News

Sriwijaya SJ-182 Tidak Meledak Sebelum Tabrak Air, Begini Analisanya

Sriwijaya SJ-182 Tidak Meledak Sebelum Tabrak Air, Begini Analisanya
Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi ( KNKT) Soerjanto Tjahjono dalam rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi V dengan Menteri Perhubungan, Kepala BMKG, Kepala BNPP dan Dirut Maskapai Penerbangan Nasional) di Gedung DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/2/2021). (Youtube DPR RI)

AKURAT.CO, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi ( KNKT) Soerjanto Tjahjono menyimpulkan bahwa Sriwijaya Air SJ-182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada 9 Januari 2021 tidak meledak sebelum masuk ke dalam air.

Hal itu disampaikan dalam rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi V dengan Menteri Perhubungan, Kepala BMKG, Kepala BNPP dan Dirut Maskapai Penerbangan Nasional di Gedung DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/2/2021).

Soerjanto menjelaskan, bukti pesawat tidak meledak ialah sebaran puing-puing cenderung konsisten di satu titik. 

"Jadi ada yang mengatakan bahwa pesawat pecah di atas udara itu tidak benar. Pesawat secara utuh sampai membentur air, tidak ada pecah di udara," ungkapnya.

Soerjanto menyebut, ada beberapa bagian pesawat ditemukan berupa instrumen di ruang, roda utama, sayap pesawat, mesin, kabin penumpang, dan ekor pesawat.

"Menurut data Tim SAR gabungan, puing tersebar di wilayah sebesar 80 meter dan panjang 110 meter pada kedalaman 16-23 meter," terangnya.

Selain itu, Soerjanto menambahkan, kondisi turbin ditemukan dalam keadaan rontok. Menurutnya mesin pesawat Sriwijaya Air SJ-182 masih menyala saat menabrak air.

"Ini diindikasikan bahwa turbin-turbinnya rontok semua itu tandakan ketika alami impact pada air, mesin itu masih berputar," pungkasnya.

Sebelumnya, Soerjanto juga menyampaikan bahwa pihaknya saat ini tengah meneliti sistem auto throttle pesawat Sriwijaya Air SJ-182.

"Dan perlu diketahui sistem auto throttle ini mendapatkan 13 parameter dari sistem yang lain. Maka saat ini kami juga belum bisa memberikan kesimpulan ataupun hasil analisa," tutur Soerjanto.

Ia mengakui pihaknya tetap menunggu hasil dari cockpit voice recoder ( CVR) dan beberapa komponen yang dikirim KNKT ke Amerika dan United Kingdom.

"Karena dari komponen-komponen itu kita akan mengetahui kenapa sebetulnya, yang rusak yang mana, dari 13 parameter ini yang membikin perubahan-perubahan di auto throttle system," jelasnya.[]

baca juga:

Arief Munandar

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu