News

Ssttt... Denny Siregar Pernah Terpapar Covid-19, Ngapain Saja Dia Selama Sakit?

Denny mengatakan saat dirinya terjangkit virus dari Wuhan ini, ia berhenti bermain media sosial sementara. 


Ssttt... Denny Siregar Pernah Terpapar Covid-19, Ngapain Saja Dia Selama Sakit?
Pegiat Media Sosial Denny Siregar (Twitter/@Dennysiregar7)

AKURAT.CO, Pegiat media sosial Denny Siregar rupanya pernah terjangkit virus corona. Hal ini dungkapnya melalui Twitter pribadinya.

Denny mengatakan saat dirinya terjangkit virus dari Wuhan ini, ia berhenti bermain media sosial sementara. 

"Waktu kena Covid, saya libur main medsos - apalagi baca media online," kata dia sebagaimana dkutip AKURAT.CO dari Twitter @Dennysiregar7 pada Rabu (23/6/2021).

Namun, Denny Siregar tak menjelaskan pasti kapan dirinya terpapar Covid-19. Untuk menaikkan imun, kegiatannya hanya makan, minum obat dan mendengarkan lagu.

"Kerjaanku hanya makan, minum obat dan dengerin Iron Maiden pake headset. Pokoknya melakukan hal-hal yang menggembirakan, senangkan pikiran. Imun naik dan mulai perangi Covid. Pertarungan itu ada di diri kita sendiri," katanya.

Ia juga mengakui menolak untuk di bawa ke rumah sakit. Hal ini lantaran ia menilai bahwa mentalnya jika RS akan semakin turun.

"Waktu kena Covid, saya menolak masuk RS, karena saya tahu disana mental pasti jatuh liat orang sakit. Imun pasti drop," imbuhnya.

Yang dilakukannya adalah isolasi mandiri di kamar selama dua minggu. "Saya isoman sendiri. Di kamar. Disana saya membangun semangat dan berfikir yang positif. Imun menguat dan Alhamdulillah sembuh dlm 2 minggu. Kuncinya cuman semangat," ujar dia.

Selain melakukan aktifitas yang positif, ia juga enggan membuka pemberitaan yang negatif.

"Jauhkan diri dari berita-berita negatif dan berfikirlah bahwa kita harus ada dan dibutuhkan oleh keluarga. Sederhana. Tapi gak semua orang bisa melakukannya," katanya.

"Kenapa meski Covid semakin ganas, beberapa negara sudah membuka diri untuk bikin acara pertunjukan mulai bola sampai musik ?? Karena, selain disiplin dgn vaksin mereka setuju dgn pandangan dr Terawan bahwa "hati yang gembira adalah obat". Kita harus beradaptasi atau kita mati," pungkasnya.[]