Tech

Studi Oracle: Jakarta Siap Menuju Smart City

Ekonomi yang tumbuh pesat adalah yang dipelopori oleh UKM lokal di bidang e-commerce


Studi Oracle: Jakarta Siap Menuju Smart City
Managing Director Oracle Indonesia, Davian Omas (ISTIMEWA)

AKURAT.CO, ESI ThoughtLab dan Oracle merilis studi terbaru bertajuk 'Solusi Kota Cerdas untuk Dunia yang Lebih Beresiko'. Studi ini mensurvei berbagai kota di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Temuan dalam studi terbaru dari ESI dan Oracle ini menguraikan bagaimana Jakarta telah siap menuju Smart City. Di Jakarta, ekonomi yang tumbuh pesat adalah yang dipelopori oleh UKM lokal di bidang e-commerce, perbankan digital, dan lainnya.  

Itulah beberapa factor yang mendorong kota ini terus bergerak menuju visi kota cerdasnya.

"Para pemimpin kota Jakarta setuju bahwa pandemi global telah mendorong pemikiran baru tentang prioritas perkotaan," ujar Managing Director Oracle Indonesia, Davian Omas dalam bincang virtual pada Rabu (5/5/2021).

Ia menuturkan pimpinan Jakarta juga belajar dari pandemi bahwa perlunya organisasi swasta dan sektor publik untuk mengambil perspektif “triple bottom line” yang melibatkan antara nilai sosial, lingkungan, dan finansial. Serta pentingnya perencanaan dan kelincahan operasional yang berkelanjutan di masa kini dimana dunia bisa berubah cepat.

"Untuk itu, infrastruktur dan jaringan digital menjadi investasi prioritas tinggi bagi Jakarta dalam tiga tahun ke depan. Kota ini juga berencana untuk terus berinvestasi secara signifikan pada sistem cloud dan AI, serta IoT dan sensor dalam tiga tahun ke depan," jelas Davian.

Jakarta saat ini menggunakan perpaduan antara cloud publik, privat, dan hybrid untuk menerapkan solusi kota cerdasnya. Namun, ini adalah satu-satunya kota di Asia Tenggara yang tidak mengizinkan penggunaan beberapa cloud publik dari berbagai penyedia.

Seperti semua kota Asia Tenggara lainnya, Jakarta lebih memilih menerapkan perangkat lunak sebagai solusi kota pintar di lokasi pusat data pemerintah.

"Ini menunjukkan bahwa mereka lebih memilih data mereka untuk tetap berada dalam batas negara," tandas Davian.

Sementara itu, Direktur Jakarta Smart City, Yudhistira Nugraha mengatakan kota pintar bukan hanya tentang kota dan teknologinya, tetapi juga tentang warganya, orang yang terhubung dengan orang, orang yang terhubung dengan pemerintah dan orang yang terhubung ke bisnis. 

"Teknologi, Inovasi, dan Kolaborasi adalah elemen kunci dalam penerapan kota pintar di Jakarta. Melalui penerapan smart city 4.0, peran Pemerintah sebagai kolaborator, dan warga sebagai co-creator," ungkap dia.

"Kita perlu membangun model bisnis baru dalam mengimplementasikan inisiatif kota pintar, seperti kemitraan publik-swasta. Dalam mewujudkan konsep tersebut, penting untuk bekerja sama lintas sektor publik dan swasta untuk menyelesaikan masalah Kota dan memahami kebutuhan warganya," pungkasnya.

Azhar Ilyas

https://akurat.co