Ekonomi

Subsidi BBM di Malaysia Dinilai Lebih Kecil dari Indonesia, Pengamat Harap Harga Pertalite Bisa Turun

Jika dibandingkan subsidi BBM di Malaysia yang lebih kecil, Pengamat Nnilai harga BBm bersubsidi di indonesia masih bisa turun.


Subsidi BBM di Malaysia Dinilai Lebih Kecil dari Indonesia, Pengamat Harap Harga Pertalite Bisa Turun
Petugas mengisi BBM ke kendaraan konsumen di SPBU (ANTARA FOTO/Fransisco Carolio)

AKURAT.CO Pengamat Kebijakan Publik, Bambang Haryo Soekartono (BHS) membeberkan bila subsidi harga BBM Petrol 95 (oktan 95) yang ada di Malaysia lebih kecil dari subsidi harga BBM Pertalite oktan 90 yang ada di Indonesia.

"Saya melakukan cek langsung ke Malaysia ternyata harga petrol 95 yang oktannya setara dengan pertamax plus sebesar 2,05 ringgit dengan kurs ringgit 3.339 atau setara dengan Rp6.844 subsidi dari petrol 95 di Malaysia sebesar 0,45 ringgit atau setara dengan Rp1.502 sehingga harga tanpa subsidi di malaysia sebesar 2,5 ringgit atau setara dengan Rp8.347 rupiah," kata Bambang Haryo yang juga Ketua Harian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Jawa Timur, di Jakarta, Kamis (4/8/2022).

Anggota DPR-RI periode tahun 2014-2019 itu menambahkan harga pertalite per juli 2022 bila tanpa subsidi adalah sebesar Rp17.200 per liter, sementara subsidi dari pemerintah untuk pertalite sebesar Rp9.550 per liter agar masyarakat bisa membeli dengan harga sebesar Rp7.650 rupiah per liter yang masih jauh lebih mahal dari harga petrol 95 di Malaysia, sehingga jelas subsidi di Malaysia jauh lebih kecil dari pada subsidi BBM yang ada di Indonesia.

baca juga:

Demikian pula pertalite hanya memiliki oktan 90 sedangkan petrol 95 memiliki oktan 95 sehingga perbedaan petrol 95 dengan pertalite ada 5 oktan, padahal penurunan per 1 oktan rupiahnya sangat besar, misalnya di Malaysia petrol 97 yang mempunyai oktan 97 harga tanpa subsidi adalah 4,55 ringgit atau setara dengan Rp15.192, sedangkan petrol 95 yang mempunyai oktan 95 tanpa subsidi adalah 2,5 ringgit atau setara dengan Rp8.347, sehingga beda 2 oktan saja sebesar 2,05 ringgit atau setara dengan Rp6.844.

"Sedangkan pertalite mendapatkan subsidi dari pemerintah (Kementerian ESDM) sebesar Rp9.550 per liter bila dengan harga yang sebenarnya sesuai dengan perhitungan yang ada di Malaysia dengan subsidi uang rakyat tersebut maka seharusnya rakyat membeli bahan bakar pertalite jauh lebih murah atau bahkan gratis," tegas pemilik sapaan akrab BHS.

Ditambahkan BHS, ada kejadian yang menarik di Malaysia harga produk dari shell company yaitu shell v power oktan 95 sama dengan harga petrol 95 sebesar 2,05 ringgit atau setara dengan Rp6.844, bila tanpa subsidi dari pemerintah shell di Malaysia menjual dengan harga sebesar 2,5 ringgit atau setara dengan Rp8.347 rupiah, tetapi harga shell di Indonesia untuk shell oktan 95 yaitu shell v power oktan 95 adalah sebesar Rp18.300 yang jauh lebih mahal dari shell v power petrol 95 yang dijual di Malaysia.

Alumnus ITS Surabaya ini menjelaskan bahan bakar adalah merupakan komoditas yang sangat vital karena menguasai hajat hidup orang banyak, maka sudah seharusnya Presiden bersama DPR ikut terlibat untuk menghadapkan ketiga lembaga diatas dengan Komisi Persaingan Usaha dan Badan Perlindungan Konsumen serta Yayasan Lembaga Konsumen, karena bila dibiarkan akan membawa dampak ekonomi yang demikian luas dan tentu mengikabatkan inflasi yang sangat tinggi. 

Apalagi Anggaran APBN yang diberikan pertamina sebagai subsidi adalah tidak wajar. "Oleh karena itu, Kementerian Keuangan bersama BPK dan KPK harus turun menyelesaikan permasalahan diatas, bila perlu independen masyarakat ikut terlibat mengaudit kebenaran harga pertalite , pertamax yang ada saat ini," ujarnya.

Lihat Sumber Artikel di Warta Ekonomi Disclaimer: Artikel ini adalah kerja sama antara AkuratCo dengan Warta Ekonomi. Hal yang berkaitan dengan tulisan, foto, video, grafis, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab dari Warta Ekonomi.
Sumber: Warta Ekonomi