Ekonomi

Sri Mulyani: Ekonomi Sulit Bangkit karena Kelas Menengah Atas Pilih Menabung

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan hingga saat ini masyarakat kelas menengah atas masih menahan daya beli atau belanja.


Sri Mulyani: Ekonomi Sulit Bangkit karena Kelas Menengah Atas Pilih Menabung
Menteri Keuangan Sri Mulyani saat menjadi pembicara pada Seminar Pemberdayaan Perempuan di Dunia Kerja dalam rangkaian acara International Monetary Found di Bali International Convention Center, Nusa Dua, Bali, Selasa (9/10/2018). Dalam diskusi tersebut membahas peningkatan partisipasi perempuan dalam angkatan kerja dapat mendukung pertumbuhan, pembangunan, dan tujuan stabilitas negara, termasuk kebijakan yang diarahkan untuk membantu perempuan mengatasi teknologi baru. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan hingga saat ini masyarakat kelas menengah atas masih menahan daya beli atau belanja. Hal ini terlepas dari program vaksinasi yang sedang dijalankan.

Menurut Sri Mulyani, saat ini banyak kelas menengah yang masih belum melakukan belanja. Sehingga, ekonomi Indonesia sekarang masih terbilang lesu.

Ia menerangkan, hal ini tercermin dari jumlah simpanan masyarakat di sektor perbankan terus menanjak. Bank Indonesia mencatat dana pihak ketiga (DPK) atau dana masyarakat yang terkumpul di bank sebanyak Rp6.355,7 triliun pada Januari 2021, tumbuh 11,1 persen dibandingkan periode serupa tahun 2020.

"Kelas menengah atas mereka ada daya beli. Karena (mereka) memang hati-hati di mana setiap libur panjang selalu (angka kasus) Covid-19 menanjak," katanya saat Sarasehan Akselerasi Pemulihan Ekonomi Nasional-Temu Stakeholders di Bali, Jumat (9/4/2021).

Untuk itu, Sri Mulyani mengatakan satu-satunya mendorong daya beli kelas menengah atas adalah dengan mengontrol penyebaran Covid-19. Tujuannya, agar dapat memberikan kepercayaan diri bagi masyarakat.

Ia menyampaikan, pemerintah telah melakukan beberapa upaya untuk menekan penyebaran Covid-19 dengan penerapan PPKM Mikro hingga vaksinasi.

"Keinginan belanja itu terkait dengan mobilitas dan itu terkait Covid-19. Makanya vaksin pertama yang diperlukan adalah mengendalikan (angka kasus) Covid-19," ucapnya.

Seraya mengendalikan Covid-19, ia menerangkan pemerintah juga terus berupaya menekan dampak Covid-19 untuk berbagai sektor dengan memberikan stimulus lewat belanja pemerintah ataupun program pemulihan ekonomi nasional (PEN).

"Keseluruhan belanja pemerintah biar bisa membuat daya tahan ekonomi. Masalah paling rumit adalah sisi demand bagaimana kita terus mencoba meningkatkan lewat berbagai stimulus," ucapnya. []

Dhera Arizona Pratiwi

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu