Ekonomi

Startup Lokal Ungkap Tantangan Kembangkan Aplikasi Belajar Daring

Infrastruktur Digital Edukasi (IDE) menjadi salah satu usaha rintisan yang mengembangkan aplikasi belajar daring


Startup Lokal Ungkap Tantangan Kembangkan Aplikasi Belajar Daring
Siswa saat mengerjakan tugas melalui gawainya di kawasan Kalibaru, Cilincing, Jakarta, Selasa (21/7/2020). Metode pembelajaran jarak jauh di ibu kota masih menemui kendala berupa adanya warga yang belum memiliki fasilitas telepon pintar dan besarnya kuota pulsa yang harus dikeluarkan. Hal tersebut membuat para siswa terpaksa harus menumpang di rumah temannya dan mencari jaringan Wi-Fi. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Startup lokal salah satunya Infrastruktur Digital Edukasi (IDE) menjadi salah satu usaha rintisan yang mengembangkan aplikasi belajar daring yang diharapkan membantu dunia pendidikan agar tetap berjalan baik di tengah pandemi COVID-19.

Direktur Utama MobileCom Steven Samudera, yang mengembangkan IDE, Selasa, mengatakan pihaknya ingin berperan aktif dalam meningkatkan platform belajar online dengan cara mendorong keterlibatan dan kolaborasi aktif antara sekolah, guru, murid, dan orang tua dalam ekosistem digital berbasis LMS yang mudah.

“Jadi kami memgembangkan Learning Management System (LMS) MyScool dan Qampus yang dapat mengotomatisasi semua tugas guru, dosen, staf sekolah, universitas, serta para siswa dan mahasiswa,” katanya.

Aplikasi MyScool dan Qampus menawarkan pengalaman pembelajaran jarak jauh yang diharapkan menyenangkan, mudah, dan efektif.

Selain itu, sistem aplikasi dari MyScool dan Qampus selaras dengan kurikulum sekolah dan universitas serta mampu disesuaikan dengan kebutuhan institusi pendidikan.

“Kami berharap ini bisa memberikan solusi pembelajaran jarak jauh yang mudah, kami menyadari kolaborasi dan koordinasi antara orang tua, guru dan siswa, selalu menjadi kunci keberhasilan pendidikan,” katanya.

Selama ini ia melihat pembelajaran online komunikasinya masih terkesan hanya searah yakni dari guru kepada siswa.

Namun dengan metode ini ada kombinasi dari pembelajaran melalui video, kelas langsung (live), kuis, serta kerja kelompok yang membuat proses belajar mengajar menjadi lebih menarik dan interaktif.

Fitur-fitur IDE juga membantu digitalisasi sekolah, dan memudahkan sekolah dalam hal administrasi yang bisa berdampak kepada proses peningkatan akreditasi sekolah.

Fitur IDE membantu sekolah untuk mengelola data seperti kurikulum, absensi pengajar, dan akses informasi dengan mudah.

“Selain itu, orang tua siswa juga akan mendapatkan akses langsung untuk memantau perkembangan pendidikan anak secara real-time, serta informasi tagihan sekolah,” katanya.

Managing Director IDE, Daniel Tumiwa juga menyatakan, tantangan terbesar yang harus dijawab sebagai perusahaan edutech adalah menyebarkan pendidikan yang berkualitas ke setiap penjuru negeri.

Kendala dimulai dari ketidaksetaraan sumber daya penggerak teknologi, letak geografis, hingga kurikulum yang kurang memadai.

“Kami percaya siapa saja, apapun latar belakangnya, apapun motivasinya, dan apapun cita-citanya, punya kesempatan yang sama untuk mengemban pendidikan. Kedepan kami memiliki komitmen untuk menstandarisasi kualitas pendidikan khususnya di daerah dengan metode belajar dan aplikasi LMS,” kata Daniel.

Saat ini lebih dari 20.000 pengguna aplikasi Myscool dan Qampus di seluruh daerah di Indonesia.

Pada 2021 IDE akan meningkatkan jumlah pengguna agar seluruh sekolah di Indonesia mempunyai aplikasi dan fasilitas teknologi yang sama, dengan tingkat kualitas yang terstandar sehingga dapat bergerak maju mengejar prestasi.

Aplikasi Myscool dan Qampus dapat diunduh di platform IOS dan juga Android atau diakses dengan mengunjungi website IDE.[]

Sumber: Antara