Lifestyle

Tapak Jejak Belanda di Priangan, Banyak Stasiun Kereta yang Dipakai Hingga Kini

Rel dari Bogor hingga Cianjur merupakan jalur kereta yang tertua kedua di Asia. Berikut stasiun-stasiun peninggalan masa Kolonial Belanda di Priangan


Tapak Jejak Belanda di Priangan, Banyak Stasiun Kereta yang Dipakai Hingga Kini
Stasiun Bogor yang dipadati Wisatawan (Akurat.co/Afrizal Abdul Rahman)

AKURAT.CO, Priangan adalah penamaan kawasan adat istiadat Sunda di Jawa Barat yang mencakup wilayah Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Cimahi, Bandung, Cianjur, Sukabumi dan Bogor dari pemerintahan Kolonial Belanda.

Priangan merupakan salah satu kawasan yang menjadi tumpuan ekonomi pemerintahan Kolonial Belanda kala itu. Tak pelak, Priangan menjadi wilayah prioritas pembangunan rel kereta api sebagai sarana pengangkut hasil bumi.

Buktinya, rel dari Bogor hingga Cianjur merupakan jalur kereta tertua kedua di Asia, setelah India, pada era 1800-an.

Oleh karena itu, berikut stasiun-stasiun peninggalan masa Kolonial Belanda di Priangan, yang masih beroperasi hingga kini.

Stasiun Bogor

View this post on Instagram

A post shared by Juar (@juar_rf)

Stasiun Bogor merupakan titik mula proyek pengerjaan rel kereta api di Priangan. Stasiun ini dibangun oleh Perusahaan Swasta, Nederlandsch Indische Spoorweg atau NIS yang juga membangun jalur kereta dari Bogor - Jakarta Kota.

Saat itu, di seluruh Asia, hanya ada dua kawasan yang sudah menerapkan jalur kereta api yaitu India dan Indonesia. Jalur kereta di India dibangun oleh pemerintah kolonial Inggris.

"Orang-orang Belanda saat itu berpikir, kita setidaknya harus bisa menyamai stasiun-stasiun yang dibangun Inggris bahkan lebih megah dari stasiun yang dibangun oleh Inggris," ujar Perwakilan dari International Council on Monuments and Sites (ICOMOS) Indonesia, Dicky Soeria Atmadja, kepada wartawan dikutip pada Kamis, (16/9).

"Oleh karena itu, mereka membuat dan merancang sebuah stasiun yang sangat megah dengan kualitas material yang nomor satu saat itu. Dan akhirnya, 1881 terwujudlah bangunan stasiun ini yang kita kenal sekarang sebagai Stasiun Bogor," sambungnya.

Dalam membangun jalur pertama di Priangan, mulai dari Bogor ke arah Sukabumi, NIS mengalami kendala finansial karena jalur tersebut melalui medan yang berbukit-bukit, sehingga menyulitkan konstruksi.

"Jalur ini diapit oleh dua gunung yaitu Gunung Pangrango dan Gunung Salak. Tentu wilayahnya berbukit-bukit ini akan berdampak pada begitu beratnya konstruksi jalur kereta api. Karena akan banyak jembatan yang harus dibangun dan jalurnya pun harus berkelok-kelok naik turun," katannya.

Lantas, pengerjaan jalur kereta Priangan diambil alih Staatsspoorwegen, perusahaan milik Kerajaan Belanda pada 1879.

"Dimulai pada tahun 1879 pembangunan diteruskan bahkan sampai ke Cianjur sampai ke Bandung sampai ke Cicalengka tahun 1884," ucapnya.

Jadi, jalur kereta api di Priangan bukanlah jalur Jakarta Kota, Purwakarta, Cikampek sampai ke Bandung. Namun. justru dari Bogor ke Sukabumi, Cianjur, Cimahi dan Bandung.

Stasiun Bogor dibangun ulang dengan lebih megah oleh Staatsspoorwegen. Keberadaan Paleis Buitenzorg atau Istana Bogor merupakan alasannya.

"Muncul pemikiran bahwa stasiun yang posisinya dekat sekali bahkan berhadap-hadapan dengan Paleis Buitenzorg atau Istana Bogor sekarang tentu juga akan melayani kebutuhan transportasi gubernur jenderal," tuturnya.

Stasiun Cigombong

Stasiun Cigombong menjadi bukti bahwa fungsi jalur kereta api di era Kolonial Belanda, salah satunya adalah sebagai transportasi wisata.

"Stasiun ini stasiun kecil, biasa disebut halte. Stasiun ini berposisi dekat dengan tempat wisata orang-orang Belanda saat itu yang bernama Lido. Hanya, mungkin sekitar 200 meter dari stasiun ini," ujarnya.

Kawasan Danau Lido yang dapat dijangkau dengan mudah menggunakan kereta api, membuat Lido populer di antara orang-orang Belanda.

