Ekonomi

Sri Mulyani Ramal APBN Tahun 2022 Defisit Turun Tajam

Bendahara negara ini juga memperkirakan pendapatan negara pada akhir tahun mencapai Rp 2436,9 triliun atau 107,5 persen dari Perpres.


Sri Mulyani Ramal APBN Tahun 2022 Defisit Turun Tajam
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengikuti rapat kerja dengan Badan Anggaran di ruang nusantara II, Kompleks Parlemen MPR/DPR-DPD, Senayan, Jakarta, Selasa (31/5/2022). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) tahun 2022 turun tajam yaitu Rp732 triliun atau 3,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Dengan begitu, Indonesia berhasil mengurangi rencana penerbitan utang sebesar Rp 216 triliun. 

“Pembiayaan utang akan turun tajam hanya Rp 757 triliun, Rp 216 triliun lebih rendah dari APBN dari Perpres yang penurunan yang sangat tajam yaitu 22 persen,” ucap Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dalam Rapat Kerja Banggar DPR RI dengan Menkeu dan Gubernur BI, Jumat (1/7/22).

Bendahara negara ini juga memperkirakan pendapatan negara pada akhir tahun mencapai Rp2436,9 triliun atau 107,5% dari Perpres.

baca juga:

“Perpres sendiri sudah naik lebih dari Rp400 triliun ini masih akan tembuh diatas itu,” terangnya.

Menurutnya defisit yang sangat turun menggambarkan APBN menjadi relatif lebih sehat dan kuat dan juga seusai dengan strategi menghadapi kondisi yang sedang bergejolak terutama sektor keuangan dengan inflasi global dan kenaikan suku bunga.

“Harus terus kita mitigasi APBN 2022 dalam posisi yang cukup optimal untuk menjadi shock absorber di dalam mempertahankan daya beli rakyat dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi,” tambahnya.

Sekedar informasi, sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan bahwa dirinya mengusulkan defisit anggaran tahun 2023 sebesar 2,61 hingga -2,90 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Hal tersebut ia sampaikan dalam sidang paripurna DPR RI ke-22 mengenai Kebijakan Ekonomi Makro dan Pokok – Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF).

Dalam Undang-Undang Nomor 1 tahun 2022 telah memberikan respons dan landasan yang tepat dan kredibel dengan mengamanatkan desifit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dibawah 3 persen dari PDB. Untuk defisit APBN 2023 jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2022 yaitu sebesar 4,3 hingga 4,5 persen terhadap PDB. (APBN) dibawah 3 persen dari PDB.

“ Defisit kembali di bawah 3 persen dari PDB yaitu kisaran -2,61 hingga 2,90 persen PBD. Rasio utang dapat terkendali dalam batas manageable di kisaran 40,58 persen sampai dengan 42,42 persen relative sangat rendah dibandingkan berbagai negara baik di Asean maupun G20,” ucap Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam agenda Rapat Paripurna DPRI-RI Ke 22, Jumat (20/5/2022).[]