Ekonomi

Sri Mulyani Tanggapi Gagasan Longgar Defisit 3 Persen

Menkeu: Saya selalu menekankan kebijakan fiskal dan instrumen fiskal ini semua adalah alat untuk mejaga level defisit dan hutang.

Sri Mulyani Tanggapi Gagasan Longgar Defisit 3 Persen
Menteri Keuangan Sri Mulyani (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Menteri Keuangan Sri Mulyani, menanggapi komisi XI Mukhamad Misbakhun dan beberapa anggota parlemen yang mendukung gagasan untuk melonggar deficit 3 persen, saat acara Economic Challenges eps Indonesia Kritis 2023 Selasa (8/2/22).

Anggota DPR RI setuju untuk memperpanjang keluasan batasan defisit anggaran 3 persen untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi.

Menurutnya saat ini kebijakan tersebut beroperasi di bawah UU No 2 Tahun 2020, di mana saat ini Indonesia menjalani masa transisi selama 3 tahun untuk menghadapi pandemic covid 19. Instrumen tersebut bukan menjadi tujuannya.

baca juga:

Instrument yang telah di sampaikan pada UU negara bahwa kebijakan fiskal ini, instrumennya menyediakan beberapa alat atau penataan utama, guna menjaga upaya stabilitas jika perekonomian menghadapi syok besar saat pandemic.

“Instrumen fiskal harus masuk untuk menyediakan sarana untuk melakukan counter sick rekel, dan kita juga harus menjaga menciptakan momentum pertumbuhan supaya perekonomian bisa kembali pulih, dan kedua adalah intrument fiscal ini menjadi penting, untuk menyediakan dukungan dari sisi distribusi ini terkait dengan ekonomi dan masyarakat memiliki peluang untuk bisa merasakan manfaat secara merata jadi kita ingin menguwudkan  tujuan yang tidak ada tertinggal,” kata Menteri  Keuangan Sri Mulyani, saat acara Mandiri Investment Forum 2022, Rabu (9/2/22).

Sri Mulyani mengatakan bahwa instrument ini harus dimanfaatkan untuk memastikan masyarakat termiskin dan masyarakat yang ada di daerah tertinggal dengan sarana kebijakan fiscal tersebut.

Pada instrument ini juga mewujudkan efesiensi alokasi untuk meminimalisasi distorsi di dalam ekonomi untuk mewujudkan perekonomian dengan cara yang sehat, lebih kompetetif, produktif dan lebih berkelanjutan.

“Saya selalu menekankan kebijakan fiskal dan instrumen fiskal ini semua adalah alat untuk mejaga level defisit dan hutang. Banyak masyarakat indonesia yang fokus pada si hutang atau pinjaman, tapi kita harus memastikan bahwa defisit dan hutang merupakan hasil dari desain kebijakan dan postur fiskal kita yang memungkinkan kita untuk mewujudkan utama yakni perekonomian dan kesejahteraan masyarakat dalam konteks ini,” jelas Sri Mulyani.

Ia menambahkan dengan pemulihan ekonomi yang cukup kuat, dan ingin mendapatkan menavigasi dengan cara yang baik, dan terukur serta berhati-hati, hal itu pasti bisa mencapai apa yang ingin diwujudkan.

“Oleh anggota parlemen yakni pemulihan ekonomi yang tidak bisa dikorbankan hanya kita akan melakukan konsolidasi fiskal, kita tidak akan mengorbankan, pemulihan ekonomi kita kan terus dukung.  Oleh karena itu defisit pada tahun 2022 dan mungkin pada  tahun 2023, akan di desain untuk terus menjaga pemulihan ekonomi jika momentum pemulihan tepat kuat diseluruh lintas,” pungkasnya.[]