Lifestyle

Stress Milik Orang Tua Mempengaruhi Perkembangan Emosi Anak

Video ibu muda di Lubuklinggau, Sumatera Selatan ngelem sambil menggendong bayi. Ini dikarenakan stres akibat diceraikan suami. Berbahayakah bagi bayi?


Stress Milik Orang Tua Mempengaruhi Perkembangan Emosi Anak
Ilustrasi (FREEPIK)

AKURAT.CO  Video seorang ibu muda di Lubuklinggau, Sumatera Selatan ngelem sambil menggendong bayinya usia sebulan, viral di media sosial.

Dia disebut ngelem karena frustasi diceraikan suami hanya sepekan setelah dia melahirkan anak mereka.

Ibu muda itu nekat menghirup lem di lokasi ramai, tepatnya di Pasar Inpres, Lubuklinggau, beberapa hari lalu. 

baca juga:

Saat itu, bayinya baru berusia sebulan. Warga yang melihat aksi tak biasa wanita itu, kemudian melapor ke polisi setempat. 

Dari laporan itu, polisi pun langsung mengamankan ID bersama buah hatinya, tak jauh dari lokasi kejadian pada Sabtu (13/8/2022) pekan lalu.

Saat diperiksa, kata dia, Ida mengakui bahwa dirinya sehat. 

Hanya saja, dia menyebut bahwa dirinya frustasi karena tak terima diceraikan suaminya, karena dia menolak diajak tinggal dengan mertuanya.

Selain itu, sambungnya, aksi nekat itu Ida lakukan menurutnya agar suaminya tidak mengambil buah hatinya yang sangat dia cintai. 

Melihat hal ini, Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Sumatera Selatan mengecam tindakan ID karena menghirup lem atau ngelem sambil menggendong bayinya. Selain tidak dibenarkan, tindakan itu dapat membahayakan kesehatan sang bayi dan ibunya.

Terlebih, hal itu dilakukan ID dengan alasan tak terima atas perlakuan suaminya yang menceraikannya usai satu minggu melahirkan lantaran menolak diajak tinggal di rumah mertua.

"Tidak bisa dibenarkan, terlepas dari permasalahan orang tuanya, sang ibu harus jadi teladan yang baik untuk anaknya, tidak sepantasnya sang ibu melampiaskan kekesalan dengan mengisap Aibon atau sejenisnya," ujar Ketua LPAI Sumsel, Wagi Sri kepada wartawan, pada Kamis (18/8/2022).

Menurut Sri, zat yang terdapat di lem itu memiliki efek berbahaya dan bisa merusak syaraf apabila dihirup. 

Apalagi, zat tersebut dihirup oleh seorang ibu yang masih menyusui. Hal itu akan berdampak pada pertumbuhan sang bayi tersebut.

"Zat yang terkandung di dalam lem Aibon, walaupun bukan golongan narkotika, jika diisap terus menerus akan memiliki efek yang berbahaya dan bisa merusak syaraf otak. Hal itu juga akan mempengaruhi tumbuh kembang anak apalagi anaknya masih bayi berumur satu bulan yang membutuhkan asupan ASI yang sehat serta kandungan gizi yang baik," terangnya.

Bila menggali lebih dalam dampak stres ataupun depresi pada ibu rumah tangga, tak jauh-jauh akan juga terkait pada pola asuh anak.

Ini nantinya akan berpengaruh bagaimana ibu mengasuh anak, dan bukan tak mungkin malah menularkan stres ke anak-anak.

Menurut Melinda Paige, Ph.D., profesor konseling kesehatan mental klinis di Argosy University, Atlanta dalam penelitiannya mengatakan bu rumah tangga yang mengalami depresi cenderung melampiaskan amarah dan emosi negatifnya ke anak, dan ini sangat tidak baik terhadap perkembangan psikologis anak.

 Anak bisa jadi mengembangkan sikap agresif atau malah tertutup, menjadi pendiam, dan memendam perasaan.

Anak-anak antara usia 0–3 tahun sangat rentan terhadap ketidakstabilan emosional orangtua mereka. 

Namun, ini tidak berarti bahwa anak yang lebih besar tidak terluka karena stres dimiliki orang tua.

Sangat penting bagi orangtua untuk menyadari dan mengendalikan perilaku di sekitar anak-anak mereka setiap saat. 

Ini tidak hanya mendukung kesehatan mental sebagai orang dewasa, tapi juga kesehatan anggota keluarga lain terutama perkembangan anak-anak.