Lifestyle

Studi: Masyarakat Indonesia Ingin Ada Perubahan Makna "Bibit Bebet Bobot"

Terkait filosofi 3B, ditemukan semua kelompok responden hampir seluruhnya setuju bahwa filosofi ini perlu perubahan makna

Studi: Masyarakat Indonesia Ingin Ada Perubahan Makna
Pemaparan hasil studi dari Closeup di Habitate Jakarta, Jakarta pada Selasa (08/8/2022). (AKURAT.CO/Annisa Fadhilah)

AKURAT.CO  Filosofi ‘Bibit, Bebet, Bobot’ atau 3B masih menjadi tiga kriteria turun temurun, yang dipergunakan keluarga Indonesia dalam menentukan calon pasangan hidup yang terbaik bagi anak mereka. 

Filosofi ini tidak jarang mengakibatkan banyak pasangan, utamanya mereka yang menjalin hubungan dengan perbedaan mencolok/unconventional seperti beda usia, latar belakang ekonomi, atau suku dan ras, terpaksa menyudahi hubungan karena merasa tidak mampu memenuhi harapan dari keluarga maupun lingkungan.

Oleh karena itu, merek pasta gigi Closeup melakukan studi untuk memperlihatkan bahwa kriteria generasi muda dalam memilih pasangan telah mengalami pergeseran.

baca juga:

Studi kuantitatif dan kualitatif yang dilakukan Closeup ini, melibatkan lebih dari 160 responden dari berbagai wilayah Indonesia, terdiri dari mereka yang sedang menjalani hubungan dengan perbedaan mencolok, orang tua hingga individu yang masih single, memperlihatkan bahwa penilaian dari lingkungan masih menghambat kelanjutan hubungan dengan perbedaan mencolok.

Berdasarkan pemaparan dari Head of Marketing Oral Care Category, PT Unilever Indonesia, Tbk, Distya Tarworo Endri bahwa 5 dari 10 orang yang menjalani hubungan dengan perbedaan mencolok, jadi meragukan masa depan hubungannya.

Terkait filosofi 3B, ditemukan bahwa di semua kelompok responden hampir seluruhnya setuju bahwa pedoman ini pada dasarnya masih baik untuk diterapkan. Namun, hanya 2 dari 10 orang merasa bahwa definisi 3B yang sekarang berlaku masih relevan. 

Akhirnya, studi ini menunjukkan bahwa 5 dari 10 orang menginginkan makna yang terbaru dari filosofi 3B, yang terangkum sebagai:

Bibit, ini memastikan asal-usul seseorang bukanlah untuk memvalidasi stereotype mengenai suku/ras tertentu, melainkan meyakinkan bahwa ia memiliki lingkungan atau support system yang mendorongnya untuk bertumbuh

Bebet, ini Latar belakang ekonomi keluarga bukan jaminan masa depan yang cerah, melainkan kemampuan seseorang untuk memaksimalkan potensi diri