Ekonomi

Sri Mulyani Waspadai Perlambatan Penerimaan Pajak Hingga Akhir Tahun

Sri Mulyani Waspadai Perlambatan Penerimaan Pajak Hingga Akhir Tahun
Menteri Keuangan Sri Mulyani melaporkan pandangan pemerintah saat rapat paripurna ke-23 masa sidang V tahun 2021-2022 di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen MPR/DPR-DPD, Senayan, Jakarta, Selasa (24/5/2022). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, mengatakan, penerimaan pajak hingga Oktober 2022 mengalami pertumbuhan. Meski demikian, ia meminta pemerintah mewaspadai potensi perlambatan di waktu selanjutnya. 

Ia mengatakan, penerimaan pajak hingga hingga Oktober 2022 mencapai Rp1.448,17 triliun. Pertumbuhan penerimaan pajak sebesar 51,83 persen dengan capaian 97,52 persen dari target yang ada.

“Ini growth-nya 51,83 persen, naik yang luar biasa,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Konferensi Pers APBN KiTa November 2022, dikutip Jumat (25/11/2022).

baca juga:

Ia mengatakan, kinerja penerimaan pajak sangat baik hingga Oktober 2022 masih dipengaruhi tren peningkatan harga komoditas, pertumbuhan ekonomi yang ekspansif, basis rendah 2021, serta implementasi Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP).

Kinerja bulanan, kata Sri Mulyani, menunjukkan pertumbuhan pajak baik bulanan maupun kumulatif yang mengalami normalisasi. Peningkatan pertumbuhan Oktober 2022 disebabkan adanya pembayaran kompensasi BBM. Tanpa ini, pertumbuhan hanya 20 persen.

Bendahara Negara merinci, PPh Non-Migas Rp784,4 triliun atau sudah 104,7 persen dari target; PPN dan PPnBM Rp569,7 triliun atau sudah 89,2 persen dari target; PBB dan Pajak Lainnya Rp26,0 triliun atau 80,6 persen dari target; dan PPh Migas Rp67,9 triliun atau sudah 105,1 persen dari target.

“Memang kalau dilihat dari penerimaan pajak, kita bisa dan boleh berbesar hati karena ini menggambarkan kondisi perekonomian kita menunjukkan pemulihan aktivitas. Tentu di satu sisi karena harga komoditas namun kita juga lihat growth pertumbuhan ekonomi yang sudah mulai merata di berbagai sektor dan daerah yang memberikan sumbangan penerimaan pajak,” kata dia.

Adapun tren perlambatan ini diperkirakan akan berlanjut hingga akhir 2022 sejalan meningkatnya restitusi dan tingginya basis penerimaan akhir 2021. Sri Mulyani mengatakan sudah ada tanda-tanda pertumbuhan yang melandai.

“Bulanannya sudah menunjukkan tren agak melandai, kalau tadi growth-nya secara overall headline-nya di atas 50 persen yoy tapi month to month-nya sudah menggambarkan adanya kembali ke level yang tidak setinggi seperti headline-nya yaitu di 27 hingga 32 persen,” ujarnya.

Secara umum, mayoritas jenis pajak tumbuh positif pada Oktober 2022. PPh OP terkontraksi karena pada 2021 terdapat WP yang terlambat lapor SPT Tahunan OP yang tahun ini sudah tidak ada lagi. PPh OP terkontraksi 43,5 persen pada Oktober 2022.

Kemudian, PPh Badan masih tumbuh double digit 58,8 persen yoy ditopang pembayaran angsuran PPh Badan dan pelunasan ketetapan pajak.

Sementara itu, pembayaran DTP Valas disebut mendorong PPh 26 tumbuh positif di 28,4 persen yoy. Sedangkan PPh Final tumbuh positif didukung penjualan dan persewaan tanah/bangunan. PPh Final pada Oktober 2022 tumbuh 7,3 persen yoy.

Lebih lanjut, PPN DN juga tumbuh positif. Hal ini dikarenakan meningkatnya belanja pemerintah dengan melakukan kompensasi BBM. PPN DN tumbuh 29,2 persen pada Oktober 2022.

PPN Impor dan PPh 22 Impor juga tumbuh positif sejalan dengan aktivitas impor. Kedua jenis pajak ini masing-masing tumbuh 39,2 persen yoy dan 20,7 persen yoy.

“Ini adalah yang menggambarkan tren terkini bulan terakhir yang itu menunjukkan suatu pola lebih rendah atau korektif terhadap kenaikan yang luar biasa tinggi pada kuartal-kuartal sebelumnya,” ucap Sri Mulyani. []