Olahraga

Studi: Euro 2020 Hasilkan Lebih dari 9.000 Kasus Covid-19

Dibandingkan dengan Wimbledon yang hanya memunculkan sekitar 800 kasus, Euro lebih besar karena perilaku penontonnya.


Studi: Euro 2020 Hasilkan Lebih dari 9.000 Kasus Covid-19
Sejumlah penonton yang memaksa masuk ke Stadion Wembley di London, Inggris, pada final Piala Eropa 2020, Juli lalu. (TWITTER)

AKURAT.CO, Sebuah penelitian yang digelar oleh Departemen Kebudayaan dan Kesehatan Publik Inggris menemukan bahwa lebih dari 9.000 kasus infeksi virus corona (Covid-19) di negara tersebut berasal dari kerumunan Piala Eropa 2020 pada Juli lalu.

The Guardian menyebut bahwa sebanyak 9.402 kasus positif datang dari pendukung sepakbola hanya dalam dua hari perhelatan. Temuan ini mengindikasikan bahwa mereka terinfeksi ketika menghadiri pertandingan.

Riset yang dirilis pada Jumat (20/8) mencatat bahwa 85 persen kasus infeksi terhubung dengan perhelatan olahrga, musik, dan hiburan yang melibatkan delapan pertandingan Piala Eropa. Terutama datang dari semifinal dan final di Tim Nasional Inggris turut bermain.

“Turnamen Piala Eropa 2020 dan lolosnya Inggris ke final menghasilkan risiko signifikan terhadap kesehatan publik di seluruh Inggris bahkan ketika pemain Inggris bermain di luar negeri,” sebut laporan yang dipimpin oleh Direktur Medis Kesehatan Publik Inggris, Dr Jenifer Smith, tersebut.

“Risiko mencuat bukan hanya dari individu yang menghadiri perhelatan tersebut, tetapi termasuk aktivitas yang dilakukan dalam perjalanan dan aktifitas sosial yang bersangkutan.”

Ada perbedaan antara Piala Eropa dan Wimbledon yang berlangsung dalam waktu berdekatan. Dua event tersebut mengizinkan penonton dalam jumlah tertentu namun membatasi pergerakan di sekitar bar dan ruang sosial di arena.

Wimbledon mengizinkan penonton dalam kapasitas penuh dengan total 300 ribu penonton di mana hanya menghasilkan 881 kasus. Studi menyebut bahwa Wimbledon jauh lebih sedikit karena perbedaan perilaku penontonnya.

“Tim riset menunjukan setiap perbedaan mencolok di tribun dan perilaku penonton,” tulis laporan tersebut.

Dr Jenifer Smith mengatakan bahwa pengalaman di Piala Eropa memberikan pelajaran untuk tidak mengulangi hal yang sama di perhelatan olahraga lain di masa depan. Pasalnya, virus bisa menyebar dengan cepat dalam peristiwa seperti Piala Eropa.

“Bagaimanapun, data menunjukkan betapa mudahnya virus menyebar ketika ada kontak rapat, dan ini harus menjadi peringatan bagi kita semua ketika kita berusaha dan kembali ke normalitas sekali lagi,” ucap Jennifer Smith.

Inggris menjadi salah satu pelopor kembalinya penonton ke arena perhelatan olahraga. Hingga saat ini, penonton masih berdatangan di sejumlah event seperti Liga Primer Inggris misalnya.[]