Kehadiran orang-orang Belanda yang berwisata juga erat kaitannya dengan keberadaan puluhan hingga ratusan perkebunan di Priangan pada akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20. Jenis perkebunannya beragam, mulai dari perkebunan kopi, kina, hingga karet.

Salah satu perkebunan yang kondang di sekitar stasiun ini yakni perkebunan tanaman gutta percha (getah perca) Cipetir. Pabrik Cipetir, pengolah gutta percha, yang berusia lebih dari satu abad, masih berdiri dan merupakan 'satu-satunya di dunia'.

Stasiun Sukabumi

Pada Stasiun Sukabumi masih bisa melihat sisa-sisa teknologi yang terbilang maju pada zaman Kolonial Belanda, mengingat kala itu kereta api sangat diandalkan untuk mengangkut hasil perkebunan di Priangan. Salah satu sisa teknologi ini, terletak di ujung stasiun, yaitu turn table.

"Turn table fungsi utamanya untuk memutar arah lokomotif. Jadi saat lokomotif uap datang dari arah Bogor menuju ke Sukabumi sampai di stasiun ini, jika ingin kembali lagi ke arah Bogor harus diputar arahnya dulu lokomotifnya," katanya.

Proses kerja turn table diawali dengan masuknya lokomotif ke dalam rel pada turn table, sampai titik berat lokomotif tepat di tengah-tengah.

"Titik berat lokomotif itu tepat diletakkan di tengah-tengah, cukup dengan dua orang saja maka lokomotif yang beratnya puluhan ton bisa sampai 80 ton bahkan lebih dapat diputar arahnya, berkebalikan arah," papar Dicky.

Terowongan Lampegan

Rekam jejak teknologi perkeretaapian berikutnya bida disaksikan di Stasiun Lampegan, tiga stasiun dari Stasiun Sukabumi menuju Cianjur.

Teknologi ini berwujud terowongan kereta pertama di Indonesia, yang dibangun antara tahun 1879 hingga 1882.

"Terowongan ini sekarang terletak tepat di perbatasan Sukabumi dan Cianjur. Dulu lokasi ini adalah lokasi yang paling sulit pada saat pembangunan jalur kereta api dari Sukabumi menuju Cianjur," ucapnya.

"Mengapa sulit? Karena di tempat inilah mereka menemukan sebuah bukit yang mau tidak mau harus ditembus atau digali. Bebatuannya cukup keras sebagian tapi ada juga yang lunak, sehingga ada yang digali dan ada juga yang dikupas. Dan menjadi sangat sulit karena pemerintahan Kolonial Belanda belum pernah sama sekali punya pengalaman untuk sebuah terowongan di Indonesia," sambungnya.

Bahkan para pekerja perkebunan teh di Onderdeming Sibokor diminta untuk ikut mengerjakan pembangunan terowongan ini. Kala itu, pemilik Onderdeming Sibokor menyetujui hal itu, dengan satu syarat yakni harus membangun suatu stasiun atau halte untuk membantu mereka mengangkut komoditas ke pelabuhan. Itulah cikal bakal Stasiun Lampegan. 

Tak hanya itu, penamaan Lampegan punya latar belakang penamaan yang unik. Salah satu versi adalah kesalahan penyebutan. Pada pemerintahan Kolonial Belanda, saat kereta berhenti di mulut terowongan, baik dari sisi Sukabumi maupun Cianjur, maka masinis meminta petugas yang berada di stasiun untuk menyalakan lampu.

Kode teriakan dari petugas stasiun pada saat itu, saat selesai menyalakan lampu adalah "lampen gaan".

"Lampen gaan", dari kata Belanda yang artinya lampu sudah menyala. Kata-kata ini terus berulang, setiap lokomotif masuk ke arah terowongan dan kemudian ditangkap oleh orang-orang lokal yang menyangka seolah-olah penyebutan itu adalah nama dari terowongan ini.

Stasiun Cianjur

View this post on Instagram

A post shared by Hevi Abu Fauzan (@pahepipa)

Cianjur sebenarnya adalah ibu kota Priangan, sebelum terbentuknya Kota Bandung. Jalur kereta api yang menyambungkan Cianjur hingga ke Jakarta ini membuktikan bahwa Cianjur sempat memiliki peran penting di masa lalu sehingga Stasiun Cianjur cukup luas, dibanding stasiun-stasiun sebelumnya atau sesudahnya apabila ke arah Bandung.

"Priangan saat itu belum beribu kota di Bandung, tapi masih di Cianjur. Setelah sekian waktu pemerintah, kolonial memindahkan ibukota Priangan dari Cianjur ke Bandung. Tentu saja mengurangi peran Cianjur sebagai sebuah kota dan sebagai bagian dari jalur kereta api," pungkasnya.[]