Ekonomi

Sri Mulyani Sebut Gejolak Harga Komoditas Begitu Pengaruhi Perekonomian Indonesia, Kenapa?

Sri Mulyani Sebut Gejolak Harga Komoditas Begitu Pengaruhi Perekonomian Indonesia, Kenapa?
Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa (Tangakapan Layar YouTube)

AKURAT.CO Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan bahwa harga komoditas di tingkat global masih volatile atau bergejolak, karena masih tingginya harga komoditas yang beredar di pasaran yang pemakaiannya untuk sisi konsumsi seperti gas, batubara, minyak mentah, gandum, kedelai dan jagung.

Akan tetapi, ditengah gejolak harga tersebut, terdapat tendensi pada beberapa komoditas seperti penurunan harga seiring adanya perlemahan prospek global. Hal ini menurut Sri Mulyani merupakan resiko baru ditengah ketidakpastian global, karena akan menjadi multiplier effect pada Indonesia.

Diketahui, Harga gas alam yang sempat mengalami kenaikan sebesar USD9,0 per MMbtu pada Maret 2022, sempat mengalami penurunan ke USD5,6 per MMbtu, namun justru naik lagi ke USD7,9 per MMbtu.

baca juga:

Selain itu, pada harga batu bara naik adri USD421,0 per MT mengalami penurunan ke USD382,8 per MT, serta di ikuti adanya penurunan harga minyak mentah dari yang sebelumnya USD126 per barel menjadi USD98,2 per barel di bulan Agustus 2022.

Ekspor utama Indonesia dari kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO) mengalami kenaikan per Juli 2022 menjadi USD919,2 per ton, dari yang sebelumnya pada bulan April lalu yang sebesar USD866,6 per ton.

"Ini yang harus di waspadai karena memengaruhi perekonomian kita khususnya di Indonesia, baik dari adanya dari segi inflasi harga energi ataupun dari sisi inflasi pangannya," ujar Sri Mulyani.

Sri Mulyani masih mengingatkan perekonomian Indonesia sendirin masih rentan karena adanya ketidakpastian global seperti kondisi perang antara Rusia dan Ukraina dan ditambah adanya ketegangan tensi antara China dan Taiwan.

"Situasi ini ditambah dengan munculnya resiko baru, keadaan tekanan ekonomi global pasca pandemi itu situasinya tidak baik-baik saja, karena produksi, distribusi barang juga tidak bisa berjalan lancar atau tidak normal kembali," ujar Sri Mulyani pada konferensi pers APBN KiTa, Kamis (11/8/2022).

Selain itu, adanya tekanan inflasi dari sisi global juga masih tinggi yang menjadikan kenaikan suku bunga di banyak negara. Akibatnya banyak negara yang meningkatkan cost of fund nya dan memperketat likuiditas global.