

baca juga:

Fudi mengungkapkan, pemilik barang yang terdampak langsung antara lain, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, PT Siam Cement Group, PT Holcim Indonesia Tbk, PT Waskita Beton Precast, PT Pembangunan Perumahan Tbk, PT Bayan Resouces Tbk, PT Wika Beton Tbk, Project Toll Sumatera, PT Pionir Beton Industri, PT Sinar Sakti, PT Bina Karya Prima, PT Indo Barat Rayon, PT Indo Rama, PT South Pacific Viscose, PT Mayora Tbk.

Namun, lanjut Fudi, dampak yang tak kalah penting ialah hilangnya mata pencaharian bagi sekitar 2.000 pekerja pelabuhan. Menurutnya, mereka menjadi pengangguran akibat pencabutan izin lingkungan bongkar muat terminal pelabuhan Karya Citra Nusantara (KCN) sejak Juni 2022 lalu.

“Begitu banyak yang terdampak dari penutupan KCN itu. Bahkan sekitar 2.000 orang yang terdampak langsung dan sekarang menganggur,” tutur Fudi.

Koordinator Pengguna Jasa Pelabuhan (Penjaspel) lainnya, Munif menyampaikan, penutupan pelabuhan KCN ini sangat memberikan dampak besar bagi dunia usaha pelayaran. Sebab, biaya operasional terus berjalan sementara banyak pegawai yang dirumahkan.

"Kami sebagai usaha pelayaran, truking, buruh bongkar muat, usaha penyewaan alat berat, sangat terdampak. Bahkan sekarang sudah banyak pegawai yang kami rumahkan karena sudah tidak sanggup kuat bayar honor lagi. Antrean kapal juga terjadi, bahkan ada yang sampai menunggu sandar 15 hari," ujar dia.

Sebagai informasi, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta melalui Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara mencabut izin lingkungan KCN karena dugaan pencemaran batubara. Hal ini berdampak pada penghentian seluruh kegiatan bongkar muat hingga hari ini.

Munif menuturkan, KCN telah memenuhi hampir seluruh syarat administratif dari DLH, namun sampai saat ini pencabutan usaha tersebut masih berlaku.

“Tapi, setelah sekarang persyaratan dipenuhi, dan sudah 95 persen, karena hanya kurang tembok saja, kenapa (DLH) masih saja tidak memberi izin kembali supaya terminal KCN bisa operasi,” tegas Munif.

Dia mengaku heran dengan masalah ini. Sebab, KCN itu perusahaan yang sahamnya dimiliki juga oleh Pemda DKI Jakarta (lewat KBN).

"Kenapa Dinas Lingkungan Hidup sampai mencabut izin, bukan membinanya," katanya.

Lebih lanjut, Munif menyatakan, pihaknya memminta pihak Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara untuk tidak lepas tangan. "Sebab, mereka yang mencabut izin lingkungan tersebut, makanya jangan mengalihkan persoalan ini ke institusi lain, tanpa memberi solusi," tegas dia.

Selain itu, Panjaspel akan mengajukan dialog kepada Dinas Lingkungan Hidup untuk bersama-sama menemukan jalan keluar agar para pengguna pelabuhan tidak terus merasa dirugikan akibat sanksi ini.

“Tanggal 5 Oktober 2022 nanti, kami diundang Dinas Lingkungan Hidup untuk membahas masalah KCN lagi, jika tak juga ada hasil konkret mengenai dibukanya kembali operasi KCN, Penjaspel akan demo,” tegasnya.

Ditemui terpisah, Terminal Head Indocement Budi Supriat menyayangkan pemberlakuan kebijakan ini. Menurutnya, terminal KCN merupakan pusat distribusi (hub) batu bara yang vital bagi sektor industri di Pulau Jawa, khususnya di kawasan Jabodetabek.

“Potensi multiplier effect-nya bisa luar biasa. Pembangunan infrastruktur bisa terganggu, munculnya begitu banyak pengangguran, yang pada akhirnya terhadap ekonomi nasional juga," paparnya. []