News

Studi Terbaru: Korban Kematian COVID-19 Global Capai Dua Kali Lipat dari Laporan Resmi

Studi terbaru menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 diprediksi telah menelan hampir 6,9 juta kematian secara global


Studi Terbaru: Korban Kematian COVID-19 Global Capai Dua Kali Lipat dari Laporan Resmi
Dalam foto ini, kerabat dalam setelan alat pelindung diri (APD) berdiri di dekat jenazah korban yang meninggal karena COVID-19, di tempat kremasi di New Delhi di India, Kamis (4/5). (Prakash Singh/AFP)

AKURAT.CO, Studi terbaru menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 diprediksi telah mengakibatkan hampir 6,9 juta kematian secara global. Dengan kata lain, angka itu lebih dari kali lipat dari jumlah yang tercatat secara resmi. Seperti diketahui, dari pemantau data COVID-19 dunia, angka kematian rata-rata kini disebutkan mencapai lebih dari 3,2 juta kasus. 

Worldometers misalnya, pada Jumat (7/5) mencatatkan jumlah kematian global di angka 3.269.813. Tidak jauh berbeda, Universitas Hopkins juga melaporkan data hampir serupa, yakni mencapai 3,25 juta kematian.

Diwartakan Al Jazeera hingga Reuters, analisis angka kematian yang mencapai dua kali lipat itu disodorkan oleh Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME). Diketahui, IHME adalah pusat penelitian kesehatan global Washington University yang laporannya diawasi secara ketat oleh pejabat kesehatan AS.

Dalam analisisnya, IHME menyebut bahwa laporan kematian pada dasarnya sangat terkait dengan tingkat pengujian di suatu negara. Maka dari itu, jika pengujian tidak dilaksanakan secara massif, maka dipastikan bahwa negara itu telah melewatkan data kematian karena COVID-19. Inilah mengapa angka kematian di lapangan diprediksi jauh lebih tinggi dibanding yang dilaporkan suatu negara.

"Kematian COVID-19 yang dilaporkan sangat terkait dengan tingkat pengujian di suatu negara. Jika Anda tidak menguji terlalu banyak, kemungkinan besar Anda akan melewatkan kematian akibat COVID," terang Christopher Murray yang menjabat sebagai Direktur IHME.

IHME juga memperkirakan total kematian COVID-19 dengan cara membandingkan kematian yang diantisipasi dari semua penyebab berdasarkan tren pra-pandemi dengan jumlah sebenarnya dari semua kematian yang disebabkan selama pandemi. 

Di Amerika Serikat misalnya, analis memperkirakan kematian terkait COVID-19 mencapai lebih dari 905 ribu. Sementara, angka resmi dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) pada Rabu (5/5) memperkirakan 575.491 kematian karena virus corona baru.

Namun, menurut IHME, laporan CDC itu hanya mencakup kematian yang disebabkan langsung oleh virus, bukan kematian yang dipicu oleh gangguan pandemi terhadap sistem perawatan kesehatan dan komunitas.

"Banyak negara telah mencurahkan upaya luar biasa untuk mengukur jumlah korban pandemi, tetapi analisis kami menunjukkan betapa sulitnya melacak secara akurat penyakit menular baru dan yang menyebar dengan cepat,” kata Murray.

CDC belum segera menanggapi permintaan Reuters untuk mengomentari laporan tersebut.

Terlepas dari analisis IHME, kasus infeksi global memang tercatat terus merangkak meski pandemi sudah berlangsung selama lebih dari satu tahun.

Melonjaknya angka infeksi baru-baru inipun tidak lepas dari gelombang infeksi kedua mematikan yang menyerang India. Setidaknya selama 13 hari berturut-turut, India selalu mencatatkan infeksi harian dengan angka menembus lebih dari 300 ribu kasus. Pada Kamis (4/5), negara ini bahkan melaporkan jumlah infeksi harian sebanyak 400 ribu kasus lebih. Sedangkan jumlah kematian naik ke rekor 3.980. Secara total, India mencatat 21,4 juta kasus infeksi dan 234.083 kematian, seperti tertera dalam data terbaru Worldometers.

Wawancara dengan dokter dan kepala desa yang terlibat dalam penghitungan kematian pandemi, juga mengungkap bahwa jumlah kematian bisa berkali-kali lipat lebih tinggi dari jumlah resmi. []

Dian Dwi Anisa

https://akurat.co