Rahmah

Status Hukum Makmum yang Tidak Mengikuti Imam yang Sujud Tilawah

Banyak makmum yang salah paham tentang ini


Status Hukum Makmum yang Tidak Mengikuti Imam yang Sujud Tilawah
Ilustrasi - Salat (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Salah satu sujud yang dikenal dalam agama Islam adalah sujud tilawah. Sujud tilawah didefinisikan sebagai sujud yang dilakukan oleh seseorang saat mendengar ayat sajdah dalam Al-Qur'an, baik dalam posisi salat atau tidak.

Secara filosofis, sujud tilawah dilakukan sebagai bentuk kerendahan hamba pada Tuhannya. Sebab, setiap ayat sajdah pada intinya memiliki makna penyembahan seorang hamba kepada Allah SWT.

Abdullah Ibn Hujaji dalam Syarkh Asy-Syarqawi, jilid 2, halaman 4, menyebutkan bahwa hukum melakukan sujud tilawah adalah sunah.

baca juga:

تسن سجدة التلاوة لقارئ وسامع جميع آية سجدة، ويسجد مصل لقرآءته إلا مأموما فيسجد هو لسجدة إمامه

Artinya: “Sujud tilawah disunnahkan bagi orang yang membaca atau mendengar ayat sajdah. Begitu pula orang yang sedang mengerjakan shalat dianjurkan sujud ketika membaca ayat sajdah, kecuali bagi makmum, karena dia mesti sujud mengikuti sujud imamnya.”

Lebih lanjut, Muhammad Sai'id Ibn Bisyuni dalam kitab Al-Maushu'ah Al-Kubra, jilid 3, halaman 50, menyebut bahwa saat manusia melakukan sujud sahwi, maka jin dan setan yang jahat akan kabur dan mengalami penyesalan.

Ia berkata:

إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ, اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِي , يَقُولُ: يَا وَيْلَهُ أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ، وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِيَ النَّارُ

Artinya: “Ketika anak adam membaca ayat al-Sajdah kemudian ia bersujud maka setan menyendiri dan menangis. Ia berkata, ‘Celaka, anak Adam diperintah untuk bersujud dan ia pun bersujud maka baginya surga. Aku telah diperintah untuk bersujud namun aku menolak maka bagiku neraka.”

Lalu bagaimana dalam konteks antara imam dan makmum yang berbeda tindakan saat mendengar ayat sajdah? Seorang imam melakukan sujud, namun makmum tidak melakukannya? Apakah salat seorang makmum tetap dianghap sah?

Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam kitab Fathul Mu'in menjelaskan: